SIDOARJO – Harapan warga Sidoarjo mendapatkan air bersih dengan biaya murah dari PDAM Delta Tirta Sidoarjo masih di awang-awang. Target belum terjelaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sidoarjo tahun 2024 – 2029.
Tarif murah menjadi muara pelayanan dari pemerintah daerah kepada warganya. Parameter murah sekian faktornya. Dari Ketersediaan air hingga jangkauan layanan.
Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo, Raymond Tara Iswahyudi, menyoroti serius bab ketersediaan air bersih. Baik dari alam seperti mata air maupun olahan.
“Kita tidak memiliki persediaan air bersih sendiri. Ini menjadi masalah fundamental yang harus segera dicarikan solusinya,” ujar Raymond Tara saat ditemui di Gedung DPRD Sidoarjo, Senin (7/7/2025).
Legislator asal PDI Perjuangan ini juga menyoroti mahalnya tarif air yang dinilai semakin memberatkan masyarakat. Belum lagi soal jangkauan layanan hingga kecepatan penyelesaian pengaduan dari pelanggan.
“Kami mendorong pengelolaan PDAM yang lebih efisien agar biaya bisa ditekan dan layanan meningkat. Pemerintah juga harus mempercepat akses air bersih ke wilayah-wilayah yang selama ini terabaikan,” imbuh Raymond Tara.

Ia menekankan pentingnya realisasi visi pelayanan publik yang mudah, murah, dan cepat. Namun menurutnya, prinsip tersebut selama ini masih sebatas slogan.
Penjelasan Tara menjabarkan sikap resmi fraksinya seperti dituangkan dalam Pandangan Umum Fraksi yang dibacakan dalam rapat paripurna beberapa hari sebelumnya.
Fraksi PDI Perjuangan meminta PDAM menetapkan target yang jelas dan realistis dalam lima tahun ke depan. Serta keterbukaan terkait alokasi anggaran APBD untuk pembiayaan sambungan MBR.
Penjelasan Tara sekaligus sikap resmi Fraksi PDI Perjuangan sebelumnya, menjadi keluhan umum pelanggan maupun masyarakat Sidoarjo.
Interaksi sosial warga Sidoarjo dan Surabaya tak ayal memunculkan perbandingan pelayanan PDAM dari kedua daerah tersebut. Dalam keseharian hingga mengemuka dalam ranah publik seperti di media sosial.
Sebagai perbandingan, PDAM Sidoarjo dan Surabaya sama-sama beroperasi sejak era 70-an. PDAM Sidoarjo 1978 dan Surabaya 1976.
Tarif untuk rumah tangga, PDAM Sidoarjo mematok tarif bawah Rp 6.213 meter per kubik dan atas Rp 17.174.
Sementara Surabaya, Rp 2.600 hingga Rp 7.000 dengan memperhatikan kondisi rumah pelanggan mengacu pada beberapa kriteria. Seperti letak rumah di jalan dengan lebar tertentu, daya listrik terpasang, luas bangunan rumah, hingga NJOP-nya.
Untuk jangkauan layanan, PDAM Sidoarjo dalam kisaran 30-40 persen, sementara PDAM Surabaya mengklaim 100 persen.
Bisa Murah, Jika…
Direktur Utama Perumda Delta Tirta Sidoarjo, Dwi Hary Soeryadi, mafhum jika diperbandingkan dengan PDAM Surabaya.
“Sering ditanyakan, kenapa tarif di PDAM Sidoarjo lebih mahal daripada Surabaya? Ya karena kami belum efisien. Kalau kapasitas kami 6.000 liter per detik dan jaringan bersih 90 persen, tarif bisa jauh lebih murah,” kata Dwi.
Alih-alih merancang target tarif murah dalam waktu dekat. Saat ini, PDAM Sidoarjo bahkan khawatir dengan kondisi keuangannya.
Menurut Dwi Hary Soeryadi, pihaknya khawatir merugi apabila terus ditarget menyumbang pendapatan asli daerah (PAD).
“Kalau PAD-nya tahun ini tetap 40 persen setiap tahunnya, kami akan minus Rp 35 miliar pada tahun 2029. Itu membuat kami tidak mungkin (sulit) bisa berkembang,” ujar Dwi saat rapat bersama Pansus I DPRD Sidoarjo di gedung dewan, Sabtu (5/7/2025).
Begitupun jika tahun ini target yang dicanangkan 40 persen, kemudian tahun berikutnya turun 20 persen dan seterusnya, maka hingga 2029, juga tetap akan minus. Namun angka minusnya lebih kecil dibandingkan 40 persen yang dicanangkan setiap tahunnya.
“Jadi minus Rp 10 miliar. Nah jika tahun ini PAD-nya hanya 20 persen hingga 2029, maka masih (bisa) surplus. Ini sebagai gambaran bahwa kalau PDAM mau berkembang, seharusnya dibebaskan dari PAD. Karena cakupan layannya masih jauh di bawah 80 persen,” katanya.
Ia menjelaskan, berdasarkan Permendagri Nomor 690, PDAM dengan cakupan layanan di bawah 80 persen seharusnya tidak diwajibkan menyetor PAD, karena masih berada dalam fase pengembangan. Saat ini, cakupan layanan PDAM Delta Tirta baru mencapai 34 persen, jauh di bawah PDAM Surabaya yang hampir mencapai 100 persen.
Untuk bisa mengejar target cakupan layanan 100 persen pada tahun 2042, PDAM Sidoarjo membutuhkan investasi sebesar Rp 137,5 miliar per tahun dari APBD. Tanpa penyertaan modal tersebut, Dwi menyatakan impian itu hanya akan menjadi “mimpi”.
“Kami butuh tambahan 25.000 sambungan rumah tangga (SR) baru per tahun mulai 2025. Tapi tanpa dana dari APBD, itu tidak akan tercapai. Kalau hanya mengandalkan setoran pelanggan dan PAD, kami tidak akan sampai ke sana,” tambahnya.
Kehilangan Air
Sementara, lanjut Dwi Hary Soeryadi untuk menekan tingkat kehilangan air (TKA) dengan target 25 persen di tahun 2029, maka PDAM Delta Tirta membutuhkan anggaran sebanyak Rp 300 miliar.
“Jadi, hanya Rp 75 miliar per tahun. Itu mimpi kami bapak.
Saat ini, PDAM juga menjalankan program unggulan PDAM mudah dan murah. sambungan rumah tangga gratis sebanyak 3.500 SR per tahun, terdiri dari 2.500 SR yang dibiayai PDAM dan 1.000 SR dari APBD, dengan biaya per sambungan mencapai sekitar Rp 11 juta.
Namun, program ini baru menyasar peningkatan sekitar 17.500 sambungan hingga 2029, yang menurut perhitungan hanya akan menambah cakupan menjadi 208.000 sambungan dari total kebutuhan 776.790 sambungan di tahun 2042 agar layanan air bersih menjangkau seluruh warga Sidoarjo.
“target nya 316.790 sambungan ditahun 2029. Butuh Rp. 137,5 miliar per tahun untuk program cakupan layanan 100 persen. Tapi untuk TKA nya itu butuh Rp.75 miliar per tahun dengan total Rp. 300 miliar,” tandasnya. (hd/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













