Minggu
31 Mei 2026 | 11 : 57

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Trisakti Bung Karno, Gen Z dan Meme Kedaulatan

PDIP-Jatim-Dr.-Sholikh-24082025

Oleh Dr. Sholikh Al Huda*

BUNG KARNO pernah berpesan soal Trisakti: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Itu tahun 1963. Masalahnya, anak muda zaman sekarang, khususnya Gen Z, lebih sering hafal harga skin mobile legends daripada isi pidato Bung Karno.

Tapi jangan salah, kalau Trisakti itu ditafsir ulang pakai kacamata zaman digital, bisa jadi cocok banget buat bekal generasi TikTok menghadapi dunia.

Berdaulat secara Politik: Dari TPS ke Timeline

Dulu kedaulatan politik identik dengan berdiri tegak di hadapan bangsa lain. Sekarang, kedaulatan politik bisa dimulai dari hal sederhana: nggak gampang termakan hoaks. Gen Z yang sehari-hari hidup di timeline tahu betul betapa derasnya arus politik receh—dari debat capres sampai perdebatan mana yang lebih besar: cicak atau buaya.

Masalahnya, algoritma medsos sering kali bikin kita jadi budak tren. Artinya, kedaulatan politik Gen Z jangan cuma ikut-ikutan trending, tapi berani bikin narasi sendiri. Bikin thread kritis, bikin podcast alternatif, atau minimal bikin meme politik yang lebih cerdas dari sekadar plesetan murahan. Karena di zaman sekarang, meme bisa lebih tajam daripada editorial koran.

Jadi, kalau Bung Karno dulu orasi pakai mikrofon di Stadion Gelora Bung Karno, anak muda hari ini bisa “orasi” lewat konten TikTok berdurasi 59 detik. Bedanya, kalau salah omong, siap-siap di-cancel.

Berdikari secara Ekonomi: Dari UMKM ke Start-up Receh

“Berdikari” itu artinya nggak menggantungkan diri pada bangsa lain. Kalau diterjemahkan ke zaman sekarang, artinya jangan terlalu bergantung pada sama promo gratis ongkir. Karena kalau Shopee sama Tokopedia tiba-tiba ngambek, banyak UMKM yang bisa megap-megap.

Gen Z sebenarnya punya peluang emas. Banyak yang udah mulai jualan baju thrifting, buka jasa desain logo, sampai jadi freelancer internasional. Ini bentuk berdikari: menciptakan peluang, bukan sekadar nunggu lowongan CPNS.

Tapi, berdikari itu bukan berarti semua harus jadi CEO start-up. Kalau semua jadi CEO, nanti siapa yang beli produknya? Berdikari di sini lebih ke sikap: berani bikin nilai tambah. Misalnya, bukan cuma jadi reseller skincare Korea, tapi bikin produk lokal yang ramah lingkungan. Atau bukan cuma jadi penonton e-sport, tapi bikin tim sendiri dan dapat sponsor.

Intinya, berdikari di era Gen Z bukan sekadar cari cuan, tapi cari cara biar nggak jadi pasar abadi buat produk luar. Masa selamanya kita cuma jadi konsumen Indomie—eh, itu produk lokal sih, jadi aman.

Berkepribadian dalam Kebudayaan: Dari Wayang ke Reels

Bagian paling susah dari Trisakti: berkepribadian dalam kebudayaan. Karena kalau ngomong budaya, Gen Z itu hidupnya lintas batas. Playlist Spotify isinya campur: ada BTS, Taylor Swift, sampai dangdut koplo. Tapi apakah itu bikin kita kehilangan identitas? Belum tentu.

Justru tantangan Gen Z adalah bikin budaya lokal tetap keren di mata global. Bayangkan wayang masuk ke animasi Netflix, atau batik dipakai musisi hip-hop internasional. Itu baru berkepribadian dalam kebudayaan.

Contoh nyata sudah ada. Musik dangdut koplo masuk ke festival dunia. Game lokal kayak “DreadOut” dipuji di luar negeri. Artinya, berkepribadian dalam budaya bukan berarti harus ngotot pakai jarik tiap hari, tapi gimana caranya budaya lokal bisa hidup di ruang digital.

Karena jujur saja, kalau masih pakai definisi lama, anak muda sekarang bakal dicap “nggak berbudaya” gara-gara lebih sering bikin dance challenge daripada latihan karawitan. Padahal, siapa tahu dance challenge itu justru jadi pintu masuk buat mengenalkan budaya kita ke dunia.

Trisakti: Dari Retorika ke Aksi Receh tapi Serius

Kalau dipikir-pikir, Tri Sakti itu kayak “life hack” buat Gen Z. Berdaulat secara politik itu sama dengan jangan jadi korban hoaks + berani bikin narasi. Berdikari secara ekonomi itu sama dengan ‘jangan nunggu diselamatkan, tapi ciptakan peluang. Berkepribadian dalam kebudayaan itu sama dengan jangan minder sama budaya lokal, justru bikin jadi trending topic.

Masalahnya, banyak orang masih menganggap Trisakti itu sekadar jargon sejarah. Padahal, kalau ditarik ke kehidupan sehari-hari, prinsip ini bisa sederhana banget. Misalnya, nolak ikutan toxic fandom itu bentuk kedaulatan politik. Bikin usaha kopi sachet sendiri ketimbang ngutang di paylater itu berdikari ekonomi. Nge-remix lagu daerah jadi konten viral tanpa kehilangan rasa aslinya itu berkepribadian dalam budaya.

Dengan cara-cara kecil itu, Gen Z bisa menghidupkan Trisakti tanpa harus orasi di podium. Bung Karno pernah berkata, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.”

*Direktur Pusat Studi Islam dan Pancasila (PuSIP) & Ketua Pusat Forum Dosen Indonesia (FoRDESI) & Pengkaji Pemikiran Bung Karno

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

PDI Perjuangan Ponorogo Target Pertahankan Kemenangan dan Tambah Kursi di Pemilu 2029

PONOROGO – Wakabid Ideologi dan Kaderisasi DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Bambang Yuwono, menegaskan pentingnya ...
EKSEKUTIF

Rijanto Akui Infrastruktur Jalan Jadi Pekerjaan Rumah Besar Pemkab Blitar

Bupati Blitar Rijanto mengakui perbaikan infrastruktur jalan masih menjadi pekerjaan rumah besar Pemkab Blitar. ...
KRONIK

Tari Bujang Ganong Buka Pelantikan PAC PDI Perjuangan se-Kabupaten Ponorogo

PONOROGO – Tari Bujang Ganong tampil memukau sebagai pembuka dalam acara pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI ...
KRONIK

Harga Bahan Pangan Naik, Wiwin Sumrambah Sebut Faktor Global hingga Cuaca Ekstrem

JOMBANG – Kenaikan harga sejumlah bahan pangan di Jawa Timur menjadi sorotan DPRD Jawa Timur.Anggota Fraksi PDI ...
KRONIK

Deni Wicaksono Minta Kader PDIP Aktif di Medsos, Pertarungan Politik Terjadi di Dunia Maya

PONOROGO – Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Deni Wicaksono, meminta seluruh kader Partai untuk aktif ...
KRONIK

Deni: PDI Perjuangan Memberi Anak Muda Ruang dan Tanggung Jawab Berjuang Bersama

PONOROGO – Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Deni Wicaksono, mengingatkan kader PDI Perjuangan untuk tidak ...