oleh

Tingkat Kepuasan Publik kepada Jokowi Makin Tinggi

pdip-jatim-jokowi-diwawancaraiJAKARTA – Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, dari hasil sejumlah lembaga survei, kepuasan publik terhadap pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla cukup tinggi, mencapai 66 hingga 68 persen.

Tingkat kepuasan ini, sebut Pramono, melebihi dari apa yang diperoleh Jokowi saat Pilpres 2014 lalu.

Pencapaian itu, menurut Pramono, tidak mudah. Sebab, setelah Jokowi terpilih menjadi Presiden, Indonesia dihadapkan pada situasi ekonomi global yang lesu.

Oleh karena itu, jelasnya, kerja Presiden Jokowi pada awal pemerintahan adalah membenahi regulasi ekonomi.

“Alhamdulillah, Indonesia pada periode ini bisa tumbuh jadi 5,18 persen. Pertumbuhan ekonomi kita dibandingkan dengan kawasan lainnya relatif stabil dan cukup tinggi,” kata Pramono Anung, di Jakarta, Rabu (19/10/2016).

Mantan Sekjen PDI Perjuangan ini menambahkan, saat ini fokus presiden beralih ke perwujudan reformasi hukum. Salah satu bagiannya adalah dengan membentuk tim pemberantasan pungutan liar yang diberi nama ‘Saber Pungli’ alias Sapu Bersih Pungutan Liar.

Terkait pernyataan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah bahwa penerapan revolusi mental selama dua tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla hanyalah retorika, kata Pramono, bukan masalah.

Menurut dia, Fahri memang hobi melontarkan kritik. “Kalau Fahri Hamzah itu tidak mengritik, pemerintah juga tidak nyaman. Jadi kami harap, selalu mengritik,” ujar Pramono sembari tersenyum.

Dia menyebutkan, yang merasakan perubahan mental itu adalah rakyat Indonesia, bukan siapa-siapa.

Pemerintah sudah berupaya mendorong perubahan mental di masyarakat. Salah satunya dengan menciptakan kemudahan dalam pelayanan publik dan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.

Yang baru saja diterapkan pemerintah, jelas Pramono, yakni penerapan bahan bakar minyak (BBM) di Papua menjadi satu harga saja.

“Bagaimana bisa di Papua harga BBM Rp 6.500 per liter? Memang itu harga di SPBU dan nantinya di Papua, yang harganya dulu hampir Rp 50.000 lebih mudah-mudahan bisa dibawah Rp 10.000 per liter,” ujar Pramono.

“Maka dengan demikian, inilah yang disebutkan oleh Presiden bahwa bangsa ini menjadi kompetitif, jadi bangsa pemenang,” tambah dia. (goek/*)