Jumat
11 September 2026 | 12 : 05

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Semangat Kepahlawanan Pangeran Diponegoro di Nyadran Kedunggalar dan Benteng Pendem Ngawi

IMG-20230714-WA0019_copy_720x405

Pasca-perang, dua prajurit Diponegoro, Ki Karang dan Ki Sungsang membuka kawasan tersebut seperti legenda setempat.

MASYARAKAT Ngawi masih menjunjung tinggi tradisi. Di berbagai kegiatan masyarakat, masih kerap ditemukan perpaduan acara kemasyarakatan dan tradisi yang berkembang di masyarakat tempatan.

Seperti misalnya bersih desa, nyadran, dan lainnya yang masih tetap lestari di Negeri Ngawi Ramah, slogan daerah lumbung gabah itu.

Di Kecamatan Kedunggalar, baru-baru ini juga mengadakan bersih desa. Masyarakat setempat kerap menyebutnya upacara nyadran. Sebuah ritual yang dipadukan dengan kegiatan seni budaya untuk menyambut hari jadi Desa Kedunggalar, Kamis  (13/7/2023).

Acara nyadran di Kedunggalar, dimulai dengan iring-iringan gunungan hasil pertanian masyarakat. Ada sayur mayur, buah-buahan, hingga jajanan pasar. Gunungun itu, kemudian diarak menuju lapangan kecamatan setempat.

Para pengiringnya, warga setempat yang mengenakan baju adat. Baju batik lurik yang dipadu-padankan dengan blangkon hitam membalut kepala.

Setiba di lapangan kecamatan, gunungan hasil bumi telah ditunggu ribuan orang. Sebelum dikepung, diadakan terlebih dahulu doa bersama.

Ada juga satu sesi dimana seorang tetua desa menceritakan sejarah Desa Kedunggalar. Tetua desa mengisahkan, jika Kedunggalar berdiri tidak lepas dari peran Pangeran Diponegoro. Atau lebih tepatnya dua prajurit dari Diponegoro pasca perang Jawa melawan VOC.

Dua prajurit Diponegoro itu bernama Ki Karang dan Ki Sungsang. Keduanya menepi setelah Diponegoro tertangkap sebab tipu daya VOC saat perang Jawa. Mereka menepi di sebuah daerah yang kini bernama Kedunggalar.

Nama Kedunggalar sendiri diambil dari Kedung dan Galar. Kedung yang berarti sungai dan Galar (papan bambu) diambil sebab ditemukannya banyak ikan Wader Pari yang berenang membentuk seperti galar.

“Nanti jika sudah tiba kedamaian, daerah ini akan diberi nama, Kedunggalar,” kata tetua desa Kedunggalar mengisahkan asal usul desa-nya.

Sejumlah tokoh juga menghadiri acara nyadran di Kedunggalar. Plh Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim, Ir. Budi Sulistyono (Kanang), Bupati dan Wakil Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono – Dwi Rianto Jatmiko, Ketua DPRD Heru Kusnindar, turut menghadiri kegiatan tiap tahun tersebut.

Plh Ketua DPD Jatim, Kanang saat memberikan sambutan menyatakan, Kabupaten Ngawi lekat dengan Pangeran Diponegoro. Selain kisah asal-usul Kedunggalar, berdirinya Benteng Pendem atau Van Den Bosch di Ngawi juga masih ada kaitannya dengan Pangeran Kesultanan Yogyakarta itu.

Benteng Pendem didirikan VOC untuk menghalau perlawanan rakyat dan pasukan Diponegoro.

“Kabupaten Ngawi tidak terlepas dari Pangeran Diponegoro. Hebatnya Ngawi tidak terlepas dari Pangeran Diponegoro. Ini yang harus kita syukuri bersama,” kata Kanang di hadapan ribuah rakyat.

Kanang mengajak masyarakat untuk selalu mengenang jasa-jasa para pahlawan. Sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia juga terjadi di Kabupaten Ngawi.

Sisa-sisa perjuangan masih dapat dilihat, seperti Benteng Pendem, dan cerita masyarakat tentang pasukan Diponegoro yang membuka pemukiman di beberapa daerah di Kabupaten Ngawi.

“Maka kita harus mengingatnya. Adanya Benteng Pendem juga tidak terlepas dari nama besar Pangeran Diponegoro,” ucap Kanang, yang pernah menjadi Bupati Ngawi dua periode tersebut.

Sementara itu, Bupati Kader PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi Ony Anwar Harsono berharap, masyarakat Kedunggalar akan semakin sejahtera. Dikaruniai tanah yang subur makmur, hasil bumi yang gemah ripah loh jinawi.

“Insya Allah akan senantiasa diberikan berkah untuk kita semua,” harap Bupati Ngawi saat bersih desa di Kedunggalar.

Soal cerita rakyat tentang sejarah Desa Kedunggalar, Bupati Ony menyampaikan apresiasi-nya. Menurutnya, cerita rakyat bisa menjadi media informasi sejarah bagi generasi muda. Sehingga bisa terus dilestarikan, dan menjadi cerita turun menurun sebagai jati diri masyarakatnya.

“Supaya generasi penerus kita, mengetahui asal usul, jati diri desanya, kemudian bisa melestarikannya apa yang menjadi potensi desa-nya, sehingga desa-nya bisa makmur dan mandiri,” kata Kanang.

“Selamat hari jadi Desa Kedunggalar, semoga seluruh warga masyarakatnya senantiasa terus diberikan kesehatan, umur panjang, dan guyub rukun,” harap Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono. (amd/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

HEADLINE

Puan Desak Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda Dimaksimalkan, Keluarga Jangan Diabaikan

Puan Maharani meminta pemerintah memaksimalkan pencarian lima jurnalis yang hilang di Selat Sunda sekaligus ...
LEGISLATIF

Agar Obat Bahan Alam Masuk JKN, Indriani Dorong Ekosistem Inovasi Jatim Diperkuat

SURABAYA – Agar obat bahan alam hasil riset Jawa Timur memiliki peluang masuk dalam sistem pelayanan kesehatan yang ...
KRONIK

Wali Kota Eri Cahyadi Siapkan Mitigasi Hadapi Sesar Surabaya dan Sesar Waru-Juanda

SURABAYA – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, memperkuat sistem mitigasi bencana menyusul fakta bahwa wilayah Kota ...
KABAR CABANG

Tak Menunggu Diminta, PDIP Trenggalek Kirim Air Bersih ke Pelosok Panggul-Munjungan

TRENGGALEK – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek terus bergerak menembus pelosok desa untuk membantu warga yang ...
LEGISLATIF

Fraksi PDIP Jatim Dorong Digital Dashboard Jadi Dasar Kebijakan Transportasi

Fraksi PDIP Jatim mendorong Digital Dashboard diperkuat sebagai instrumen memantau transportasi, mengolah data, dan ...
KRONIK

Anas Karno Minta Pemkot Surabaya Jemput Bola Layani IKD di Pemukiman Warga

SURABAYA – Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya, Anas Karno, mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ...