Selasa
23 Juni 2026 | 10 : 56

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Pendaftar SD Sekolah Rakyat Ngawi Baru Tiga Siswa, Pemkab Jajaki Opsi Libatkan Anak Panti Asuhan

IMG-20260623-WA0039_copy_1218x812

NGAWI – Proses penjaringan calon siswa Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Ngawi terus berjalan. Hingga Senin (22/6/2026), jumlah pendaftar untuk jenjang SMP tercatat sebanyak 90 calon siswa, jenjang SMA sebanyak 93 calon siswa, sementara jenjang SD baru terdapat tiga calon siswa.

Sesuai jadwal, penetapan siswa Sekolah Rakyat akan dilaksanakan pada 23 Juni 2026 mendatang.

Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengakui, rendahnya minat pendaftar untuk jenjang SD menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan program tersebut.

“Memang kendalanya di masyarakat, dari hasil rundingan Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, dan Kementerian, untuk SD ini karena anak-anak masih kecil,” ujar Bupati Ony, Selasa (23/6/2026).

Menurutnya, sebagian besar sasaran penerima manfaat Sekolah Rakyat berasal dari kelompok desil 1 dan desil 2. Namun, sebagian orang tua masih memiliki kekhawatiran ketika anaknya harus mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat yang menerapkan sistem tinggal di asrama.

“Kadang orang tua merasa kalau anak ditaruh di SR itu seperti menitipkan anak di pondok. Beberapa masih tarik ulur,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Ngawi menyiapkan alternatif dengan mengusulkan agar siswa jenjang SD Sekolah Rakyat dapat diisi oleh anak-anak dari panti asuhan yang ada di Kabupaten Ngawi.

“Kita coba mekanisme kemarin, kalau kemudian diisi oleh anak-anak kita di panti asuhan yang ada di Kabupaten Ngawi, apakah itu diperkenankan. Kalau diperkenankan kita akan mengajukan izin kepada Kementerian Sosial,” kata Bupati Ony.

Ia menjelaskan, usulan tersebut dilakukan karena petunjuk teknis (juknis) Sekolah Rakyat saat ini masih mengatur sasaran utama dari kelompok desil 1 dan desil 2.

“Juknisnya belum ada. Juknisnya hanya desil 1 dan desil 2. Dari Dinas Sosial setelah disosialisasikan, yang mau baru tiga itu,” ungkapnya.

Bupati Ony menilai, memaksakan kuota siswa tanpa mempertimbangkan kesiapan dan kemauan peserta didik justru dapat mengurangi tujuan utama dari program Sekolah Rakyat.

“Kalau dipaksakan, ruh daripada menitipkan anak di SR jadi kurang maksimal,” katanya.

Menurut Bupati Ony, anak-anak dari panti asuhan dinilai memiliki kondisi yang lebih memungkinkan untuk mengikuti sistem pendidikan Sekolah Rakyat karena sebagian dari mereka membutuhkan dukungan pendidikan dan pengasuhan.

“Kalau dari panti asuhan kan beda. Mereka memang tidak memiliki orang tua, mungkin hanya ibu atau ayah saja. Ketika kita komunikasikan dengan teman-teman di panti asuhan juga lebih mudah karena di SR tempatnya representatif, pendidikannya dapat, dan seterusnya,” pungkasnya. (amd/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Pendaftar SD Sekolah Rakyat Ngawi Baru Tiga Siswa, Pemkab Jajaki Opsi Libatkan Anak Panti Asuhan

NGAWI – Proses penjaringan calon siswa Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Ngawi terus berjalan. Hingga Senin ...
KRONIK

Perkuat SDM Kesehatan, Bupati Sumenep Jalin Kerja Sama dengan FK UTM

SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep berkomitmen memperkuat sumber daya manusia (SDM) dalam bidang ...
KRONIK

Program Selantang Banyuwangi, Ketika Sekolah Tidak Mengenal Batas Usia

BANYUWANGI – Usia Harapan Hidup (UHH) penduduk Banyuwangi terus meningkat, dari 74,13 tahun pada 2024 menjadi 74,43 ...
LEGISLATIF

Puan Desak PLN Transparan soal Pemadaman Listrik Bergilir, Minta Dampak ke Masyarakat Segera Dimitigasi

Ketua DPR RI Puan Maharani meminta PLN transparan menjelaskan penyebab pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa ...
EKSEKUTIF

Pemkot Surabaya Kerahkan 31 Armada Tangani Genangan Usai Hujan Deras Dua Hari

Pemkot Surabaya mengerahkan 31 armada untuk menangani genangan akibat hujan deras selama dua hari. Wali Kota Eri ...
EKSEKUTIF

Cegah Pernikahan Dini, Pemkab Lamongan Cermati 1.228 Pengajuan Dispensasi Kawin

LAMONGAN – Pemerintah Kabupaten Lamongan terus menunjukkan komitmen nyata dalam menekan angka perkawinan anak di ...