Salwa Azzahra, kader muda PDIP Kabupaten Malang, memilih terjun ke politik untuk menjembatani Gen Z agar tidak apatis.
MALANG — Di tengah anggapan bahwa Generasi Z cenderung menjauh dari politik, nama Salwa Azzahra justru muncul dari arah sebaliknya.
Di usianya yang baru 27 tahun, ia dipercaya menjadi Sekretaris PAC PDI Perjuangan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Bukan sekadar simbol anak muda di struktur partai, tapi bagian dari wajah baru politik yang pelan-pelan berubah.
Di balik jabatan itu, ada perjalanan yang tidak instan.
Dari Teori ke Realita
Salwa datang dari dunia akademik. Ia menuntaskan pendidikan sarjana hingga magister di bidang hukum. Bahkan, rencana melanjutkan ke jenjang doktoral sudah ia siapkan.
Namun, di titik tertentu, ia merasa ada yang kurang.
“Teori di buku tidak sesederhana itu diterapkan di lapangan,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana, tapi menjadi titik balik.
Dari ruang kelas ke ruang masyarakat.
Dari teori ke praktik.
Ia memilih masuk ke dunia politik—bukan untuk mencari panggung, tapi untuk menjawab kegelisahannya sendiri.
Menemukan ‘Rumah’
Perjalanannya kemudian bermuara di PDI Perjuangan. Bagi Salwa, partai bukan sekadar kendaraan politik, tapi ruang yang menurutnya selaras dengan nilai yang ia yakini.
Ia melihat ada keberpihakan—pada wong cilik, pada mereka yang sering kali hanya menjadi angka dalam statistik.
Sejak bergabung pada 2022, ia mulai belajar membaca politik dari dekat. Bukan dari buku, tapi dari realitas sehari-hari.
Membuka Ruang untuk Gen Z
Sebagai bagian dari Gen Z, Salwa memahami satu hal: jarak antara anak muda dan politik itu nyata.
Bukan karena anak mudanya tidak peduli.
Tapi karena politik sering terasa jauh, kaku, dan tidak ramah.
Di situlah ia ingin mengambil peran.
“Saya ingin jadi jembatan agar Gen Z tidak lagi apatis,” katanya.
Ia percaya, politik harus dihadirkan sebagai ruang belajar yang terbuka—bukan ruang eksklusif yang hanya dipahami segelintir orang.
Politik yang Membumi
Bagi Salwa, kerja partai bukan soal jargon. Tapi tentang hadir di tengah masyarakat.
Tentang mendengar, bukan sekadar berbicara.
Tentang mengabdi, bukan sekadar tampil.
Ia mengutip Bung Karno, seolah menegaskan keyakinannya.
“Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”
Baginya, kalimat itu bukan sekadar kutipan. Tapi panggilan.
Kaderisasi yang Mulai Terlihat
Kehadiran Salwa bukan berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari proses kaderisasi yang mulai menunjukkan arah.
Sekretaris DPC PDIP Kabupaten Malang, Abdul Qodir, menegaskan bahwa partai kini memberi ruang lebih luas bagi kader muda dengan latar belakang intelektual.
“Kami tidak hanya melihat loyalitas, tapi juga kapasitas akademis dan intelektual,” ujarnya.
Menurutnya, kombinasi antara semangat muda dan keilmuan menjadi energi baru dalam membangun daerah.
Lebih dari Sekadar Representasi
Di Dau, Salwa bukan hanya “anak muda yang ditempatkan”.
Ia adalah bagian dari eksperimen politik yang lebih besar: bagaimana anak muda tidak hanya hadir, tapi juga berperan.
Ia masih di awal jalan.
Masih banyak yang harus dibuktikan.
Tapi setidaknya, satu hal sudah jelas—
di tengah stigma apatisme, selalu ada anak muda yang memilih untuk terlibat.
Dan dari Dau, cerita itu mulai ditulis. (ull/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










