PAMEKASAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Pamekasan, Nadi Mulyadi, menyoroti pengelolaan retribusi pasar oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) yang capaiannya tidak sesuai target.
Target pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi pasar di tahun anggaran 2025 adalah Rp3,4 miliar, sementara realisasinya hanya Rp2,3 miliar. Dengan demikian, masih kurang Rp1,1 miliar.
“Apa pun itu kalau sudah menjadi target, harusnya tercapai, karena target itu realistis,” ujar Nadi.
Anggota Komisi II DPRD Pamekasan ini menjelaskan, penetapan target PAD telah mempertimbangkan berbagai hal. Harapannya, semua potensi pendapatan bisa terkelola dengan baik.
“Apa pun kondisinya, kalau sudah menjadi target harusnya dipenuhi. Kalau hanya sekadar mencatat, itu tidak mencerminkan birokrasi,” tandas Sekretaris DPC PDI Perjuangan Pamekasan itu.
Sementara Kepala Bidang Pasar Disperindag Pamekasan, Handiko Bayuadi, mengatakan bahwa mengacu pada target awal, capaian retribusi pasar 97 persen. Namun, seiring adanya perubahan target dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK), persentase capaian tersebut turun secara signifikan menjadi 67 persen.
“Yang awalnya (target PAD, red) Rp2,4 miliar dinaikkan menjadi Rp3,4 miliar,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan target tersebut dinilai sangat memberatkan, mengingat keterbatasan potensi pasar yang ada. Dari total 12 pasar yang dikelola Pemkab Pamekasan, hanya tujuh yang benar-benar menjadi penopang utama pendapatan asli daerah.
“Tujuh itu, Pasar Keppo, Waru, Pakong, 17 Agustus, Palengaan, Kolpajung, dan Pasar Gurem. Itu pun masih terbagi dengan adanya hari pasaran,” jelasnya.
Kegagalan capaian PAD tersebut disebabkan beberapa faktor. Di antaranya, faktor alam, adanya penyakit hewan hingga banyaknya pedagang yang pindah berjualan ke trotoar. Juga banyak pedagang tidak berjualan saat musim tanam dan panen tembakau.
“Sehingga, semua itu jelas mengurangi pendapatan PAD kami. Jadi dinamika pasar komplet,” terangnya. (set)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













