MALANG – DPC PDI Perjuangan Kota Malang mempercepat konsolidasi organisasi dengan menuntaskan struktur kepengurusan hingga tingkat Anak Ranting pada September 2026. Penataan mesin partai dari tingkat bawah tersebut menjadi bagian dari persiapan menghadapi kontestasi politik Pemilu 2029, sekaligus upaya mengembalikan kejayaan dengan target 12 kursi DPRD Kota Malang.
Langkah itu dilakukan melalui sosialisasi dan penyerahan SK kepengurusan Pengurus Anak Cabang (PAC) dan Ranting masa bakti 2026–2031, Rabu (26/8/2026) malam.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang Amithya Ratnanggani Siraduhitta mengatakan, penyelesaian Musyawarah Ranting (Musran) menjadi pijakan awal untuk menata infrastruktur partai selama lima tahun ke depan.
“Ini adalah tugas awal kami dalam menyusun struktur organisasi bagi seluruh rekan-rekan Ranting dan PAC hingga level Anak Ranting untuk masa bakti 2026–2031,” ujar Amithya, dikutip Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, penataan organisasi tidak sekadar menyelesaikan administrasi kepengurusan. Struktur partai hingga tingkat paling bawah harus menjadi kekuatan utama dalam menjalankan kerja politik dan membangun kembali kepercayaan masyarakat.
Karena itu, DPC PDI Perjuangan Kota Malang menargetkan seluruh struktur hingga tingkat Anak Ranting dapat dituntaskan pada September mendatang.
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Malang Wanedi menegaskan jajaran pengurus harus bergerak cepat menyelesaikan penataan organisasi tanpa penundaan.

“September ini kami targetkan seluruh kepengurusan hingga tingkat Anak Ranting sudah tuntas. Setelah itu, fokus kita beralih pada penyelesaian badan dan sayap partai,” kata Wanedi.
Menurut Wanedi, keberadaan badan dan sayap partai diperlukan untuk memperluas ruang partisipasi masyarakat sekaligus menampung potensi kader.
Infrastruktur organisasi yang kuat hingga tingkat paling bawah, kata dia, menjadi fondasi penting untuk menghadapi berbagai kontestasi politik, mulai Pemilu Legislatif, Pilkada hingga Pilpres 2029.
Selain memperkuat struktur, DPC PDI Perjuangan Kota Malang juga menyiapkan pendekatan politik yang menyesuaikan karakter masyarakat perkotaan.
Amithya mengatakan perubahan demografi Kota Malang membuat pemetaan preferensi politik masyarakat harus dilakukan secara lebih objektif dan presisi.
Salah satu kelompok yang menjadi perhatian adalah pemilih muda, khususnya Generasi Z.
“Anak muda tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek politik, tetapi harus diberi ruang sebagai subjek sekaligus penggerak perubahan,” tegasnya.

Menurut Amithya, pendekatan politik kerakyatan perlu berjalan beriringan dengan kolaborasi antar-generasi dan kerja nyata di lapangan.
Perpaduan tersebut dinilai penting untuk membangun kembali kepercayaan publik sekaligus mendukung target politik PDI Perjuangan Kota Malang untuk mengembalikan 12 kursi di DPRD Kota Malang.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Politik DPD PDI Perjuangan Jawa Timur I Made Riandiana Kartika menekankan pentingnya strategi pemenangan yang dirancang secara terukur.
Ia mendorong jajaran PDI Perjuangan Kota Malang menerapkan konsep winning by design, yakni strategi pemenangan yang didukung data ilmiah dan survei secara berkala.
Menurut Made, konsolidasi organisasi harus dibarengi disiplin serta evaluasi berjenjang untuk memastikan seluruh struktur benar-benar aktif bergerak.
“Pengurus yang tidak aktif tentu akan dievaluasi demi menjaga efektivitas pergerakan partai. Seluruh elemen mulai dari struktur organisasi, anggota fraksi, hingga pimpinan legislatif wajib bergerak secara kolektif,” pungkas Made.
Dengan konsolidasi struktur, penguatan badan dan sayap partai, pendekatan terhadap pemilih muda serta strategi pemenangan berbasis data, PDI Perjuangan Kota Malang mulai menyiapkan mesin politik untuk menghadapi pertarungan elektoral 2029. (ull/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













