JEMBER – Peternak sapi di Kabupaten Jember resah. Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) di Jember mengakibatkan hewan ternak mereka, banyak yang mati.
Menyikapi keresahan itu, Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto minta Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Jember segera bertindak.
“Kami mendapatkan informasi dari masyarakat, jika banyak sapi yang terjangkit PMK,” ujarnya saat dikonfirmasi di DPRD Jember, Selasa (17/12/2024).
Virus yang menyerang sapi milik peternak ini kembali muncul setelah tahun 2022 lalu. Dan saat itu kondisinya cukup parah. Dampak kematian hewan terjadi di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.
“Memang ada beberapa faktor yang membuat PMK ini merebak, salah satunya persoalan iklim yang kini curah hujannya tinggi dan termasuk dengan kebersihan kandang untuk limbahnya,” ungkapnya.
Candra juga masih mencari informasi, apakah PMK yang merebak di masyarakat saat ini varian virus baru atau bukan. Karena jika bukan varian baru maka solusi penanganan sama seperti tahun lalu.
“Kita juga masih mendalami apakah ini varian baru dari virus atau bukan, sehingga bisa diambil langkah-langkahnya,” jelas dia.
Dan saat ini, konfirmasi Dinas Perternakan melalui Candra tercatat sebanyak 115.862 ekor sapi di Jember sudah divaksin oleh petugas Dinas Peternakan Kabupaten Jember.
Politisi PDI Perjuangan ini juga berharap, persoalan PMK tidak berdampak pada pasokan daging di Jember serta harganya tidak merosot. Untuk itu ia mengimbau kegiatan vaksin harus ditingkatkan. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS









