Rabu
14 Oktober 2026 | 10 : 33

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

MBG Ramadan di Ngawi Diprotes Netizen, Agung Rezkina Minta SPPG Perbaiki Kualitas Menu

IMG-20260225-WA0025_copy_711x486

NGAWI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan di Kabupaten Ngawi menjadi sasaran kritik tajam netizen. Bukannya memberikan asupan nutrisi yang ideal untuk berbuka puasa, paket makanan yang dibagikan sejumlah Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) dinilai asal-asalan dan tidak memenuhi standar kelayakan.

Sejak hari pertama masuk sekolah di bulan Ramadan, Senin (22/2/2026), para siswa menerima paket MBG dalam bentuk menu kering untuk dibawa pulang. Namun, unggahan foto dan video dari orang tua murid di media sosial justru memicu gelombang protes.

Salah seorang netizen di grup Facebook Ngawi mengunggah foto paket berisi sepotong roti wijen, satu buah pisang, dan sebungkus kecil abon ayam.

“Pak Bupati Ngawi, tolong diperhatikan MBG bujet Rp 15.000 dapatnya kayak gini, apa cuma buat ajang korupsi doang?” tulis akun tersebut.

Keluhan serupa muncul dari wilayah Kecamatan Paron. Seorang guru yang enggan disebutkan namanya mengunggah menu yang terdiri dari satu buah apel hijau kecil, ketela panggang, dan sebutir telur. Menu-menu tersebut dianggap jauh dari standar protein dan gizi yang dijanjikan pemerintah.

Menanggapi hal ini, anggota DPRD Kabupaten Ngawi, Agung Rezkina Pramesti, menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, program yang bertujuan untuk pemenuhan gizi anak ini tidak boleh dijalankan “asal jalan” tanpa memperhatikan kualitas.

“Jujur sedih ketika melihat foto MBG yang beredar. Bisa dikatakan bergizi jika mengandung unsur protein nabati, hewani, karbohidrat, sayur, dan buah. Dengan postingan yang beredar, itu sangat jauh dari kategori bergizi,” tegas Agung, Rabu (25/2/2026).

Evaluasi Standar Menu
Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi itu menambahkan, pengelola SPPG seharusnya lebih serius dan berbenah. Ia mengkritik penggunaan roti sebagai sumber karbohidrat utama dan adanya temuan bahan makanan seperti kedelai yang kondisinya sudah menghitam.

“Pengelola jangan memaksakan program asal jalan. Kalau memang anggaran tidak mencukupi karena alasan harga bahan pokok mahal, lebih baik diberikan menu sederhana tapi berkualitas tinggi seperti susu UHT, telur, dan buah. Itu sudah cukup untuk memenuhi protein anak daripada memberikan roti yang tidak jelas kelayakannya,” tambahnya.

Legislator PDI Perjuangan ini mendesak pengelola SPPG untuk segera mengevaluasi standar menu harian agar tujuan utama program untuk mencetak generasi sehat tidak dikorbankan demi mengejar serapan anggaran semata. (amd/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Pemkab Banyuwangi Gelar Operasi Katarak Gratis, Bantu 4.869 Warga

BANYUWANGI –  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi melalui kolaborasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) ...
KRONIK

Apresiasi Dedikasi Guru Ngaji, Hj. Ansari PDIP Salurkan Bantuan untuk Nenek Suidah

PAMEKASAN – Ketulusan Nenek Suidah (100), guru ngaji sebatang kara asal Dusun Toronan, Desa Larangan Badung, ...
KRONIK

Bantu Warga Terdampak Kekeringan, Nur Hakim PDIP Distribusikan Air Bersih

BANGKALAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Bangkalan, Nur Hakim, menyalurkan bantuan air bersih pada ...
KRONIK

Dugaan Pungli Lahan Perhutanan Sosial, DPRD Jember Minta Dinas Kehutanan Jatim Buka Data KHDPK

JEMBER – Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Jember, Candra Ary Fianto, meminta Cabang Dinas Kehutanan Jawa Timur membuka ...
LEGISLATIF

Fraksi PDI Perjuangan Sumenep Beri Catatan atas Alokasi Belanja di APBD 2027

SUMENEP – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Sumenep memberikan sejumlah catatan terhadap rancangan APBD 2027, ...
LEGISLATIF

Deni Wicaksono Ajak Warga Trenggalek Rawat Toleransi untuk Perkuat Pembangunan Daerah

TRENGGALEK – Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Deni Wicaksono mengajak masyarakat Trenggalek terus memupuk toleransi dan ...