oleh

Kripik Mangrove “Mina Selatan”, Oleh-oleh Wisata Khas Banyuwangi

-UMKM-34 kali dibaca

BANYUWANGI– Selain memiliki destinasi pariwisata bercita rasa dunia, Banyuwangi juga menghadirkan inovasi dan kreasi produk UMKM, seperti pemanfaatan tanaman mangrove sebagai bahan baku kripik.

Adalah Hj. Nanik, pengusaha kripik mangrove di Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo. Inovasi Hj. Nanik dalam menjalankan bisnisnya ini berawal dari keinginannya membuat suatu produk dari tanaman mangrove. Hj. Nanik melihat di wilayah Kecamatan Purwoharjo ekositem tanaman mangrove cukup besar. Di Dusun Bloksolo, Desa Sumbersari, Kecamatan Purwoharjo mangrove menjadi destinasi wisata, “Mangrove Bedul Ecotourism”.

Tidak hanya itu, mangrove ternyata mengandung banyak manfaat. Hj. Nanik pun memanfaatkan tanaman mangrove sebgai olahan makanan: kripik mangrove “Mina Selatan”

Hj. Nanik menuturkan, inovasi dalam bidang kuliner merupakan sesuatu yang sangat digemari seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Pengembangan kuliner akan menjadi sesuatu banyak diminati oleh masyarakat, ditambah lagi tingginya potensi mangrove di wilayah Purwoharjo, menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan.

“Kebanyakan masyarakat belum mengetahui, jika tanaman mangrove mempunyai nilai manfaat yang lebih, selain mencegah intrusi air laut ke daratan, buahnya juga bisa dikonsumsi, dan sampai kulit kayunya pun juga bisa dimanfaatkan sebagai pewarna pakaian,” jelas Hj Nanik, Sabtu (29/5/2021).

Diawal perusahaannya berdiri, Hj. Nanik hanya fokus mengolah tanaman mangrove menjadi kripik mangrove saja. Seiring berjalannya waktu, dirinya sudah bisa mengembangkan berbagai macam atau jenis produk olahannya. Seperti dibuat menjadi sirup, kripik dan chips.

“Pada mulanya usaha ini memproduksi kripik mangrove sekitar tahun 2016, kemudian mendapatkan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) di bulan September 2017. Kita kembangkan produk ini menjadi olahan lainnya. Untuk pemasaran produknya, kita bermitra dengan pusat oleh-oleh di Banyuwangi kota dan juga bermain di kota-kota lain,” ungkap Hj. Nanik.

Lebih lanjut, Perempuan berusai 47 Tahun ini juga menyampaikan, ke depan perusahaanya ingin membuka cabang di berbagai daerah yang memiliki potensi ekosistem mangrove cukup besar. Karena selain mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan memperkuat ekonomi kerakyatan, dirinya berharap mangrove menjadi komoditas yang popular, sehingga mendorong banyak orang menanam yang akan berdampak  pada kelestarian lingkungan.

“Kalau cita-cita saya, ke depan ini saya ingin buka cabang di wilayah yang punya potensi hutan mangrove. Di sana kan nanti saya bisa buka lapangan kerja, selain itu harapannya juga mangrove ini menjadi suatu komoditas yang lebih populer lagi,” pungkas Hj. Nanik. (Ryo/set).

Komentar