oleh

Kepedulian Terhadap Cerita Panji

-Ruang Merah-84 kali dibaca

Oleh Henri Nurcahyo*

TAHUN 2008 saya mengikuti acara “Pasamuan Budaya Panji” di PPLH Seloliman dan Candi Jalatunda. Waktu itu saya nyaris tidak tahu sama sekali Cerita Panji. Paling-paling hanya pernah mendengar Panji Semirang. Juga dongeng Ande-ande Lumut yang ternyata tokoh laki-lakinya bernama asli Panji Asmarabangun, sedangkan Klething Kuning adalah Dewi Sekartaji yang menyamar. Pemahaman saya waktu itu, yang namanya Cerita Panji hanya sebatas dongeng. Titik.

Mohon maaf, artikel ini sengaja mengambil perspektif pengalaman saya pribadi. Karena ternyata hingga saat ini masih banyak sekali orang yang bertanya “Panji itu apa? Cerita Panji itu bagaimana?” Apalagi, Budaya Panji. Pertanyaan itu bukan hanya dari masyarakat awam, namun juga dari kalangan akademisi, dan bahkan antropolog bergelar Professor Doktor. Sungguh saya berusaha untuk memaklumi mereka.

Sebagaimana apa yang pernah saya alami sendiri, sebetulnya sudah banyak orang yang tahu tentang Cerita Panji, namun mereka tidak menyadari bahwa mereka sudah tahu. Persis seperti itulah yang saya alami 13 tahun yang lalu. Ternyata Ande-ande Lumut itu adalah salah satu contoh Cerita Panji dalam bentuk dongeng. Sebagaimana juga dongeng Keong Emas, Panji (Cinde) Laras, Enthit, Golek Kencana, serta Timun Mas. (Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata dongeng Timun Mas punya banyak versi. Salah satunya merupakan dongeng Panji. Sementara Timun Mas versi yang terkenal itu malah bukan tergolong Cerita Panji melainkan cerita rakyat dari Jawa Tengah).

Benang merah dari Cerita Panji pada umumnya adalah bertemunya dua pihak yang diawali dengan proses pencarian, penyamaran, petualangan, dan perjuangan tak kenal lelah. Karena pada dasarnya, Cerita Panji merupakan ungkapan ekspresi masyarakat yang merindukan penyatuan dua kerajaan, Jenggala dan Panjalu, di mana kedua rajanya masih memiliki hubungan saudara. Semangat penyatuan itulah yang menjadi pesan utama Cerita Panji. Meskipun dalam fakta sejarah kedua kerajaan itu sudah menyatu, ternyata Cerita Panji malah berkembang pesat pada zaman Majapahit dan menyebar ke seluruh penjuru Nusantara hingga ke negara-negara Asia Tenggara.

Lho, jadi hanya dongeng saja, kok sampai menyebar sedemikian jauh? Ternyata penyebaran ini seiring dengan masa kejayaan Majapahit yang menjalin hubungan dengan berbagai kerajaan di kawasan Asia. Tidak heran, kemudian Cerita Panji malah sangat populer di Thailand dan Kamboja yang mereka sebut Cerita Inao atau Eynao (asal kata dari Inu Kertapati), dengan tokoh perempuan bernama Puteri Bossaba (alias puspa, bunga, sekar, sekartaji).

Dalam pertemuan di Trawas itulah saya juga baru tahu bahwa Cerita Panji menjadi bahan cerita seni Wayang Beber, Wayang Topeng, Wayang Gedog, Wayang Krucil (Klithik, Timplong), Wayang Thengul, Kentrung, Gambuh di Bali, Wayang Arja, dan Kethek Ogleng, serta beragam tari Topeng. Bahkan Cerita Panji juga menjadi salah satu motif (dengan berbagai varian) pada batik Bali, Cirebon dan juga batik gedog Tuban.

Cerita Panji juga dipahatkan sebagai relief di belasan candi yang semuanya dibuat pada masa akhir Majapahit. Bahkan di candi Selokelir di lereng gunung Penanggungan pernah ditemukan patung Panji yang sekarang ada di ITB, sementara patung Sekartaji entah berada di mana. Dari 20 candi yang diteliti arkeolog Lydia Kieven, sebagian besar mengandung Cerita Panji. Penelitian inilah yang mengantarkan Lydia meraih gelar Doktor di Sydney University dengan topik figur bertopi di relief candi.

BACA JUGA: Kasmaran di Panataran

Cerita Panji tidak sekadar dongeng biasa. Ada ratusan versi Cerita Panji yang tidak ada kaitan satu sama lainnya. Cerita Panji bukan cerita tunggal yang linier sebagaimana Mahabarata dan Ramayana. Cerita Panji digolongkan memiliki genre cerita siklus, selalu berulang dari kehilangan – pencarian – penemuan. Selalu saja begitu polanya. Bisa dikatakan akhir ceritanya adalah pernikahan antara Raden Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji alias Dewi Candrakirana. Perkawinan mereka bukan sebuah akhir namun sekaligus sebuah awal yang baru. Itulah sebabnya ucapan populer terhadap pengantin adalah “Selamat Menempuh Hidup Baru.”

Tahun 2014 ketika saya mengikuti seminar Cerita Panji di Perpusnas Jakarta, mengemuka gagasan untuk mengajukan Cerita Panji sebagai Ingatan Dunia atau Memory of the World (MoW) ke UNESCO. Gagasan ini baru berhasil pada bulan Oktober tahun 2017, yang didaftarkan atas nama Perpusnas Indonesia, Malaysia, Kamboja, Perpustakaan Belanda dan British Council di Inggris.

Jadi Cerita Panji berasal dari Jawa Timur (menurut sebutan sekarang) pada masa Kadiri, tumbuh subur masa Majapahit, dan menjadi counter culture budaya India. Ketika sekarang ini banyak budaya mancanegara masuk ke Indonesia (sebut saja budaya pop Korea misalnya), namun pada masa Majapahit justru budaya asal Jawa Timur yang menyeruak ke berbagai penjuru Nusantara, Malaysia, Kamboja, Burma, Thailand, dan sekitarnya.

Tidaklah salah ketika kemudian Kota Kediri menabalkan sebagai Kota Panji sementara Kabupaten Kediri menyebut Bumi Panji. Namun, sayang sekali Pemerintah Kabupaten Sidoarjo yang selalu mengklaim sebagai pewaris kerajaan Jenggala nyaris tidak peduli dengan Cerita Panji. Padahal, tanpa keterlibatan Jenggala tidak akan pernah ada Cerita Panji.

Pertanyaannya sekarang, seberapa jauh masyarakat sudah mengenal Cerita Panji? Seberapa besar perhatian pemerintah terhadap pusaka budaya yang sudah diakui UNESCO ini? Inisiator kebangkitan Budaya Panji justru dimulai dari pertemuan informal di Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) tahun 2004. Namun, baru tahun 2007 berhasil digelar event internasional di Unmer Malang, disusul tahun 2008 di Trawas, di mana saya mulai mengenal Cerita Panji.

Setelah itu beragam acara bertema Panji digelar di Candi Penataran, Candi Sukuh, Candi Borobudur, juga melebar ke berbagai kota di seluruh Jawa. Hampir semuanya adalah inisiatif pihak nonpemerintah yang peduli Cerita Panji. Baru tahun 2017 Pemerintah Pusat turun tangan menggelar Festival Panji Nasional di Kediri, Festival Panji Internasional (2018) di 8 (delapan) kota Bali dan Jawa, tahun 2019 di 7 (tujuh) kota di Jatim, kemudian menyusut lantaran pandemi Covid-19.

Sayangnya hal itu tidak diimbangi dengan penerbitan buku-buku tentang Panji. Disertasi Lydia Kieven sudah dibukukan, juga buku baru tentang Panji dan Sekartaji. Saya sendiri menerbitkan antologi makalah “Konservasi Budaya Panji,” disusul buku “Memahami Budaya Panji” untuk menjawab pertanyaan: “Apa itu Panji?” Buku ini saya terbitkan sendiri atas nama Komunitas Seni Budaya BrangWetan dan sudah cetak ulang hingga 7 (tujuh) kali.

Jadi, apa yang telah kita lakukan terhadap pusaka budaya yang berasal dari Jawa Timur ini? Sementara di Thailand, cerita Panji ditulis oleh Raja Rama, dipentaskan menjadi seni pertunjukan oleh putri-putri raja, dan diajarkan di sekolah-sekolah. Beruntunglah Universitas Ciputra Surabaya memiliki mata kuliah Budaya Panji, disusul Universitas PGRI Adibuana Surabaya (Unipa) yang meminta saya menjadi dosen pengampunya.

Itu saja? Tentu tidak (*)

*Sekretaris Umum Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur, Asesor Pengelola Tradisi Lisan, pendiri Pusat Konservasi Budaya Panji, dan ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan.

Komentar