TRENGGALEK – Menjelang Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek, Bupati M. Nur Arifin menunjukkan komitmen melanjutkan pembangunan di tengah keterbatasan anggaran akibat efisiensi. Salah satunya melalui peningkatan jalan penghubung Desa Pandean menuju Malasan, Kecamatan Durenan, yang kini telah di-hotmix dan menjadi akses penting antara Trenggalek dan Tulungagung.
Peningkatan jalan sepanjang sekitar 5 kilometer tersebut menelan Dana Alokasi Khusus (DAK) sekitar Rp6,8 miliar. Jalan yang sebelumnya kerap dikeluhkan warga karena kondisinya kurang baik kini telah berubah menjadi jalur yang lebih nyaman dilalui kendaraan.
Bupati yang akrab disapa Mas Ipin itu mengatakan, peningkatan jalan tersebut sebenarnya telah masuk dalam rencana pemerintah daerah sebelum kondisi jalan menjadi perbincangan masyarakat.
“Jalan ini memang sudah masuk rencana untuk peningkatan. Karena menjadi urat nadi transportasi. Apalagi jalan ini juga ramai kendaraan,” kata Mas Ipin, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, proses pembangunan tidak bisa dilakukan sekaligus karena harus menyesuaikan kemampuan anggaran dan kebutuhan pembangunan di berbagai lokasi.
Keterbatasan anggaran membuat sejumlah pekerjaan harus dilakukan secara bergantian berdasarkan skala prioritas. Namun, Pemkab Trenggalek tetap berupaya mencari ruang agar pembangunan infrastruktur dapat berjalan dan manfaatnya dirasakan masyarakat.
Mas Ipin menyebut peningkatan jalan tersebut sekaligus menjadi hadiah bagi masyarakat menjelang peringatan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek pada 31 Agustus 2026.
“Dulu sudah masuk usulan. Tetapi karena harus bergantian dengan lokasi lain, akhirnya terpaksa digilir. Apalagi keterbatasan anggaran juga menjadi kendala waktu itu. Sekarang jelang Hari Jadi ke-832, warga sudah bisa merasakan jalan yang mulus. Mudah-mudahan bermanfaat,” ujarnya.
Jalan Pandean-Malasan memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu jalur yang menghubungkan wilayah Trenggalek dengan Tulungagung. Aktivitas kendaraan di jalur tersebut cukup tinggi, terutama pada waktu-waktu tertentu.
Karena itu, peningkatan jalan diharapkan tidak hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi warga yang bergantung pada kelancaran transportasi.

Mas Ipin menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak, termasuk jajaran legislatif, yang turut mendukung pembangunan sarana dan prasarana daerah.
Menurutnya, pembangunan membutuhkan sinergi antara eksekutif dan legislatif agar keterbatasan anggaran tetap dapat dioptimalkan untuk kebutuhan masyarakat.
“Eksekutif dan legislatif sama-sama satu suara untuk membuat sarana dan prasarana penunjang ekonomi warga semakin lebih baik lagi. Untuk Trenggalek,” katanya.
Mengingat Jasa Leluhur
Di tengah upaya melanjutkan pembangunan, rangkaian menjelang Hari Jadi ke-832 Trenggalek juga diisi dengan ziarah ke makam para leluhur dan tokoh yang memiliki jasa dalam perjalanan sejarah daerah.
Ziarah dipimpin langsung Mas Ipin didampingi Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi dan jajaran Forkopimda.
Tradisi ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian tahunan menjelang peringatan Hari Jadi. Bagi Mas Ipin, perjalanan pembangunan Trenggalek hari ini tidak bisa dilepaskan dari jasa para tokoh dan leluhur yang telah meletakkan dasar perjalanan daerah dari masa ke masa.
“Jadi setiap jelang peringatan Hari Jadi, kami ziarah ke makam leluhur. Kami tak lupa dengan jasa para leluhur yang mengikuti perjalanan Trenggalek dari masa ke masa,” ujarnya.
Sejumlah makam yang diziarahi antara lain Makam Menak Sopal di Kompleks Makam Bagongan, Kelurahan Ngantru. Menak Sopal dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan awal Trenggalek sekaligus pionir pengembangan pertanian melalui pembangunan Dam Bagong.
Rombongan kemudian berziarah ke Makam Setono Galek yang menjadi tempat peristirahatan Mbah Kawak, salah seorang tokoh penyebaran agama Islam di Trenggalek.

Ziarah dilanjutkan ke Makam Setono Gedong di Kelurahan Ngantru. Di kompleks tersebut dimakamkan sejumlah tokoh penting, salah satunya Raden Doemotaroeno yang tercatat sebagai Bupati Trenggalek pertama.
Rombongan juga mendatangi Makam Kanjeng Jimat atau Mangun Negoro di Kompleks Makam Margo Ayu, Desa Ngulan Kulon, Kecamatan Pogalan.
Perjalanan ziarah kemudian berlanjut ke Makam Girilaya Kamulyan di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, dan berakhir di Makam Girimulyo, Desa Sumber, Kecamatan Karangan.
Di kompleks Makam Girimulyo dimakamkan Adipati Widjoyo Kusumo yang pernah menjabat sebagai Bupati Trenggalek pada 1894-1904.
Mas Ipin mengatakan, memasuki usia 832 tahun, Trenggalek terus berbenah menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Efisiensi anggaran menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi pemerintah daerah.
Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat pembangunan berhenti.
Menurutnya, pemerintah daerah harus terus mencari celah untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada, termasuk dengan meningkatkan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Di usia yang sudah menginjak 832, Trenggalek terus berbenah. Dari tahun ke tahun terus menunjukkan tren positif. Di bidang pembangunan, meski di bawah bayang-bayang efisiensi, tetap dimaksimalkan,” katanya.
Bagi Mas Ipin, rangkaian Hari Jadi bukan sekadar seremoni tahunan. Ziarah menjadi momentum untuk menengok kembali perjalanan panjang daerah, sementara pembangunan menjadi bagian dari upaya meneruskan perjuangan para pendahulu untuk membuat Trenggalek semakin baik.
Dua hal tersebut berjalan beriringan: mengenang mereka yang telah meletakkan fondasi Trenggalek sekaligus memastikan pembangunan hari ini memberi manfaat bagi masyarakat dan menjadi bekal bagi generasi berikutnya. (azz/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












