BONDOWOSO – Status Green Card UNESCO Global Geopark yang kembali diraih Ijen Geopark menjadi pengakuan atas upaya pelestarian warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya masyarakat.
Namun, capaian tersebut dinilai tidak boleh berhenti sebagai prestasi administratif. Pemerintah dan masyarakat masih memiliki pekerjaan besar untuk memastikan keberadaan geopark berdampak terhadap kesejahteraan warga.
Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso, Sinung Sudrajad, mengapresiasi keberhasilan mempertahankan status tersebut. Menurutnya, capaian itu mencerminkan komitmen bersama dalam menjaga kelestarian kawasan Ijen Geopark.
Sinung menjelaskan, status UNESCO Global Geopark tidak berlaku permanen. Setiap empat tahun, kawasan geopark harus menjalani evaluasi atau revalidasi untuk mengukur konsistensi pengelolaan dan komitmen pelestarian.
“Alhamdulillah, pada 3 November kemarin dalam sidang Council UNESCO Global Geopark di Paris, Prancis, status Green Card dapat diraih dan status geopark masih bisa dipertahankan,” kata Sinung di Bondowoso, Jumat (6/11/2026).
Menurut dia, keberhasilan tersebut justru harus menjadi momentum memperkuat kerja lintas sektor. Konservasi alam dan pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan di kawasan geopark.
“Ini adalah langkah awal dalam sebuah perjalanan panjang pelestarian alam dan budaya menuju rakyat sejahtera. Sinergi lintas sektor amat sangat dibutuhkan, bukan hanya untuk kita, tetapi komitmen merawat alam dan budaya demi anak cucu kita dan masa depan bangsa,” jelas anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bondowoso itu.
Ijen Geopark ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada 2022. Proses menuju pengakuan internasional tersebut membutuhkan persiapan panjang, termasuk pemenuhan berbagai persyaratan yang ditetapkan UNESCO.
Sinung mengaku turut terlibat sebagai salah satu inisiator dalam proses pengusulan kawasan tersebut. Dia beberapa kali mendatangi Jakarta untuk menggali informasi dan berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata agar persyaratan pembentukan geopark dapat dipenuhi.
Ia menilai Ijen Geopark merupakan aset strategis Bondowoso. Lebih dari sekadar destinasi wisata, geopark dapat menjadi model pengembangan daerah dengan mengintegrasikan potensi alam (nature) dan kebudayaan (culture).
Integrasi tersebut, menurut Sinung, harus mampu meningkatkan nilai ekonomi kawasan sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat melalui pengembangan geowisata.
“Bondowoso memiliki potensi besar dalam bidang pariwisata, namun sejauh ini belum terkelola secara maksimal. Untuk itu, program Ijen Geopark ini adalah upaya mengembangkan pariwisata dan meningkatkan perekonomian Bondowoso yang muaranya adalah kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Dia menyebut, terdapat dua agenda penting dalam pengembangan Ijen Geopark. Pertama, konservasi kawasan dengan memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusak lingkungan. Kedua, pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan geowisata yang dapat menciptakan lapangan kerja.
Sinung juga mengungkapkan, pengembangan geopark selaras dengan konsep politik hijau yang dikampanyekan Ketua Umum PDI Perjuangan, Hj. Megawati Soekarnoputri.
Dia menyatakan siap mengawal keberlanjutan program tersebut. Baginya, keberhasilan mempertahankan pengakuan UNESCO harus diikuti manfaat nyata bagi masyarakat, tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan dan kekayaan budaya yang menjadi dasar pengakuan Ijen Geopark. (art/set)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












