Jumat
24 Juli 2026 | 3 : 21

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Hibur Rakyat Saat Pandemi, PDI Perjuangan Gelar ‘Ludruk Tombo Covid-19’

pdip-jatim-ludruk-kirun-120920

JAKARTA – PDI Perjuangan terus membuktikan pandemi Covid-19 tak akan menghentikan seluruh gerak kemanusiaan, termasuk menghibur rakyat secara daring dengan pagelaran ‘Ludruk Tombo Covid-19’.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, Partainya terbukti hadir dengan jalan kebudayaan yang begitu kuat.

Dia mencontohkan kesenian Ludruk yang digelar pada Jumat (11/9/2020) malam oleh Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan dengan memenuhi protokol kesehatan pencegahan virus yang sangat berbahaya tersebut.

Saat memberi sambutan pembukaan pagelaran khas Jawa Timur tersebut, Hasto mengapresiasi BKN Pusat yang dipimpin Aria Bima dan Rano Karno.

“Kami memberikan apresiasi, bahwa di tengah pandemi covid-19, BKN terus-menerus memiliki prakarsa untuk menampilkan jatidiri kebudayaan bangsa, menampilkan cerita-cerita yang merakyat yang berangkat dari seluruh dinamika kehidupan rakyat itu sendiri,” kata Hasto.

Dia mengaku, sebelum memberi sambutan, terlebih dahulu dirinya bercerita kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Dan sang ketua umum yang juga Presiden RI Kelima itu menitipkan salam.

“Beliau (Megawati, red) juga menegaskan bagaimana dengan ludruk ini tidak hanya drama yang menampilkan cerita kepahlawanan, cerita rakyat, tetapi ludruk menampilkan tentang kebudayaan nusantara yang begitu beragam. Terlebih ludruk ini disampaikan dengan warna dialog Suroboyoan, Jawa Timuran,” urainya.

Hasto menyebut, budaya jawatimuran bersifat egaliter. Karya budaya ini menampilkan tidak hanya hiburan bagi rakyat, tetapi juga suatu kritik, narasi, yang membuka kesadaran untuk mencintai kebudayaan sendiri.

“Dan di saat yang bersamaan, melalui ludruk, akan ditampilkan suatu cerita yang memberikan harapan bagi rakyat untuk bangkit. Harapan bagi rakyat untuk bisa tertawa di tengah berbagai kesulitan,” paparnya.

Secara khusus, Hasto mengatakan PDI Perjuangan mengucapkan terima kasih pada Kirun. Pihaknya menilai Kirun dan kawan-kawan sebagai tokoh kebudayaan yang luar biasa, sangat kreatif, selalu punya daya inovasi tetapi membumi.

Para seniman itu disebutnya selalu mengakar pada tradisi kebudayaan Indonesia, khususnya kebudayaan Jawa.

“Beliau adalah seorang seniman multitalenta dan di bawah pimpinan Pak Kirun saya yakin ludruk yang dipersembahkan ini akan membawa suatu semangat bagi kita untuk bertekun di dalam berbagai persoalan yang kita hadapi di tengah pandemi ini,” ujarnya.

“Semangat hidup untuk tetap punya harapan sambil tertawa bersama dengan ludruk ini,” tambah dia.

“Mari kita cintai kebudayaan kita. Kita gelorakan semangat mencintai Indonesia dengan jalan kebudayaannya dan kita bangga dengan kebudayaan kita,” pungkas Hasto. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Pedagang Pasar Baru Magetan Cemas Tergusur Rencana Pembangunan Bioskop, DPRD Turun Tangan

MAGETAN – Kawasan Pasar Baru Magetan kembali menjadi sorotan. Belum usai persoalan penataan parkir, kini muncul ...
KABAR CABANG

PDIP Trenggalek Mulai Musran-Musanran, Perkuat Konsolidasi hingga Akar Rumput

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek memulai Musyawarah Ranting dan Musyawarah Anak Ranting dari Kecamatan ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Tertibkan Parkir Surabaya, 250 Lokasi Disegel dan Makam Keputih Terapkan Gate System

Pemkot Surabaya menertibkan pengelolaan parkir dengan menyegel 250 lokasi yang belum berizin serta menerapkan gate ...
LEGISLATIF

Hari Anak Nasional, Kanang Berbagi Motivasi kepada Wali Murid SDN Margomulyo 2 Ngawi

NGAWI – Peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momen istimewa bagi keluarga besar SDN Margomulyo 2 Ngawi. ...
LEGISLATIF

Dukung Sekolah Terintegrasi, Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Malang Tolak Pengambilalihan Aset Daerah

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang mendukung pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi dan Sekolah Rakyat, ...
RUANG MERAH

Menghitung Genarasi Emas dari Lambung

Oleh Martin Rachmanto ADA sebuah fragmen ingatan yang abadi dari dekade 1950-an, ketika halaman Istana Negara belum ...