Sabtu
12 September 2026 | 10 : 44

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

DPRD Jember Belum Bahas Persetujuan Pinjaman Daerah Akibat Defisit Rp987 Miliar

PDIP-Jatim Widarto 29072026

JEMBER – Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Jember, Candra Ary Fianto, menyatakan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) belum menyampaikan rencana pinjaman daerah melalui Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) dalam pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2027.

Padahal, menurut Candra, seperti keterangan tim ahli DPRD Jember, Hermanto Rohman, pemerintah daerah memiliki opsi mengajukan pinjaman untuk menutup defisit APBD yang mencapai sekitar Rp987 miliar.

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 30 tentang Pinjaman Daerah, pinjaman tersebut dapat menjadi salah satu sumber penerimaan pembiayaan daerah, namun pelaksanaannya harus memperoleh persetujuan DPRD.

“Pada rapat Banggar kemarin, TAPD hanya menyampaikan pandangan mengenai KUA-PPAS. Tidak ada penyampaian mengenai rencana pinjaman melalui LKBB,” ujar Candra, Selasa, (28/7/2026).

Politikus PDI Perjuangan itu mengingatkan, apabila pinjaman daerah diajukan, DPRD harus terlebih dahulu membahas manfaat dan kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman tersebut.

Menurut dia, kebijakan itu akan menambah beban APBD karena pemerintah daerah harus mengalokasikan anggaran untuk membayar pokok dan bunga pinjaman.

Ia mengaku khawatir apabila pembahasan KUA-PPAS berlanjut tanpa penjelasan mengenai skema pinjaman. Persetujuan DPRD terhadap dokumen anggaran dapat ditafsirkan sebagai persetujuan terhadap rencana utang daerah.

“Jangan sampai DPRD dianggap telah memberikan persetujuan terhadap pinjaman, padahal substansi itu belum pernah dibahas,” ujarnya.

Ketua rapat Banggar DPRD Jember, Widarto, mengatakan isu pinjaman daerah baru mengemuka saat pembahasan defisit anggaran dalam rapat Banggar pada Senin (27/7/2026).

Menurut Widarto, Banggar masih meminta penjelasan TAPD mengenai klasifikasi rencana pinjaman tersebut dalam struktur APBD, apakah masuk sebagai pembiayaan atau berkaitan dengan postur pendapatan daerah.

“Ini masih kami minta penjelasan dari TAPD. Kalau masuk pembiayaan, tentu berkaitan dengan defisit. Dengan defisit sebesar itu, tentu perlu dicermati. Namun keputusan nantinya merupakan hasil pembahasan bersama seluruh anggota Banggar,” kata Widarto.

Menurut ketentuan peraturan perundang-undangan, pinjaman daerah hanya dapat dilakukan setelah memperoleh persetujuan DPRD dan harus mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah dalam memenuhi kewajiban pembayaran kembali agar tidak membebani APBD pada tahun-tahun berikutnya. (art/set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Dilema Air di Perumahan Elit, DPRD Surabaya Minta PDAM Segera Negosiasi dengan Pengembang

SURABAYA – Temuan adanya tiga perusahaan pengembang raksasa di Surabaya, termasuk kawasan hunian papan atas, ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi: Rp5 Juta per RW Jangan Habis untuk Seremoni, Harus Jadi Penghasilan Gen Z

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meminta anggaran kegiatan Generasi Z (Gen Z) sebesar Rp5 juta per RW ...
LEGISLATIF

Syaifuddin Minta Pemkot Surabaya Jemput Bola Data Desil, Jangan Tunggu Warga Mengadu

Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri meminta Pemkot jemput bola memperbarui data desil agar bantuan pendidikan dan ...
KRONIK

Ketua HKTI Magetan Suarakan Aspirasi Petani dan Tekankan Regenerasi di Rakerda HKTI Jatim

MAGETAN — Anggota DPRD Magetan dari PDI Perjuangan sekaligus Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ...
LEGISLATIF

Tunjang Kinerja Bamag Gresik, Nila Yani Serahkan Bantuan Perlengkapan Operasional

GRESIK – Dukungan terhadap penguatan pelayanan dan kerukunan umat beragama di Kabupaten Gresik terus dilakukan. ...
KRONIK

Budi Leksono Desak PDAM Modernisasi Alat demi Jamin Kualitas Air Warga

SURABAYA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya mendesak PDAM Surya Sembada segera melakukan ...