Dicari, Sosrokartono Masa Kini

 847 pembaca

Pernahkah Anda mendengar nama Sosrokartono? Dia adalah kakak kandung dari R.A. Kartini. Poliglot yang satu ini setidaknya menguasai 26 bahasa asing dan 10 bahasa daerah di Indonesia. Selain Sosrokartono, Indonesia juga memiliki poliglot-poliglot lain di masa lalu, sebut saja Soekarno dan Agus Salim. Ada pula poliglot masa kini yang telah meninggal pada tahun 2014 lalu, yaitu Gayatri Wailissa.

Di dalam mengartikan poliglot, masyarakat memiliki 2 pendapat. Menurut Founder Polyglot Indonesia, Arra’di Nur Rizal, orang yang bisa berbicara atau menulis dalam lebih dari satu bahasa sudah bisa disebut poliglot. Berbeda dengan Rizal, Richard Hudson (seorang linguis dari Inggris) mempersyaratkan seseorang baru bisa disebut poliglot jika mampu berbicara dalam minimal enam bahasa.

Di antara Sosrokartono, Soekarno, Agus Salim, dan Gayatri Wailissa, semuanya memenuhi kriteria poliglot yang dipersyaratkan oleh Richard Hudson. Sosrokartono menguasai sekitar 36 bahasa, Soekarno sekitar 10 bahasa, Agus Salim sekitar 9 bahasa, dan Gayatri Wailissa sekitar 19 bahasa.

Akan tetapi, dari mereka berempat, Sosrokartono dan Soekarno-lah yang menjadi poliglot bahasa daerah juga, dan jumlah bahasa daerah yang dikuasai oleh Sosrokartono lebih banyak daripada Soekarno.

Zaman sekarang orang Indonesia yang memiliki minat atau bakat istimewa di bidang bahasa (berbicara atau menulis) juga banyak. Contohnya komunitas Poliglot Indonesia. Pada Instagramnya saja terlihat memiliki sekitar 15 ribu pengikut. Selain itu, terdapat pula Institut Poliglot Indonesia (IPI), yaitu suatu lembaga kursus bahasa asing, yang hingga saat ini telah mengajarkan 13 bahasa internasional.

Sayangnya, menjadi poliglot bahasa daerah masih kalah pamor (kurang diminati) dibanding menjadi poliglot bahasa asing. Padahal, menjadi poliglot memiliki banyak manfaat bagi diri sendiri maupun negara. Tingginya kekayaan seseorang dalam berbahasa memberikan berbagai keuntungan, misalnya dapat mempermudah dalam berkomunikasi, memperluas jaringan, menambah referensi bacaan, meningkatkan rasa percaya diri, menambah uang saku, memperluas kesempatan kuliah/bekerja ke luar negeri, menghargai perbedaan budaya, memiliki nilai plus untuk dicantumkan di CV, bisa menonton film tanpa terjemahan, jalan-jalan di luar negeri lebih mudah, mengetahui pembicaraan orang lain, tidak mudah ditipu, mencerdaskan otak, lebih mudah mempelajari bahasa lainnya, serta meningkatkan ingatan dan kemampuan multitasking.

Sampai sekarang, belum diketahui dengan pasti berapa kemampuan maksimal manusia dalam menguasai multibahasa. Ziad Fazah bisa menguasai 58 bahasa, Emil Krebs bisa menguasai 68 bahasa (tetapi belajar lebih dari 120 bahasa), Sir John Bowring bisa menguasai 200 bahasa,  serta George Dumezil yang juga menguasai 200 bahasa (termasuk berbagai bahasa kuno dunia). Jadi, setidaknya rekor poliglot manusia sudah bisa mencapai 200 bahasa.

Sebagai bangsa yang majemuk, bangsa Indonesia telah lalai mempertahankan sebagian dari kemajemukannya. Kita lalai bahwa kemajemukan itu tidak hanya menguntungkan, tetapi juga membawa tantangan dan bahaya. Sebelas bahasa daerah di Indonesia telah punah, sementara 25 bahasa daerah lainnya terancam punah.

Berdasarkan data kajian dari Badan Bahasa sejak 2011-2019, bahasa-bahasa daerah yang telah punah tersebut antara lain bahasa Ternateno (Maluku Utara), Tandia (Papua Barat), Mawes (Papua), dan delapan bahasa lainnya yang berasal dari Maluku, yaitu bahasa Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Hukumina, Hoti, Serua, dan Nila (Kompas.com, 21/2/2020). Sementara itu, bahasa daerah yang terancam punah 3 di antaranya berasal dari Maluku (Hulung, Bobat, dan Samasuru), 9 dari Papua (Mander, Namia, Usku, Dubu, Irarutu, Podena, Makiew, Bku, dan Mansim Borai), 2 dari Sulawesi Utara (Ponosokan dan Sangihe Talaud), 1 dari Sulawesi Selatan (Konjo), 1 dari Jambi (Bajau Tungkai Satu), 1 dari Sumatera Selatan (Lematang), 2 dari Gorontalo (Minahasa dan Gorontalo Dialeg Suwawa), 2 dari NTT (Nedebang dan Adang), 1 dari Sulawesi Barat (Benggaulu), dan 2 dari Papua Barat (Arguni dan Kalabra). Bahasa-bahasa tersebut dikatakan terancam punah karena penuturnya sangat sedikit, semua berusia 20 tahun ke atas, dan hanya menggunakan bahasa itu untuk berbincang dengan sebayanya.

Kini, yang tertinggal hanya 718 bahasa daerah. Dari jumlah tersebut, mirisnya hanya 25 bahasa daerah yang statusnya aman. Bayangkan, jika banyak dari orang Indonesia yang mampu menguasai 200 bahasa, atau setidaknya 36 bahasa seperti Sosrokartono, atau kalau masih tidak bisa 5-11 bahasa lah seperti kemampuan poliglot Indonesia pada umumnya, dan di antara bahasa-bahasa yang dikuasai tersebut setengahnya adalah bahasa daerah, tentu masalah kepunahan bahasa bisa dicegah.

Program pembibitan poliglot bahasa daerah ini baik untuk mendukung program Merdeka Belajar Episode 17: Revitalisasi Bahasa Daerah, yang diluncurkan oleh Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek. Indonesia sangat memerlukan sosok-sosok poliglot seperti Sosrokartono.

Sebagai poliglot, Sosrokartono adalah poliglot pertama Nusantara yang kiprahnya diakui oleh dunia. Dia mampu bercakap-cakap dan menulis dalam berbagai bahasa. Jadi, dia mampu berbahasa daerah dan berbahasa asing secara aktif maupun pasif. Secara talenta dan minat, Indonesia tidak kekurangan sosok-sosok istimewa seperti Sosrokartono. Hanya saja, pemerintah perlu menciptakan daya tarik mengapa mereka perlu menjadi poliglot bahasa daerah.

Apa untungnya bagi seseorang, jika dia mau menjadi poliglot bahasa daerah dan bukan sekadar poliglot bahasa asing. Itu yang perlu dipikirkan oleh pemerintah. Jika pemerintah sudah mendapatkan jawaban dari masalah ini dan menerapkannya, Insya Allah masalah kepunahan dan kelangkaan bahasa daerah bisa semakin berkurang jumlahnya. (*)