NGAWI – Anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Ngawi begitu antusias saat Diana Amaliyah Verawatiningsih memulai pitawatnya.
Apa yang disampaikan anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur yang juga dikenal sebagai Diana Sasa tersebut, begitu menggugah nalar kritis para mahasiswa NU.
Terlihat mereka manggut-manggut. Ekspresi tanda afirmasi.
Sore kemarin, Diana Sasa menjadi salah satu pemateri seminar. Kegiatan yang juga dalam rangka membuka Konferensi Cabang PMII Ngawi ke-13 itu dilaksanakan di Ponpes Miftahus Salam, Padas, Ngawi.
Sekira 30 menit, Diana Sasa mengajak para mahasiswa berdiskusi soalan peran generasi muda di kancah politik. “Isinya daging (ilmu) semua,” celetuk salah satu mahasiswa.
Ditemui usai mengisi seminar, Diana Sasa mengatakan, dirinya ingin mengajak generasi muda memulai tradisi baik di dunia politik.

“Peran serta generasi muda bisa dimulai dengan tidak menjadikan vote buying sebagai tradisi politik,” ucapnya, Sabtu (30/10/21).
Hal itu menurutnya penting untuk dilakukan. Apalagi kaitannya dengan menentukan sosok pemimpin, yang tentunya harus memiliki integritas baik.
“Konfercab PMII ini selayaknya laboratorium kecil untuk mempraktikkan konsep itu. Bagaimana memilih pemimpin berdasarkan kriteria ideal, bukan karena vote buying,” tutur pegiat literasi ini.
Kelaziman vote buying dalam politik, sebut Diana Sasa, bisa diubah. Diawali dengan pembiasaan dari lingkup organisasi dan meningkat hingga ke level atas.
Dia pun optimistis tradisi vote buying bisa dihilangkan. “Dari organisasi, lalu desa, lalu kabupaten. Sebutan idealnya adalah koperasi politik. Atau, gotong royong dalam politik,” urai Diana.
“Masih ada harapan untuk berubah, sebelum kita menjerumuskan generasi mendatang pada kesalahan bertindak yang bermula dari kesalahan pikir,” pungkasnya. (mmf/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










