NGAWI – Pertumbuhan industri di Kabupaten Ngawi terus menunjukkan tren positif. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 16 perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang berinvestasi di wilayah tersebut. Sejumlah pabrik bahkan masih dalam tahap pembangunan.
Masuknya investasi baru diharapkan mampu membuka lapangan kerja luas bagi masyarakat. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Ngawi menyiapkan sejumlah strategi agar tenaga kerja lokal bisa terserap maksimal di perusahaan-perusahaan yang beroperasi.
Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko mengatakan, sedikitnya ada tiga langkah utama yang disiapkan, yakni program pemagangan, kerja sama dengan lembaga pendidikan, serta pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK).
Hal itu disampaikan saat melakukan kunjungan ke PT Sintec di Desa Kandangan, Kecamatan Ngawi, Senin (20/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, dilakukan sosialisasi larangan diskriminasi rekrutmen tenaga kerja.
“Harapan besar masyarakat dari investasi yang masuk adalah semakin mudah mendapatkan peluang kerja. Itu yang menjadi penekanan kami,” ujar Wabup Antok.
Pemetaan kebutuhan keterampilan
Menurutnya, pemerintah daerah juga mulai memetakan kebutuhan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Seperti operator produksi, assembling, dan bidang teknis lainnya. Langkah itu dilakukan agar warga Ngawi sudah siap saat pabrik mulai beroperasi.

“Kesempatan kerja ini harus benar-benar bisa dimanfaatkan warga Kabupaten Ngawi, bukan justru diambil tenaga kerja dari luar daerah,” tegas Dwi Rianto Jatmiko.
Salah satu perusahaan yang tengah bersiap beroperasi adalah PT Sintec. Pabrik tersebut saat ini masih dalam proses pembangunan. Pabrik alas kaki tersebut diproyeksikan membutuhkan sekitar 10 ribu tenaga kerja.
Sinergikan kurikulum
Sementara itu, jumlah lulusan usia kerja di Ngawi setiap tahun diperkirakan sekitar 27 ribu orang. Namun setelah dikurangi yang melanjutkan kuliah dan berwirausaha, potensi tenaga kerja yang siap masuk industri sekitar 18 ribu hingga 20 ribu orang.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, Pemkab Ngawi mendorong program pemagangan sebagai kerja sama antara perusahaan dan pemerintah daerah. Pemda menyiapkan tenaga kerja, sedangkan perusahaan menyiapkan pola pelatihan kerja.
Selain itu, pemerintah juga menjalin sinergi dengan SMK di Ngawi agar kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, lulusan sekolah bisa langsung terserap dunia kerja.
“Kalau kebutuhan perusahaan sudah diketahui sejak awal, maka siswa bisa dilatih sesuai kompetensi yang dibutuhkan. Saat lulus, mereka siap bekerja,” jelasnya.
Bagi lulusan yang belum memiliki keterampilan khusus, Pemkab juga mengandalkan pelatihan melalui BLK agar lebih siap bersaing di dunia industri. (amd/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













