oleh

Bertemu Gus se-Jatim, Puan: Kita Tak Akan Pernah Bisa Bangun Bangsa Sendirian

-Headline-75 kali dibaca

SURABAYA – Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan, gotong-royong antara kaum nasionalis dan Islam adalah kunci utama mewujudkan kemajuan Indonesia.

Menurutnya, hubungan baik antara kaum nasionalis dan Islam dalam perjalanan bangsa Indonesia telah terjalin sejak zaman penjajahan.

Puan menyebutkan bahwa kakeknya, Bung Karno juga memiliki perjalanan historis yang cukup erat hubungannya dengan kalangan ulama, termasuk kyai-kyai dari Nahdlatul Ulama.

Baca juga: Puan Dukung Terbitnya Perda Adat Desa

Sehingga kedekatan secara historis antara kaum nasionalis dan Islam, sebutnya, menjadi sebuah kewajiban untuk dipertahankan dalam upaya mempertahankan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita tidak akan pernah bisa membangun bangsa ini sendirian. Tidak akan pernah bangsa ini akan menjadi satu bangsa yang besar, kalau kita tidak bergotong-royong bersama-sama,” kata Puan Maharani. saat menghadiri acara Ta’aruf bersama Gawagis (Putra Kyai) se-Jawa Timur di Hotel Sheraton, Surabaya, Rabu (15/6/2022) malam.

Sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan memahami besarnya kontribusi para santri, kyai, dan ulama dalam perjuangan pra dan pasca kemerdekaan negara ini. Karena itu, dia berkomitmen untuk terus memberikan dukungan kepada lembaga pendidikan pesantren.

Fraksi PDI Perjuangan DPR RI sendiri, ujarnya, menjadi pelopor yang menginisiasi lahirnya gagasan Dana Pendidikan Pesantren. Hal ini sebagai sebuah upaya menguatkan lembaga pendidikan pesantren sebagai sebuah wadah mencetak generasi penerus yang nasionalis dan religius.

“Insya Allah anggarannya itu ada di DPR. Jadi nanti kita akan coba inisiasi, hanya memang sesuai dengan akuntabilitas yang ada sekarang. Jadi harus ada peruntukannya, ini (Dana Pendidikan Pesantren) untuk apa,” jelasnya.

“Tentu saja sebagai Ketua DPR, saya akan tetap mendorong agar kemudian perhatian kepada gus-gus, kepada pesantren yang ada di Jawa Timur bisa lebih besar dari sebelumnya,” Sambung Puan.

Senada dengan Puan, Perwakilan Gawagis (Putra Kyai) se-Jawa Timur Maksum Faqih atau akrab disapa Gus Maksum menambahkan, bahwa hubungan antara kaum nasionalis dan Islam terutama Nahdlatul Ulama layaknya hubungan kakak dan beradik.

Menurutnya, para tokoh pendiri bangsa ini dahulu juga selalu rutin menjaga hubungan, berkomunikasi, dan berdiskusi dengan para alim ulama terkait dengan keberlangsungan dan perjalanan bangsa Indonesia kedepannya.

“Oleh sebab itu, di kesempatan yang berbahagia ini saya sampaikan kepada semua, jangan sampai lepas hubungan antara kaum dantri dan kaum nasionalis. Ini harus terus bersatu, karena negara ini akan tercerai ketika kedua kekuatan ini terpecah,” tegas Gus Maksum.

Sebagai generasi penerus perjuangan kaum nasionalis dan Islam, dia berharap agar pertemuan pada malam tersebut dapat menjadi pijakan awal, guna menguatkan dan mensinergikan komunikasi dan hubungan baik kedepannya.

Khususnya antara Nahdlatul Ulama dengan PDI Perjuangan, semata-mata demi terwujudnya kemajuan dan kemandirian bangsa Indonesia. (ace/pr)