Banyak Fitnah di Medsos, Jokowi: Berpolitik Itu Ada Tata Kramanya

 40 pembaca

REMBANG – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku sedih melihat perkembangan media sosial (medsos) di tanah air yang begitu banyak fitnah, saling mencela, ujaran kebencian, dan juga begitu banyak ujaran kedengkian.

Dia menilai, hal itu bukan etika berpolitik, bukan adab berpolitik yang baik. “Itu tidak ada dalam nilai-nilai sopan santun kita berpolitik. Berpolitik itu ada tata kramanya,” kata Jokowi saat menghadiri acara Sarang Berzikir Bersama Untuk Indonesia Maju di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Jateng, Jumat (1/2/2019) sore.

“Sekali lagi, itu bukan etika Indonesia, bukan tata krama Indonesia, bukan nilai-nilai Islam, bukan nilai-nilai yang beradab,” sambung Jokowi, yang hadir di acara tersebut bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo.

Baca juga: Imbau Jemaahnya Pilih yang Terbaik, Ini Capres Pilihan Mbah Moen Rembang

Di awal sambutannya Jokowi mengingatkan bahwa bangsa kita ini adalah bangsa besar. Tantangan-tantangan yang dihadapi, menurutnya, juga tantangan-tantangan besar, karena memang negara Indonesia adalah negara besar.

Dia menyebutkan, penduduk kita sekarang sudah 260 juta, yang hidup di Pulau Jawa kurang lebih 149 juta, sisanya hidup di 17.000 pulau yang kita miliki.

Bangsa Indonesia, sambung Jokowi, juga dianugerahi oleh Allah SWT berbeda suku, berbeda agama, berbeda adat, berbeda tradisi, berbeda bahasa daerah.

Karena itu, dia mengajak semuanya untuk terus menjaga persatuan dan memelihara persaudaraan, serta terus merawat dan menjaga kerukunan.

“Persaudaraan, ukhuwah islamiah, ukhuwah wathaniyah di dalam bangsa yang besar seperti Indonesia ini sangat sangat penting sekali. Jangan sampai karena hal-hal kecil, karena perbedaan pilihan, baik dalam pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, maupun pilihan presiden, kita ini seperti tidak saudara sebangsa dan setanah air,” tuturnya.

Jokowi pun mengingatkan, yang namanya pemilu, baik pilkada, pileg, pilpres itu setiap lima tahun selalu ada, selalu ada.

Oleh karena itu, sebutnya, kalau ada pilihan bupati pilihannya ada 1/2/3/4 ya dilihat saja prestasinya apa, pengalamannya apa, programnya apa dilihat, gagasan-gagasan besarnya apa untuk daerahnya, ide-idenya apa untuk daerahnya, sudah, setelah itu bismillah, pilih.

“Eggak usah pakai ramai-ramai, pakai fitnah-fitnah, pakai saling mencela, pakai saling mengejek, pakai saling nyinyir, pakai saling menghina,” ujar Jokowi.

Menurutnya, hal itu bukan nilai-nilai agama yang dianut, itu bukan nilai-nilai islami, itu bukan nilai-nilai keindonesiaan. Bangsa Indonesia, imbuh Jokowi, memiliki etika, memiliki tata krama, memiliki sopan santun, dan memiliki budi pekerti. Acara Sarang Berzikir Bersama Untuk Indonesia Maju itu dihadiri pengasuh Ponpes Al Anwar, Rembang, K.H. Maimoen Zubair, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (goek)