SURABAYA – Parade Surabaya Juang tahun ini kembali digelar pada Minggu (6/11/2022), setelah dua tahun sebelumnya vacum gegara pagebluk Covid-19.
Warga tampak antusias menyaksikan peragaan pertempuran 10 November, serta Sumpah Pregolan yang terkenal dengan semboyan Merdeka Ataoe Mati di sepanjang Monumen Tugu Pahlawan hingga Balai Kota Surabaya.
Para peserta mengenakan berbagai kostum yang identik dengan pertempuran 10 November 1945 seperti pejuang, aparat keamanan, tentara sekutu hingga tim medis yang bersiaga.
Kondisi tersebut dibuat sedemikian rupa, sehingga begitu mirip dengan keadaan 77 tahun silam.

Sebelumnya peserta sudah berkumpul di pusat Kota Surabaya sejak pukul 06.00 WIB, dan acara kemudian dimulai satu jam kemudian atau pukul 07.00 WIB.
Berbeda dari dua tahun sebelumnya, Parade Surabaya Juang 2022 menampilkan Wali Kota Eri Cahyadi yang menunggangi kuda.
Eri didampingi oleh wakilnya yakni Armuji dengan pakaian ala pahlawan pada era itu.
Di Parade Surabaya Juang sebelumnya, Eri beserta perangkatnya menunggangi mobil Jeep atau kendaraan perang Anoa.

Kuda-kuda yang diikutkan dalam parade sendiri berasal dari Emporium Equestrian, Kota Surabaya, Jawa Timur.
Parade diawali dengan sejumlah kegiatan yang dipusatkan di kawasan Jalan Pahlawan. Beberapa yang ditampilkan seperti musik keroncong, mengheningkan cipta, teatrikal perang 10 November hingga pembacaan Sumpah Pregolan: Merdeka Ataoe Mati oleh Eri Cahyadi.
Selain itu, terdapat juga pembacaan puisi serta aksi teatrikal yang diikuti oleh sejumlah komunitas pemuda dan sejarah, baik dari Kota Surabaya hingga beberapa daerah di Indonesia. Turut terlibat artis Olivia Zalianty.
Adapun para peserta terdiri dari berbagai unsur, mulai dari organisasi kemasyarakatan, unsur TNI dan Polri, para perangkat daerah dari Pemkot dan masyarakat umum.

Di kesempatan tersebut, Eri mengatakan bahwa acara Parade Surabaya Juang menjadi momen persatuan untuk melawan penindasan kolonialisasi.
Hal ini tercermin dari para pahlawan yang berhasil membebaskan negara tanpa memandang suku, ras dan agama.
“Di mana pada saat itu semua para pahlawan berjuang tanpa pamrih. Tidak mengenal kasta, tidak mengenal suku, ras, dan agama,” beber Eri.
Di momen perebutan kemerdekaan itu, Kota Surabaya menjadi salah satu saksi bisunya. Di mana terjadi perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato yang kini berubah menjadi Majapahit, Jalan Tunjungan, Surabaya.

“Untuk itulah hari ini untuk mengenang darah para pahlawan, kita tundukkan kepala kita sejenak untuk berdoa agar para Pahlawan diberikan tempat paling mulia di sisi Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.
Meriahnya acara Parade Surabaya Juang 2022 turut dirasakan seorang warga Semolowaru, Kecamatan Sukolilo bernama Andri.
Dirinya mengaku senang bisa menyaksikan gelaran tersebut, setelah terhenti akibat pandemi Covid-19. Ia datang bersama suami dan anak-anaknya.
“Alhamdulillah, hari ini saya bersama suami dan anak-anak bisa melihat langsung Parade Surabaya Juang. Ini yang kedua kalinya saya melihat,” ucap Andri. (dhani/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










