Rabu
04 November 2026 | 8 : 49

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Seniman Kampanye Pelestarian Lingkungan Hidup

pdip jatim - bupati kanang dengan mbah kodok
pdip jatim - bupati kanang dengan mbah kodok
Bupati Ngawi, Budi Sulistyono dengan Mbah Kodok

PERINGATAN tasyakuran ‘kelahiran bayi kembar dampit’ pasangan beda alam, Peri Setyowati dan Ibnu Sukodok di Alas Begal, Kedunggalar, Ngawi, Minggu (7/6/2015) berlangsung hikmat. Seribuan lebih warga antusias menyaksikan prosesi selamatan bayi kembar dampit itu. Bupati Ngawi, Budi Sulistyono (Kanang) turut hadir dan berbaur bersama rakyat untuk jagong bayi.

Acara jagong bayi yang dipusatkan di kawasan Sendang Margo, Alas Begal, Ngawi itu digelar layaknya sebuah acara kenduri. Para penerima tamu berbusana beskap Jawa. Para tamu disuguhi nasi tumpeng. Juga disediakan kotak saweran bagi tetamu yang ingin menyumbang. Selain itu juga digelar berbagai ritual upacara dan kesenian hiburan.

Nampak di antara para tetamu adalah seniman-seniman sahabat Mbah Kodok. Mereka menarikan tarian jawa dan memainkan gamelan. Ada pula yang menyajikan ritual pembuatan keris lengkap dengan pandai besi dan rapal mantranya. Sebagian yang lain menyajikan tari-tarian rakyat dan pencak silat.

Warga desa pun tak ketinggalan, mereka menyumbangkan kesenian reyog. Di ujung acara, Bupati Kanang yang didampingi seniman Al Sastraw Ngatawi meminum air suci dari kendi yang diambil dari sumber Sendang Margo yang diberikan seorang tetua sebagai tanda syukur.

Mbah Kodok juga memotong tumpeng dan membagikannya pada anak-anak. Bupati beserta warga kemudian bersama-sama menyantap nasi tumpeng yang telah disediakan.

Dalam sambutannya, Bupati Kanang mengaku sangat bangga atas apa yang dia lihat di Sendang Margo siang itu.

“Ini sungguh seni kejadian yang luar biasa. Acara jagong bayi dihadiri wisatawan, para seniman, wartawan dan warga masyarakat. Bahkan para tamu dari luar negeri turut hadir. Laiknya ritual kehidupan manusia, nanti akan ada sunatan, mantu, dan seterusnya. Ini juga selaras dengan program yang dicanangkan pemkab Ngawi yaitu Visit Ngawi, ” tutur pria yang biasa disapa Mbah Kung itu.

“Mbah Kodok ini sangat luar biasa, menikahi peri lalu membangun hutan, menjaga mata air, dan mengajak masyarakat untuk lebih peduli kepada lingkungan alam,” kata pria yang juga Wakil Ketua Bidang Kehormatan Partai DPD PDI Perjuangan Jawa Timur itu.

Kanang juga menyerukan pada para ibu-ibu yang hadir agar mencontoh istri Mbah Kodok, “Ibu Peri Setyowati ini ingin punya rumah di tempat terbuka, dengan kesejukan udaranya, dengan air yang terus mengalir, dekat dengan alam dan mengajari anak-anak menjaga lingkungan. Ini bagus untuk dicontoh ibu-ibu,” kata dia.

“Nanti kami bersama jajaran pemda akan mempelajari bagaimana upaya konservasi mata air ini bisa ditindaklanjuti. Dulu sendang ini sangat vital fungsinya. Memang sudah saatnya kita coba gali lagi kemungkinan konservasi. Terimakasih Mas Bramantyo yang menggagas acara ini sehingga mengingatkan kita pada kearifan alam,” ujarnya.

Acara ini sendiri sesungguhnya adalah sekadar sebuah rangkaian seni kejadian (performing arts) yang digarap seniman Bramantyo Prijosusilo. Mulanya, setahun lalu tepatnya 8 Okt 2014 bertempat di desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi, digelar pernikahan Bagus Ibnu Sukodok (Mbah Kodok, 64 tahun) dan peri Roro Setyowati. Peri Setyowati adalah danyang penjaga mata air Sendang Margo dan Sendang Ngiyom.

Diceritakan, peri Setyowati sebenarnya tidak berasal dari Alas Ketonggo, tapi sedang berada di Alas Ketonggo karena sedang mencari bantuan karena rumahnya telah dirusak oleh manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab. Sejak orde baru lengser dan terjadi penjarahan kayu hutan, kedu mata air itu makin lama makin terlantar berkurang debit airnya. Peri Setyowati meminta syarat agar Sendhang Margo dan Sendang Ngiyom di Alas Begal, yang rusak itu diperbaiki.

Bramantyo mengungkapkan, tujuan dari pementasan seni ini sebenarnya adalah kampanye penyadaran pelestarian lingkungan hidup. Bram membuat legenda ini adalah utk membuat warga desa sadar untuk menjaga lingkungan hutannya.

“Dengan pendekatan seni budaya untuk memperbaiki lingkungan, masyarakat pelaku perusak lingkungan sadar dan kemudian berubah perilaku. Jadi tak perlu ada adu otot atau adu mulut seperti sengketa lahan kebanyakan,” pungkas dia. (sa)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Pilkades Serentak Jombang 2027 Diikuti 286 Desa, Komisi A DPRD Kawal Anggaran dan Regulasi

JOMBANG – Sebanyak 286 desa di Kabupaten Jombang direncanakan mengikuti Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak ...
KRONIK

Agus Wicaksono Buka KLIK DALAK di Lumajang, Tegaskan Investasi Harus Berdampak bagi Masyarakat

LUMAJANG – Wakil Ketua Komisi C DPRD Provinsi Jawa Timur, H. Agus Wicaksono, secara resmi membuka kegiatan Klinik ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Siapkan Intervensi Ekonomi di Kawasan Rawan Narkoba Surabaya

SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyiapkan intervensi ekonomi dan pemberdayaan UMKM di kawasan rawan ...
LEGISLATIF

Polemik Jam Operasional Pasar Buah Tanjungsari, Syaifuddin Zuhri Buka Peluang Revisi Perda

SURABAYA – Polemik pembatasan jam operasional Pasar Buah Tanjungsari mendorong DPRD Surabaya membuka peluang revisi ...
KRONIK

Kemiskinan Banyuwangi Terus Menyusut, 5 Tahun Turun dari 8,07 Jadi 5,6 Persen

BANYUWANGI – Upaya penanggulangan kemiskinan yang menjadi salah satu prioritas Bupati Banyuwangi, Ipuk ...
LEGISLATIF

Reses di Purwodadi, Eko Herdiyanto Soroti Kebutuhan Pompa Air untuk Atasi Banjir

MALANG – Kebutuhan pompa air untuk mengatasi genangan banjir di Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, menjadi ...