Kamis
08 Januari 2026 | 12 : 43

Risma: Kebutuhan Angkutan Massal Cepat Tak Bisa Ditunda

pdip jatim - ilustrasi MRT Surabaya

pdip jatim - ilustrasi MRT SurabayaSURABAYA – Wali Kota Tri Rismaharini menegaskan, kebutuhan transportasi angkutan massal cepat (AMC) sudah bersifat urgen dan tidak bisa ditunda lagi. Sebab, semakin lama volume kendaraan pribadi yang melintasi jalan-jalan di Kota Surabaya makin meningkat.

Menurut Risma, hal itu otomatis menambah beban jalan yang kian padat. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban pemerintah menyediakan alternatif sarana transportasi yang berkualitas.

Dia optimistis keberadaan trem tidak akan menambah parah kemacetan. Sebaliknya, dia berharap warga mau beralih dari kendaraan pribadi.

Asumsinya, selain menghindari kemacetan, kesadaran publik memanfaatkan transportasi umum juga erat kaitannya dengan kampanye ramah lingkungan. Pengeluaran bahan bakar minyak bisa ditekan plus udara lebih bersih karena jumlah kendaraan pribadi yang melintas di jalan berkurang.

“Trem itu lebarnya setara mobil minibus. Jadi tidak selebar gerbong kereta api. Dengan begitu, saya rasa tidak akan terlalu memakan banyak ruang,” kata Risma, di sela acara bertemu Menteri Perhubungan Ignasius Jonan di Stasiun Gubeng, Surabaya, Minggu (23/11/2014).

Sementara, Ignasius Jonan menargetkan groundbreaking (peletakan batu pertama) proyek transportasi AMC berupa trem diharapkan pada awal 2015.

Dia mengatakan, dengan alokasi anggaran di Kementerian Perhubungan, pihaknya akan melakukan re-aktivasi jalur-jalur trem yang sebelumnya pernah eksis. Tahun ini, anggaran yang tersedia sekitar Rp 200 miliar. Alokasi anggaran akan berlanjut pada tahun berikutnya.

Menurut Jonan, pihaknya dan Pemkot Surabaya juga sepakat bahwa operasional trem akan ditangani PT KAI. Sedangkan pemkot bakal menyiapkan subsidi kalau harga tiket nantinya dianggap terlalu tinggi.

“Dengan demikian, warga bisa menikmati trem dengan harga yang terjangkau. Untuk perkiraan harga tiket masih akan dibahas lebih detail,” jelasnya.

Jika tak ada kendala berarti, dalam dua hingga tiga tahun ke depan, warga Surabaya bisa memanfaatkan trem sebagai alternatif bertransportasi.

Sedang soal monorel, jelas Jonan, pelaksanaan pembangunan trem dan monorel hendaknya tidak dilakukan bersamaan. Sebab jika dibangun bersamaan, keruwetan di ruas jalan kemungkinan akan terjadi. “Terkait monorel kami serahkan kepada Ibu Wali Kota, enaknya bagaimana,” ucapnya. (pri/*)

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KLIPING MEDIA

Survei LSI Denny JA: 66% Responden Tak Setuju Usulan Pilkada Lewat DPRD

JAKARTA – Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei terkait usulan pemilihan kepala daerah ...
KABAR CABANG

Instruksi Mas Dhito kepada Banteng Kabupaten Kediri: Turun ke Akar Rumput, Gandeng Pemuda!

KEDIRI – Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, menginstruksikan seluruh struktur ...
LEGISLATIF

Edi Cahyo Purnomo Dorong Pengentasan Kemiskinan di Jember dari 2 Sektor

JEMBER – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jember Edi Cahyo Purnomo (ECP), mendorong pengentasan kemiskinan di ...
RUANG MERAH

Politik Kaum Muda

Oleh Muries Subiyantoro PADA pertengahan hingga akhir tahun 2025 lalu, muncul fenomena menarik yang patut dicermati ...
LEGISLATIF

Fraksi PDIP DPRD Jombang Rilis Kinerja 2025, Fokus Kawal Hak Rakyat

JOMBANG – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Jombang merilis laporan kinerja tahun 2025. Hal itu sebagai bentuk ...
LEGISLATIF

Dua Manfaat Ini Jadi Alasan DPRD Surabaya Dukung Kebijakan Parkir Nontunai

SURABAYA – Komisi C DPRD Surabaya menilai bahwa edukasi kepada juru parkir (jukir) menjadi kunci utama dalam ...