Minggu
08 November 2026 | 4 : 56

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Pak Tito, Saya Bukan Rossi

pdip-jatim-menulis-surat
pdip-jatim-menulis-surat

KAMIS sore minggu kedua bulan Juli, Mat Rafi bertandang ke rumah. Rautnya lusuh. Dia ingin meminta tolong pada saya. Setelah menyeruput kopi buatan istri saya, dia mengeluhkan bertele-telenya pembuatan SIM. Dia juga mengungkapkan kejengkelannya pada petugas ujian tulis yang sembrono.

Sembrono yang dimaksud Mat Rafi begini ceritanya: Mat Rafi’ memasukkan berkas SIM ke loket ujian tulis. Mat Rafi’ diminta menunggu di ruang tunggu. Di ruang tunggu Mat rafi’ berkumpul bersama para penunggu ujian tulis. Selama satu jam, tak ada peristiwa aneh atau ganjil. Para pembuat SIM seolah sudah mafhum dengan alur dan rutinitas ribet pembuatan SIM.

Peristiwa aneh itu timbul ketika seorang penunggu ujian tulis di sebelah Mat Rafi’ dipanggil. Keganjilan itu terletak pada ‘nomor-urut’. Peserta ujian yang datangnya di belakang Mat Rafi’, ternyata mendapatkan panggilan lebih dulu. Mat Rafi’ clingak-clinguk namanya tak kunjung dipanggil. Mat Rafi’ penasaran, “jangan-jangan berkasnya ketelisut?”

Mat Rafi’ mengonfirmasi petugas pengumpulan berkas. Seorang lelaki, dengan senyum lebar meminta Mat Rafi’ untuk bersabar. “Nanti,” tutur petugas itu dengan nada renyah, “nama Mas akan dipanggil juga. Namanya antri, ya harus sabar, Mas.”

Mat Rafi’ sepakat dengan permintaan petugas pengumpul berkas. Mat Rafi’ kembali duduk di ruang tunggu. Di ruang tunggu Mat Rafi’ bertemu dengan penunggu yang baru.

Di sini, kejengkelan itu itu menguat dan tak bisa ditahan. Penunggu baru itu ternyata juga menyalip Mat Rafi’. Mat Rafi’ sedikit berang. Dia meminta petugas pengumpul berkas untuk memberi penjelasan. Petugas pengumpul berkas masuk ke ruang ujian tulis.

“Sebentar lagi Mas,” petugas pengumpul berkas mengucapkan kalimatnya kali ini tanpa disertai senyum.

“Tapi bukan itu yang ingin saya minta tolong,” potong Mat Rafi’ pada cerita kejengkelannya. Mat Rafi’ kemudian beralih pada cerita ujian praktiknya. Konon, Kamis itu Mat Rafi’ mengikuti ujian praktik SIM bersama sembilan pemohon SIM. Semua pemohon SIM itu “gugur”, dan diminta kembali satu minggu berikutnya.

“Saya kira, sulit untuk bisa lolos ujian praktik.” dengan nada bersungut-sungut Mat Rafi’ mengajak taruhan, “Saya berani bertaruh. Hanya orang-orang terlatih yang bisa lolos. Rossi pun belum tentu bisa lolos.”

“Kok bisa?” potong saya, “silakan sambil diminum kopinya, Mas.”

“Kami diminta untuk mengitari lingkaran besar angka delapan. Itu masih biasa. Lalu kami diminta untuk melalui jejeran kayu balok dengan sepanjang sepeda motor. Kami diminta untuk bisa meliuk-liuk. Hanya orang terlatih yang bisa melakukannya.”

“Mat Rafi’ kan terlatih?” sela saya sambil tertawa.

“Kalau petugasnya sih bisa. Masak iya, saya harus berlatih meliuk-liuk? Padahal saya menggunakan sepeda motor tidak meliuk-liuk. Saya hanya pergi ke gudang, lurus saja. Sudah. SIM itu saya butuhkan kalau istri mau jalan-jalan ke kota. Di kota, saya tidak perlu meliuk-liuk.”

“Lalu, apa yang bisa saya lakukan buat sampeyan, Mas?”

“Buatkan saya surat. Surat untuk Pak Kapolri.”

Saya ingin tertawa. Tapi mengingat perasaan Mat Rafi’, saya menahannya. Sebenarnya Mat Rafi’ bisa menulis sendiri surat Pak Kapolri. Dia minta tolong saya dengan alasan saya menjadi saksi atas surat yang ditulisnya. Isi surat Mat Rafi’ sebenarnya tidak begitu panjang atau berbuncah-buncang dengan kata. Dia hanya menulis dua paragraf singkat-padat-lugas. Begini isi suratnya,

 

Pak Tito

Saya Mat Rafi’. Saya ingin mengatakan, tolong ujian praktik SIM yang praktis dan bisa diterima serta bisa dilakukan dengan kemampuan pemohon SIM pada umumnya. Pekerjaan saya seorang satpam di perusahaan kecil-kecilan. Saya naik sepeda motor dengan rute lurus dan pelan-pelan. Sedangkan ujian praktik SIM itu berliku-liku dan sulit buat orang yang tidak terlatih seperti saya.

 

Pak Tito,

Saya bukan Rossi. Dan tak ingin seperti Rossi. Cukup Rossi yang menyandang sebagai raja tikungan.

 

Salam,

Mat Rafi’

 

Selesai menuliskan surat Mat Rafi’ saya kembali ingin tertawa. Pertama, saya tidak yakin Mat Rafi’ akan mengirimkan surat itu pada Pak Kapolri. Mat Rafi’, selain orangnya hangat-hangat tahi ayam, dikenal pelupa. Kedua, saya tidak yakin surat itu akan sampai pada Pak Kapolri. Mat Rafi’ akan mengirimkannya dengan penerima dan alamat yang kurang meyakinkan: Kepada Kepala Polisi Republik Indonesia, di Mabes Polri. Ketiga, saya tidak yakin, Pak Kapolri akan menanggapi surat Mat Rafi’. Entah kenapa? Saya hanya tidak yakin saja.

 

*Setapu, esais dan penikmat seni, tinggal di Bangkalan

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Dua SK LP2B Pernah Bernomor Sama, DPRD Jember Pertanyakan Dokumen Terbaru

JEMBER – Perubahan data Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kabupaten Jember kembali dipersoalkan DPRD. ...
LEGISLATIF

Yuzar Rasyid Dorong Dukungan untuk Ormas Keagamaan, Muslimat NU Perkuat Pendidikan Perempuan

KEDIRI — Anggota DPRD Kota Kediri, Yuzar Rasyid, mendorong pemerintah meningkatkan dukungan terhadap organisasi ...
KRONIK

Soekarno Run Blitar Tembus 5.000 Pelari, Hotel Penuh dan UMKM Ikut Bergerak

BLITAR — Soekarno Run Blitar 2026 melampaui target awal 4.200 peserta. Antusiasme masyarakat membuat jumlah pelari ...
KRONIK

Pagelaran Campursari Tombo Ati Bojonegoro, Merawat Seni Tradisi dan Penggerak Ekonomi

BOJONEGORO – Alunan musik campursari dan gelak tawa warga membahana di Lapangan Desa Sambongrejo, Kecamatan ...
KRONIK

Soekarno Run Lewati Istana Gebang dan Makam Bung Karno, Eri Cahyadi: Tanamkan Semangat Berdikari

BLITAR — Lintasan Soekarno Run 2026 yang melewati kawasan Istana Gebang dan Makam Bung Karno bukan sekadar rute ...
KRONIK

Candra PDIP Dorong Watu Ulo Jadi Penggerak Ekonomi, Bukan Sekadar Destinasi Wisata

JEMBER – Potensi wisata bahari Pantai Watu Ulo, Kecamatan Ambulu, dinilai belum tergarap maksimal untuk ...