TIDAK ada seorang pun yang tahu, siapa di antara sekitar 400 anak yang akan berlari di lapangan hijau Jawa Timur pada 10–24 Agustus 2026 kelak mengenakan seragam Tim Nasional Indonesia.
Mungkin ada yang datang dari Papua. Ada yang menempuh perjalanan panjang dari Sumatera Utara. Ada pula yang berangkat dari pelosok Jambi, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Jawa.
Mereka datang membawa tas, sepatu, dan mimpi yang sama.
Menjadi pesepak bola.
Bagi sebagian orang, Soekarno Cup 2026 mungkin hanya sebuah turnamen sepak bola usia 17 tahun. Ada jadwal pertandingan, perebutan gelar juara, lalu selesai.
Padahal, jika dilihat lebih dalam, turnamen ini sedang berusaha mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menentukan siapa yang mengangkat piala.
Yang sedang dibangun adalah sebuah ekosistem.
***
Selama bertahun-tahun, sepak bola Indonesia kerap menghadapi persoalan yang sama. Talenta muda sebenarnya melimpah. Hampir setiap daerah memiliki anak-anak berbakat yang bermain dengan penuh semangat di lapangan desa, sekolah, maupun sekolah sepak bola.
Namun, tidak semua memiliki kesempatan bertanding secara rutin dalam kompetisi yang berkualitas.
Banyak bakat berhenti sebelum berkembang.
Bukan karena tidak mampu bermain, melainkan karena minim ruang untuk bertumbuh.
Di titik itulah Soekarno Cup mencoba mengambil peran.
Bukan menggantikan kompetisi resmi seperti Piala Soeratin atau Elite Pro Academy, melainkan melengkapinya. Memberikan ruang bertemu bagi pemain-pemain muda dari berbagai penjuru Indonesia agar mereka saling mengukur kemampuan, belajar menghadapi tekanan pertandingan, sekaligus membangun mental bertanding.
Sebab pembinaan tidak pernah selesai hanya dengan latihan.
Seorang pemain tumbuh karena kompetisi.
***
Pengarah Panitia Soekarno Cup 2026, Deni Wicaksono, menyebut target utama penyelenggaraan tahun ini bukan sekadar sukses menggelar pertandingan.
Ada target yang lebih panjang.
Meninggalkan warisan berupa semakin kuatnya ekosistem pembinaan sepak bola usia muda Indonesia.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Namun sesungguhnya di sanalah letak perbedaan antara sebuah event dan sebuah gerakan.
Event selesai ketika peluit panjang dibunyikan.
Gerakan justru baru dimulai setelah turnamen berakhir.
Warisan itulah yang ingin ditinggalkan.
Bahwa setiap daerah memiliki alasan untuk terus membina pemain mudanya.
Bahwa setiap pelatih mempunyai panggung untuk mengukur hasil pembinaannya.

Dan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi.
***
Semangat itu pula yang tampak ketika panitia memutuskan melibatkan wasit perempuan dan perangkat pertandingan perempuan.
Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin hanya soal teknis.
Padahal maknanya jauh lebih besar.
Sepak bola sedang mengirim pesan bahwa kesempatan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kompetensi.
Lapangan hijau menjadi ruang meritokrasi.
Siapa yang mampu, dia diberi kepercayaan.
Nilai itu sesungguhnya sejalan dengan cita-cita membangun olahraga yang inklusif dan profesional.
***
Tidak berlebihan jika Soekarno Cup kemudian dikaitkan dengan gagasan Bung Karno tentang nation and character building.
Bagi Presiden pertama Republik Indonesia itu, olahraga tidak pernah hanya berbicara tentang menang atau kalah.
Olahraga adalah sarana membentuk manusia Indonesia.
Disiplin.
Sportif.
Berani bersaing.
Menghargai lawan.
Mampu bekerja sama.
Dan mencintai bangsanya.
Karena itu, keberhasilan sebuah turnamen tidak cukup diukur dari megahnya pembukaan atau ramainya penonton.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah turnamen selesai lahir lebih banyak anak yang mencintai sepak bola, lebih banyak pelatih yang terdorong membina pemain muda, dan lebih banyak daerah yang serius membangun pembinaan usia dini.
***
Mungkin sepuluh atau lima belas tahun lagi, salah satu pemain Tim Nasional Indonesia berdiri tegak menyanyikan “Indonesia Raya” di sebuah stadion besar.
Kita akan mengingat gol yang dicetaknya.
Kita akan mengingat kemenangan yang dipersembahkannya.
Tetapi barangkali kita lupa bahwa perjalanan itu tidak dimulai ketika ia mengenakan seragam Garuda.
Perjalanan itu dimulai jauh sebelumnya.
Dari lapangan sederhana.
Dari pelatih yang sabar.
Dari kompetisi yang memberinya kesempatan bermain.
Mungkin…
Dari sebuah turnamen bernama Soekarno Cup. (*)
Oleh: Priyanto
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












