Jumat
31 Juli 2026 | 11 : 53

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Di Istana Gebang, Seniman-Budayawan Menitipkan Tawa dan Tangis Mereka

pdip jatim 260617 seniman blitar 1

Renovasi Istana Gebang di Kota Blitar disambut antusias para pelaku seni dan budayawan. Bagi mereka, rumah masa kecil Bung Karno bukan sekadar situs sejarah, melainkan ruang hidup yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berkarya, belajar, dan merawat kebudayaan.

BLITAR — Ada bangunan yang hanya menjadi tempat singgah. Ada pula bangunan yang perlahan berubah menjadi rumah bagi kenangan banyak orang.

Bagi Dini dan kawan-kawannya, Istana Gebang bukan sekadar rumah masa kecil Bung Karno. Bukan pula hanya bangunan tua yang berdiri teduh di sudut Kota Blitar.

Tempat itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.

Lima tahun terakhir, hampir setiap Rabu, langkah mereka selalu mengarah ke halaman Istana Gebang. Tidak membawa spanduk. Tidak membawa proposal kegiatan. Mereka hanya membawa tubuh, semangat, dan kecintaan pada seni.

Di sana mereka menari.

Di bawah rindangnya pepohonan dan dinding yang menyimpan jejak masa kecil Sang Proklamator, gerak demi gerak dilatih berulang kali. Kadang disertai tawa. Kadang pula ditemani rasa lelah yang tak terlihat orang lain.

Baca juga: Resmikan Istana Gebang, Megawati Ajak Generasi Muda Memahami Sejarah Perjuangan Bangsa

“Kami latihan olah tubuh di sini. Salah satunya dengan menari,” tutur Dini, anggota Komunitas Kain dan Kebaya Indonesia, usai mengikuti peresmian hasil renovasi Istana Gebang, Senin (15/6/2026).

Bagi sebagian orang, Istana Gebang mungkin hanya destinasi sejarah.

Namun bagi para pelaku seni, tempat itu adalah ruang hidup.

Dari halaman itulah mereka berangkat mengikuti berbagai pertunjukan di sejumlah daerah di Jawa Timur. Karya-karya yang lahir dari latihan sederhana di Istana Gebang kemudian ditonton banyak orang.

Karena itu, ketika kawasan tersebut selesai direnovasi, rasa syukur mereka terasa begitu tulus.

Mereka melihat tempat yang selama ini dicintai tampil lebih rapi, lebih luas, dan lebih nyaman.

“Senang sekali. Tampak lebih indah dan lebih nyaman,” ujar Dini dengan mata berbinar.

***

Cerita serupa datang dari Kukuh Andri.

Bagi anggota Sanggar Budaya Patrialoka itu, Istana Gebang bukan hanya tempat berlatih. Ia adalah saksi perjalanan sebuah komunitas seni yang tumbuh dari nol.

“Sanggar ini lahir dari Istana Gebang,” katanya pelan.

Kalimat itu sederhana. Namun di baliknya tersimpan perjalanan panjang.

Ada hari-hari ketika latihan berlangsung hingga senja. Ada pertunjukan yang sukses membuat bangga. Ada pula kegagalan yang mengajarkan keteguhan.

Semuanya terjadi di tempat yang sama.

Istana Gebang menyaksikan para seniman muda datang dengan mimpi-mimpi kecil, lalu perlahan tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.

“Banyak cerita, banyak pencapaian, banyak tawa dan tangis yang disaksikan Istana Gebang,” ujar Kukuh.

Karena itu, melihat bangunan bersejarah tersebut kini tampil lebih terawat menghadirkan kebanggaan tersendiri.

Bukan semata karena temboknya diperindah atau kawasannya ditata ulang.

Melainkan karena ruang yang selama ini menjadi rumah kebudayaan itu mendapat perhatian untuk terus hidup.

***

Di banyak kota, bangunan bersejarah sering kali hanya menjadi objek foto.

Orang datang, berpose, lalu pergi.

Tetapi Istana Gebang memiliki cerita berbeda.

Di tempat itu, sejarah tidak hanya dipajang di balik kaca.

Ia hidup bersama suara gamelan, langkah para penari, diskusi kebudayaan, hingga tawa anak-anak muda yang belajar mencintai warisan bangsanya.

Karena itulah renovasi Istana Gebang disambut hangat para budayawan.

Mereka melihatnya bukan sekadar proyek pembangunan.

Melainkan ikhtiar menjaga agar ruang sejarah tetap memiliki denyut kehidupan.

Agar rumah masa kecil Bung Karno tidak hanya menjadi tempat mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi ruang tempat generasi hari ini bertumbuh.

Tempat sejarah bertemu seni.

Tempat kenangan bertemu harapan.

Dan tempat tawa serta tangis para pelaku budaya terus menemukan rumahnya. (yols/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

SEMENTARA ITU...

Tantri Bararoh: Buzzer dan Serangan Pribadi di Medsos Jadi Ancaman Baru Demokrasi

Tantri Bararoh mengingatkan buzzer, hoaks, dan serangan pribadi di media sosial menjadi ancaman baru demokrasi ...
LEGISLATIF

DPRD Surabaya Komitmen Kawal Kebijakan dan Anggaran untuk Keberlanjutan Kebun Raya Mangrove

DPRD Kota Surabaya berkomitmen mengawal kebijakan dan anggaran untuk pengembangan Kebun Raya Mangrove sebagai model ...
LEGISLATIF

Serap Aspirasi di Bangilan Tuban, Ony Setiawan Tampung Keluhan Petani hingga Gen Z

TUBAN–Reses masa persidangan III Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Fraksi PDI Perjuangan, Ony Setiawan di Dusun ...
LEGISLATIF

Diana Sasa Serap Aspirasi Warga Ngawi, Jalan Rusak hingga Kekeringan Jadi Sorotan

NGAWI – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Diana AV Sasa, memanfaatkan masa reses untuk menyerap ...
KRONIK

Titik Impas Harga Tembakau 2026 Naik, Bupati Fauzi: Keberpihakan kepada Petani

SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep resmi menetapkan Titik Impas Harga Tembakau (TIHT) musim panen 2026 ...
LEGISLATIF

DPC PDIP Kabupaten Kediri Kawal Aspirasi Pengemudi Ojol hingga Tingkat Pusat

KEDIRI – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kediri menegaskan komitmennya mengawal aspirasi para pengemudi ojek online ...