Jumat
16 Oktober 2026 | 12 : 12

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Developer di Gresik Tak Sediakan Lahan Makam Terancam Sanksi

IMG-20260914-WA0021

GRESIK – Pengelolaan pemakaman menjadi perhatian serius wakil rakyat kabupaten Gresik. Pasalnya, perumahan kian menjamur di Kota Pudak, sementara lahan pemakaman semakin terbatas.

Sorotan itu muncul saat Anggota DPRD Gresik Noto Utomo saat menyosialisasikan Perda Kabupaten Gresik Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Pemakaman di kediamannya, Desa Melirang, Kecamatan Bungah.

Noto Utomo menyebut untuk perumahan tidak bersusun, pengembang diwajibkan menyediakan lahan pemakaman minimal 2 persen dari luas lahan perumahan. Sedangkan untuk perumahan bersusun, kewajibannya sebesar 2 meter persegi untuk setiap unit hunian.

“Lokasi pemakaman juga harus tercantum dalam sistem plan dan sesuai tata ruang,” ujar politisi PDI Perjuangan Gresik tersebut, Senin (149/2026).

Noto menyampaikan, Perda 2 tahun 2026 ini sangat penting karena pertumbuhan penduduk Gresik terus meningkat, sementara lahan pemakaman semakin terbatas. Pemerintah daerah dituntut memastikan ketersediaan makam yang layak, tertata, dan berkelanjutan.

“Perda ini juga memberikan opsi bagi pengembang yang tidak menyediakan lahan di dalam kawasan untuk menyiapkan lokasi pengganti atau dana penyediaan lahan pemakaman sesuai ketentuan,” ungkapnya.

Senada disampaikan Anggota DPRD Gresik Elvita Yuliati, dalam sosialisasi Perda tersebut banyak konstituen yang membahas lahan pemakaman. Mengingat wilayah perkotaan padat penduduk dan lahan pemakaman terbatas.

Pihaknya berharap, adanya Perda tersebut masyarakat selain memahami aturan juga terlibat langsung mengawasi pertumbuhan perumahan di kabupaten Gresik. Pasalnya Perda tidak hanya mengatur kewajiban, tetapi juga menetapkan larangan dan sanksi.

Pengelolaan pemakaman tanpa izin, memindahtangankan izin tanpa persetujuan pemerintah daerah, memakamkan jenazah di tempat yang tidak ditentukan, mendirikan bangunan permanen di TPU, hingga mengubah fungsi makam termasuk perbuatan yang dilarang.

“Pelanggaran dapat dikenai sanksi administratif berupa teguran lisan, teguran tertulis, penghentian kegiatan, pencabutan izin, dan/atau denda administratif. Sanksi tersebut tidak menghapus kewajiban pemulihan maupun kemungkinan penerapan sanksi pidana apabila memenuhi ketentuan,” terang Vetti sapaan akrabnya.

Dengan adanya sosialisasi ini, pemahaman terhadap Perda diharapkan semakin luas, khususnya terkait kewajiban pemerintah, pengelola pemakaman, masyarakat, dan pengembang perumahan.

“Sebab, pembangunan perumahan bukan hanya soal menyediakan rumah untuk warga. Ketersediaan ruang pemakaman juga menjadi bagian dari kebutuhan kawasan yang harus direncanakan sejak awal,” pungkasnya.(mus/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Antrean BBM Meluas di Jember, Widarto Kritik Pertamina Tak Transparan

JEMBER – Antrean panjang di sejumlah SPBU Jember belum terjawab penyebabnya. Wakil Ketua DPRD Jember, Widarto, ...
LEGISLATIF

Keluhan Warga Barat Magetan Tertumpah di Pertemuan Reses Rita Haryati

MAGETAN – Sejumlah warga dari pelbagai desa di Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengeluhkan kondisi ...
LEGISLATIF

Beri Bantuan Air Bersih di Kaligede Ngawi, Kanang Temukan Pompa Sumur Terkendala Daya Listrik

NGAWI – Musim kemarau panjang memicu kekeringan parah di Kabupaten Ngawi. Berdasarkan data Badan Penanggulangan ...
EKSEKUTIF

Bupati Yani dan PMI Gresik Apresiasi Pendonor Darah yang Telah Donor 50 Kali

GRESIK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Gresik memberikan ...
LEGISLATIF

Deni Wicaksono Ajak Warga Panggul Trenggalek Jaga Hutan dan Sumber Air

TRENGGALEK – Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Deni Wicaksono mengajak masyarakat Kecamatan Panggul, Kabupaten ...
KRONIK

Sasar Panggung Dunia, Gandrung Sewu 2026 Usung Konsep Baru

BANYUWANGI – Pagelaran Gandrung Sewu 2026 yang memasuki tahun ke-14 ditargetkan menyasar panggung dunia. Agenda ...