Minggu
03 Mei 2026 | 1 : 29

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Kartini yang Bekerja

PDIP-Jatim-Mahendra-Cipta-01022026

Oleh Mahendra Cipta

DALAM kosmologi Madura, konsep tentang perempuan dan semangat Kartini (emansipasi/pendidikan) tidak berdiri di ruang hampa. Ia berinteraksi dengan struktur sosial yang sangat spesifik, lake-bini (suami-istri), di mana nilai-nilai kearifan lokal seperti ‘lalake’ alandu’  bebini’ ngare’ (lelaki mencangkul perempuan nyabit rumput) sebagai konsep keseimbangan dan peran sentral perempuan dalam ruang domestik sosial ekonomi menjadi landasannya.

Bekerja (alako) dijadikan sebagai ukuran dalam memandang keseimbangan dalam rumah tangga. Sama-sama bekerja, baik dalam ruang domistik maupun publik, menjadi sebuah keniscayaan. Maka orang yang rajin bekerja di sebut cakang. Sehingga muncul ungkapan ‘ja’ abini/alake reng momos‘ (jangan menikah dengan (lelaki/perempuan) pemalas). Sebab mereka percaya orang Madura adalah para pekerja keras, walaupun konsep ini tidak hanya bagi laki-laki begitupun permpuan.

Cakang (pekerja keras) sebuah konsepsi ideal manusia Madura sang pejuang kehidupan, berjibaku dengan alam, tandus dan bebatuan karst, juga di dapur dan ranjang adalah kosmologi kehidupan madura yang kompleks.

Secara teoretis, Kartini dalam konsep kosmologi perempuan Madura bisa dilihat dalam struktur berpikir masyarakatnya. Misalnya, terdapat dualitas yang saling melengkapi (complementary duality). Jika laki-laki sering diidentikkan dengan dunia luar (merantau, ka saba, namoy, nananggha), maka perempuan adalah pusat dari dunia dalam patogu, dhangka (rumah/inti keluarga, rahim).

Dalam pandangan teori alako, orang cakang (keseimbangan): perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan pemegang kendali stabilitas rumah tangga. Dalam kosmologi ini, semangat Kartini diterjemahkan sebagai kemandirian mental, kekuatan ekonomi.

Filosofi ‘rampa’ naong, beringin korong‘ ternyata tidak hanya untuk penguasa, tetapi juga sebagai keberadaan perempuan yang teredukasi – seperti cita-cita Kartini- dipandang sebagai pengayom. Perempuan adalah beringin yang mengayomi keluarganya. Rumah akan damai, jika istrinya orang se bagus atena (baik hatinya). Sehingga dia bisa dijadikan sebagai sebenar-benarnya roma (rumah).

Laki-laki Madura sering melihat ibu atau istri sebagai figur yang memberikan naong (teduh) bagi keluarga. Karena itu, konsep toron (pulang) dalam tradisi merantau juga berarti pulang ke pangkuan ibu.

Praktik dalam kehidupan sosial, mmplementasi semangat Kartini dalam masyarakat Madura memiliki karakteristik yang unik dibandingkan dengan wilayah lain di pulau Jawa. Pertama, penguasaan sektor ekonomi (pasar). Praktik emansipasi di Madura justru terlihat sangat kuat di sektor ekonomi publik. Seperti pasar-pasar tradisional di Madura didominasi oleh perempuan (bhalejja, berjualan).

Perempuan Madura memiliki otonomi tinggi dalam mengelola keuangan keluarga. Ini adalah bentuk “Kartini yang membumi,” di mana akses pendidikan dan kemandirian ekonomi berjalan beriringan dengan identitas kultural mereka (perempuan). Perempuan adalah madrasah pertama, yang menurunkan watak dan kelanjutan kebaikan keluarga.

Kedua, matrifokalitas dalam ruang domestik. Meski budaya Madura tampak patriarkal di permukaan (karena penghormatan pada sosok kiai atau bapak), secara sosiologis ia bersifat ‘matrifokal’. Dalam pengambilan keputusan-keputusan penting dalam keluarga, termasuk urusan pendidikan anak dan pernikahan, sering kali berpusat pada pertimbangan ibu. Semangat Kartini di sini muncul dalam bentuk kecerdasan emosional dan manajerial perempuan dalam menjaga marwah keluarga. Itulah  peran prempuan yang menentukan kebaikan buat anak dan keluarganya.

Ketiga, pendidikan dan relasi santri. Dalam konteks masyarakat agamis-santri, sosok Kartini dipadukan dengan nilai-nilai religius. Bagaimana kemudian pemahaman agama dalam memandang perempuan, khususnya pesantren, ikut mendorong proses pendidikan di wilayah pesantren. Tercatat, ada banyak tokoh nyai yang ikut mendirikan lembaga-lembaga pendidikan bagi perempuan.

Munculnya nyai (istri kiai) yang mengelola pesantren putri adalah bukti nyata teori pendidikan Kartini yang teraktualisasi. Perempuan tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga organisasi dan pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana dengan perempuan Madura di era saat ini? Saat ini, praktik kosmologi ini mengalami pergeseran sekaligus penguatan. Dalam ranah pendidikan, semakin meningkatnya jumlah sarjana perempuan dari Madura yang tetap memegang teguh etika kesantunan (andhap asor). Juga memegang sektor-sektor penting di ruang publik, baik guru, pegawai negeri atau pengasuh lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan.

Di ruang-ruang sosial budaya, munculnya komunitas pemberdayaan perempuan berbasis pesisir atau pertanian dan kerajinan – seperti perempuan tani berdaya, gerabah dan pembatik- yang mandiri secara finansial. Di ranah politik, keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan lokal tanpa meninggalkan identitas sebagai “penjaga” nilai keluarga.

Secara dramaturgis, jika di Analisis secara ketubuhan dan identitas, tubuh perempuan Madura dalam kehidupan sosial adalah simbol ketangguhan sekaligus keanggunan. Penggunaan ‘kebaya’ atau ‘sarung’ bukan sekadar pakaian, melainkan representasi dari disiplin diri dan penghormatan terhadap tubuh dan identitas dalam ruang publik.

Akhirnya, Kartini dalam kosmologi Madura adalah ‘Kartini yang membumi’ dan bekerja’. Ia tidak hanya berwacana tentang hak, tetapi mempraktikkannya melalui kemandirian dirinya dalam peraktik ekonomi melalui kepenguasaannya di pasar, kepemimpinan spiritual di pesantren dan otoritas domestik di rumah.

Emansipasi di Madura tidak bertujuan memisahkan diri dari struktur sosial, melainkan memperkuat struktur tersebut melalui peran perempuan yang berdaya secara mental dan ekonomi dalam keluarga. Tabik!

Language theatre Indonesia, April 2026

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

RUANG MERAH

Kartini yang Bekerja

Oleh Mahendra Cipta DALAM kosmologi Madura, konsep tentang perempuan dan semangat Kartini (emansipasi/pendidikan) ...
KRONIK

Sonny Tinjau Pantai Bimo Banyuwangi, Soroti Sampah Pesisir dan Dorong Wisata Fishing Center

BANYUWANGI – Anggota DPR RI Komisi IV, Sonny T. Danaparamita, melakukan kunjungan serap aspirasi ke kawasan pesisir ...
LEGISLATIF

Untari Dorong Kejar Paket A, B, C untuk Tingkatkan Lama Sekolah di Jatim

Sri Untari dorong program kejar paket A, B, C untuk tingkatkan lama sekolah di Jawa Timur yang masih 13,44 tahun. ...
EKSEKUTIF

Bupati Rijanto Apresiasi Peran Pesantren Al Ma’arif Udanawu Cetak Generasi Berkarakter

Bupati Blitar Rijanto apresiasi MA Ma’arif Udanawu dan Ponpes Al Ma’arif dalam mencetak generasi berkarakter dan ...
HEADLINE

Hardiknas 2026, Deni Wicaksono Soroti Ketimpangan Pendidikan dan Tantangan Digital di Jatim

Deni Wicaksono soroti ketimpangan pendidikan dan tantangan digital di Jawa Timur pada Hardiknas 2026. SURABAYA — ...
KABAR CABANG

Dialog Dengan KPU, DPC Tulungagung Tekankan Pendidikan Demokrasi bagi Gen Z dan Pemilu Bersih

TULUNGAGUNG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung menekan pentingnya pendidikan ...