SURABAYA – Malam ke-27 Ramadan turun dengan suasana yang lebih hening dari biasanya.
Di antara doa-doa yang dipanjatkan dan langkah-langkah yang tertata pelan, rombongan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur menapaki jejak para wali—mengakhiri rangkaian kegiatan Ramadan 1447 H dengan ziarah yang sarat makna.
Perjalanan itu dimulai dari kawasan makam Sunan Bungkul, lalu berlanjut hingga kompleks makam Sunan Ampel. Bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga menelusuri jejak sejarah dakwah yang telah membentuk nilai-nilai kehidupan masyarakat hingga hari ini.
Di setiap pusara, doa dilangitkan. Nama-nama para ulama dan wali dikenang, bukan hanya sebagai tokoh masa lalu, tetapi sebagai sumber teladan tentang ketulusan, perjuangan, dan pengabdian.
Kegiatan tersebut dipimpin jajaran pengurus partai, termasuk Wakil Ketua Bidang Keagamaan dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa DPD PDIP Jatim, KH Abdul Wahab Yahya atau Gus Wahab.

“Tepat malam 27 kemarin menjadi akhir rangkaian agenda kegiatan Ramadan kami. Kami melakukan ziarah dari Mbah Bungkul hingga Sunan Ampel,” ungkap Gus Wahab, Rabu (18/3/2026).
Usai ziarah, rangkaian ibadah dilanjutkan di masjid kawasan Ampel. Malam yang diyakini penuh keberkahan itu dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Kami mengirim doa untuk para sunan, lalu melanjutkan ibadah malam 27 di masjid komplek makam Sunan Ampel,” katanya.
Namun, makna Ramadan tidak berhenti pada ibadah spiritual semata. Di sekitar kawasan tersebut, kader partai juga membagikan paket sembako kepada masyarakat—sebuah bentuk sederhana dari kepedulian yang ingin terus dijaga.
Di tangan-tangan warga yang menerima, bantuan itu mungkin tak seberapa. Namun, di baliknya tersimpan pesan bahwa kebersamaan dan solidaritas tetap hidup di tengah masyarakat.

“Selanjutnya kami membagikan sembako untuk masyarakat sekitar. Kami berharap apa yang kami bagikan selama Ramadan ini dapat bermanfaat,” ucapnya.
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, rangkaian kegiatan ini menjadi penanda bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang berbagi dan merawat kepedulian.
Di ujung perjalanan itu, harapan pun disampaikan—agar kemenangan yang diraih bukan hanya bersifat personal, tetapi juga dirasakan bersama.
“Kami ingin seluruh masyarakat dapat meraih kemenangan dan kebahagiaan bersama saat Hari Raya besok,” pungkasnya.
Malam ke-27 pun berlalu, meninggalkan jejak doa, langkah ziarah, dan semangat berbagi—sebagai penutup Ramadan yang tidak hanya khusyuk, tetapi juga penuh makna. (yolan/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










