Sabtu
30 Mei 2026 | 6 : 44

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

MBG Ramadan di Ngawi Diprotes Netizen, Agung Rezkina Minta SPPG Perbaiki Kualitas Menu

IMG-20260225-WA0025_copy_711x486

NGAWI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan di Kabupaten Ngawi menjadi sasaran kritik tajam netizen. Bukannya memberikan asupan nutrisi yang ideal untuk berbuka puasa, paket makanan yang dibagikan sejumlah Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) dinilai asal-asalan dan tidak memenuhi standar kelayakan.

Sejak hari pertama masuk sekolah di bulan Ramadan, Senin (22/2/2026), para siswa menerima paket MBG dalam bentuk menu kering untuk dibawa pulang. Namun, unggahan foto dan video dari orang tua murid di media sosial justru memicu gelombang protes.

Salah seorang netizen di grup Facebook Ngawi mengunggah foto paket berisi sepotong roti wijen, satu buah pisang, dan sebungkus kecil abon ayam.

“Pak Bupati Ngawi, tolong diperhatikan MBG bujet Rp 15.000 dapatnya kayak gini, apa cuma buat ajang korupsi doang?” tulis akun tersebut.

Keluhan serupa muncul dari wilayah Kecamatan Paron. Seorang guru yang enggan disebutkan namanya mengunggah menu yang terdiri dari satu buah apel hijau kecil, ketela panggang, dan sebutir telur. Menu-menu tersebut dianggap jauh dari standar protein dan gizi yang dijanjikan pemerintah.

Menanggapi hal ini, anggota DPRD Kabupaten Ngawi, Agung Rezkina Pramesti, menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, program yang bertujuan untuk pemenuhan gizi anak ini tidak boleh dijalankan “asal jalan” tanpa memperhatikan kualitas.

“Jujur sedih ketika melihat foto MBG yang beredar. Bisa dikatakan bergizi jika mengandung unsur protein nabati, hewani, karbohidrat, sayur, dan buah. Dengan postingan yang beredar, itu sangat jauh dari kategori bergizi,” tegas Agung, Rabu (25/2/2026).

Evaluasi Standar Menu
Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi itu menambahkan, pengelola SPPG seharusnya lebih serius dan berbenah. Ia mengkritik penggunaan roti sebagai sumber karbohidrat utama dan adanya temuan bahan makanan seperti kedelai yang kondisinya sudah menghitam.

“Pengelola jangan memaksakan program asal jalan. Kalau memang anggaran tidak mencukupi karena alasan harga bahan pokok mahal, lebih baik diberikan menu sederhana tapi berkualitas tinggi seperti susu UHT, telur, dan buah. Itu sudah cukup untuk memenuhi protein anak daripada memberikan roti yang tidak jelas kelayakannya,” tambahnya.

Legislator PDI Perjuangan ini mendesak pengelola SPPG untuk segera mengevaluasi standar menu harian agar tujuan utama program untuk mencetak generasi sehat tidak dikorbankan demi mengejar serapan anggaran semata. (amd/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Eri Irawan Dorong Penerapan Smart Lighting pada 10.000 Titik PJU Baru di Surabaya

Ketua Komisi C DPRD Surabaya Eri Irawan mendorong Dishub memperluas penerapan smart lighting pada program ...
SUARA MUDA

Ijo-Abang di Bondowoso: Kisah Lora Muda Menakhodai PAC PDI Perjuangan 

Lora Mohammad Ainul Yaqin, cucu pengasuh Ponpes Al-Utsmani Bondowoso, memilih terjun ke politik melalui PDI ...
KABAR CABANG

Pra-event Soekarno Fun Run 2026, Ketika Jalanan Jember Dipenuhi Langkah Anak Muda

Puluhan anak muda memadati pra-event Soekarno Fun Run 2026 di Jember. Bukan sekadar olahraga, lari kini menjadi ...
LEGISLATIF

Syaifuddin Zuhri: Pemerataan Pembangunan dan Kualitas Lingkungan Masih Jadi PR Besar Surabaya

Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri menegaskan pemerataan pembangunan antarwilayah dan peningkatan kualitas ...
KRONIK

Pentas Teater “Mega-Mega”, Awali Rangkaian Perayaan Bulan Bung Karno di Ngawi

NGAWI – Gedung Fatmawati DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi riuh dengan puluhan anak muda pada Jumat (29/5/2026) ...
KABAR CABANG

Bantuan DPD PDIP Jatim, Kurban di Kota Blitar Jangkau Lebih Banyak Warga

DPC PDI Perjuangan Kota Blitar menyalurkan ratusan paket daging kurban kepada masyarakat Sukorejo pada Idul Adha ...