Kamis
15 Oktober 2026 | 1 : 06

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

MBG Ramadan di Ngawi Diprotes Netizen, Agung Rezkina Minta SPPG Perbaiki Kualitas Menu

IMG-20260225-WA0025_copy_711x486

NGAWI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan di Kabupaten Ngawi menjadi sasaran kritik tajam netizen. Bukannya memberikan asupan nutrisi yang ideal untuk berbuka puasa, paket makanan yang dibagikan sejumlah Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) dinilai asal-asalan dan tidak memenuhi standar kelayakan.

Sejak hari pertama masuk sekolah di bulan Ramadan, Senin (22/2/2026), para siswa menerima paket MBG dalam bentuk menu kering untuk dibawa pulang. Namun, unggahan foto dan video dari orang tua murid di media sosial justru memicu gelombang protes.

Salah seorang netizen di grup Facebook Ngawi mengunggah foto paket berisi sepotong roti wijen, satu buah pisang, dan sebungkus kecil abon ayam.

“Pak Bupati Ngawi, tolong diperhatikan MBG bujet Rp 15.000 dapatnya kayak gini, apa cuma buat ajang korupsi doang?” tulis akun tersebut.

Keluhan serupa muncul dari wilayah Kecamatan Paron. Seorang guru yang enggan disebutkan namanya mengunggah menu yang terdiri dari satu buah apel hijau kecil, ketela panggang, dan sebutir telur. Menu-menu tersebut dianggap jauh dari standar protein dan gizi yang dijanjikan pemerintah.

Menanggapi hal ini, anggota DPRD Kabupaten Ngawi, Agung Rezkina Pramesti, menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, program yang bertujuan untuk pemenuhan gizi anak ini tidak boleh dijalankan “asal jalan” tanpa memperhatikan kualitas.

“Jujur sedih ketika melihat foto MBG yang beredar. Bisa dikatakan bergizi jika mengandung unsur protein nabati, hewani, karbohidrat, sayur, dan buah. Dengan postingan yang beredar, itu sangat jauh dari kategori bergizi,” tegas Agung, Rabu (25/2/2026).

Evaluasi Standar Menu
Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi itu menambahkan, pengelola SPPG seharusnya lebih serius dan berbenah. Ia mengkritik penggunaan roti sebagai sumber karbohidrat utama dan adanya temuan bahan makanan seperti kedelai yang kondisinya sudah menghitam.

“Pengelola jangan memaksakan program asal jalan. Kalau memang anggaran tidak mencukupi karena alasan harga bahan pokok mahal, lebih baik diberikan menu sederhana tapi berkualitas tinggi seperti susu UHT, telur, dan buah. Itu sudah cukup untuk memenuhi protein anak daripada memberikan roti yang tidak jelas kelayakannya,” tambahnya.

Legislator PDI Perjuangan ini mendesak pengelola SPPG untuk segera mengevaluasi standar menu harian agar tujuan utama program untuk mencetak generasi sehat tidak dikorbankan demi mengejar serapan anggaran semata. (amd/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Anak Muda Magetan Didorong Tanggap Bencana, Manfaatkan Medsos hingga Turun Lapangan

MAGETAN – Generasi Z (Gen Z) dan kaum muda memiliki posisi strategis untuk menjadi motor penggerak sekaligus ...
EKSEKUTIF

Rijanto Sidak Dua Proyek Strategis Blitar, Pastikan Jalan dan Jembatan Tepat Sasaran

BLITAR – Bupati Blitar Rijanto turun langsung meninjau rencana perbaikan jalan di Dusun Kepek, Desa Ngeni, ...
KRONIK

Gelar GAS NIKAH di Yayasan Taufiqus Sibyan, Hj. Ansari Tekankan Pentingnya Kepastian Hukum

PAMEKASAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Hj. Ansari, mengingatkan masyarakat agar mencatatkan pernikahan ...
KOLOM

Pendidikan Karakter dan Cinta Tanah Air : Catatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

Oleh Susy Cecilia Agustina S.* IBARAT pohon, cinta tanah air tidak tiba-tiba tumbuh, tapi perlu disemai, dipupuk, ...
EKSEKUTIF

Mas Ipin Dorong Anak Muda Trenggalek Jadi Entrepreneur dan Buka Lapangan Kerja

TRENGGALEK – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mendorong generasi muda menjadi entrepreneur yang mampu ...
LEGISLATIF

Puan Maharani Minta Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Karhutla

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah memperkuat perlindungan masyarakat yang terdampak kebakaran ...