JEMBER – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jember telah memulai program penanganan anak rawan stunting sejak akhir 2025 sebagai bentuk kepedulian kader banteng terhadap persoalan gizi di daerah.
Anggota Fraksi PDI Perjuangan yang juga anggota Komisi D DPRD Jember, Wahyu Prayudi Nugroho (Nuki) menjelaskan, anggaran program tersebut bersumber dari patungan delapan anggota fraksi yang tersebar di empat komisi DPRD Jember.
Selain itu, kader partai di tingkat bawah turut dilibatkan dalam pendampingan dan pengawasan balita stunting.
“Kami menjalankan program ini sejak akhir 2025. Perbedaannya dengan program RSUD Soebandi ada pada teknis pelaksanaan anggaran dan pola pendampingannya,” ujar Nuki usai rapat dengar pendapat (RDP) Komisi D DPRD Jember dengan RSUD Soebandi, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, program yang dijalankan fraksinya tidak hanya fokus pada intervensi gizi, tetapi juga melibatkan toko kelontong di sekitar lokasi sasaran untuk penyediaan kebutuhan makanan pendukung. Langkah ini dinilai mampu memberi dampak ganda.
“Selain membantu penanganan stunting, toko kelontong di wilayah tersebut juga bisa meningkatkan usahanya,” jelas Nuki.
Sementara itu, Direktur RSUD Soebandi, I Nyoman Semita, dalam RDP menyampaikan bahwa program penanganan stunting di rumah sakit tersebut telah berjalan sekitar 1,5 bulan.
RSUD Soebandi mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,8 miliar untuk program tersebut, salah satunya untuk pemenuhan konsumsi susu bagi balita yang terindikasi stunting.
Untuk sementara, program difokuskan di dua kecamatan, yakni Tanggul dan Jombang, dengan durasi pendampingan selama tiga bulan.
“Masing-masing balita mendapatkan 24 dos susu setiap bulan dan didampingi tenaga kesehatan untuk memantau perkembangannya,” ujar Nyoman. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










