BONDOWOSO — Gerimis yang turun sejak pagi tak hentikan langkah pengurus DPC PDI Perjuangan Bondowoso menapaki kawasan hutan lembah Pegunungan Argopuro, lereng Gunung Piramid, Kelurahan Curahdami, Jumat (23/1/2026).
Jalur ekstrem, tanah licin, dan udara dingin menjadi bagian dari kerja politik yang jarang disorot: merawat alam.
Sebelum pendakian, apel singkat dan doa digelar. Setelah itu, rombongan bergerak menembus jalur berlumpur menuju Petak 16K, wilayah Perhutani KPH Bondowoso.
Di lokasi ini, bibit-bibit pohon ditanam bersama. Tanpa baliho, tanpa pidato panjang. Politik hadir dalam tindakan, bukan slogan.
Baca juga: Peringati HUT ke-79 Megawati, PDIP Jatim Gelar Aksi “Merawat Pertiwi” Serentak di 38 Kabupaten/Kota
Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso, Sinung Sudrajad, menyebut kegiatan ini sebagai praktik nyata politik ekologi—politik yang menempatkan alam sebagai subjek, bukan korban.
“Kami tidak sedang menggelar seremonial. Ini penghijauan dan pelepasan burung perkutut untuk memperingati momen istimewa, HUT ke-53 PDI Perjuangan dan ulang tahun ke-79 Ibu Ketua Umum Hj Megawati Soekarnoputri,” ujar Sinung.

Menurutnya, kawasan seluas 18,8 hektare tersebut, dengan izin Administratur Perhutani, akan dijadikan hutan binaan PDI Perjuangan Bondowoso.
“Pesannya jelas: jaga alam, maka alam akan menjaga kita. Politik seharusnya bekerja seperti itu—memberi, bukan menguras,” katanya.
Kegiatan dilanjutkan dengan pelepasan puluhan burung perkutut ke habitat alaminya. Satwa dilepas tanpa sangkar, menandai pemulihan ruang hidup yang selama ini terdesak.
Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, menyebut langkah PDI Perjuangan sejalan dengan agenda keberlanjutan Perhutani.
“Sebelumnya kami menanam 2.026 bibit MPTS. Selain itu, Wakil Ketua DPRD Bondowoso dari PDI Perjuangan juga mendapat sekitar 1.000 bibit MPTS dan mahoni,” jelasnya.
Dia menegaskan, menjaga hutan tidak boleh dibatasi kepentingan politik jangka pendek. “Menjaga hutan bukan soal warna bendera. Ini soal masa depan generasi,” tegasnya.
Di lereng Piramid, politik tak hadir sebagai perebutan kekuasaan. Dia hadir sebagai keberpihakan pada kehidupan—dalam lumpur, keringat, dan bibit kecil yang kelak tumbuh menjadi penyangga bumi. Di titik itu, politik dan ekologi akhirnya bertemu. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










