TULUNGAGUNG – Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung, Marsono, menegaskan bahwa gerakan penanaman kopi di Desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo, mempunyai banyak manfaat.
Selain untuk penghijauan kawasan, mencegah bencana longsor, dan meningkatkan ekonomi masyarakat, gerakan penanaman kopi juga membangkitkan semangat gotong royong masyarakat setempat.
“Pemerintah Desa Wonorejo gayung bersambut terhadap gerakan penanaman kopi di kawasan hutan yang dikelola masyarakat,” ujar Marsono, pada Jumat (19/12/2025).
Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung ini menambahkan, masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani hutan (KTH) Desa Wonorejo telah membuat bedeng sebagai tempat karantina bibit kopi sebelum dibawa dan ditanam di lahan.
Bedeng tersebut dibuat secara gotong royong pasca pendistribusian bibit kopi di Desa Wonorejo beberapa waktu lalu.
“Kemarin sudah kita kirim 8 ribu bibit kopi untuk ditanam di lahan seluas 4 hektare. Tapi masyarakat ingin menambah lahan lagi seluas 5 hektare,” jelas Marsono.
Dengan total lahan seluas 9 hektare itu, dirinya telah menjadwalkan akan mengirim 8 ribu bibit kopi lagi kepada KTH Desa Wonorejo. 9 hektare lahan yang akan dijadikan hutan kopi ini merupakan lahan yang dikelola Bumdes dan KTH desa setempat.
Marsono menambahkan, selain melakukan pendampingan terhadap gerakan penanaman kopi ini, ia juga melakukan koordinasi dengan Badan Inonasi dan Riset Daerah (BRIDA) Tulungagung untuk melakukan kajian dan riset terhadap gerakan yang dilakukan.
“Sebelum hutan kopi jadi, kita mendorong masyarakat untuk membuat Wana Farma dengan menanam tanaman obat seperti jahe, lengkuas, dan lain-lain di bawah tanaman kopi,” tandasnya. (sin/set)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












