BLITAR – Pemerintah Kota Blitar menggelar acara Gala Senja Mustika Rasa Bung Karno 2025 di halaman Istana Gebang, Jumat (20/6/2025).
Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Haul ke-55 Bung Karno, yang memadukan nilai tradisi, spiritualitas, dan nasionalisme dalam suasana penuh kekhidmatan di tanah kelahiran sang Proklamator.
Kegiatan ini dihadiri jajaran pengurus DPP PDI Perjuangan, di antaranya Ganjar Pranowo, MH Said Abdullah, dan Tri Rismaharini.
Baca juga: Kanang: Mustika Rasa Adalah Jalan Diplomasi Politik Bung Karno lewat Cita Rasa Nusantara
Sedangkan dari pengurus DPD PDIP Jatim, Budi Sulistyono, Sri Untari Bisowarno, Deni Wicaksono dan Guntur Wahono, termasuk keluarga Bung Karno yakni, Romy Soekarno,
Hadir juga Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin, Forkopimda, pengurus DPC PDIP Kota dan Kabupaten Blitar serta berbagai elemen masyarakat dari dalam dan luar kota.
Gala Senja Mustika Rasa Bung Karno 2025 dibuka dengan suguhan musik gamelan dari Sanggar Patrialoka serta tarian tradisional.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembacaan doa, yang menandai dimulainya momen penghormatan secara resmi.

Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, dalam sambutannya menekankan bahwa Gala Senja bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan upaya menyemai kembali nilai-nilai perjuangan Bung Karno melalui pendekatan kebudayaan yang merakyat.
“Kita ingin mengenang suasana ketika Bung Karno masih berada di Istana Gebang ini. Dengan tradisi seperti Kenduren dan sajian tumpeng rakyat, kita menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kebersamaan, sekaligus meneladani ajaran beliau,” ujar Syauqul.
Dia juga menyampaikan bahwa peringatan ini menjadi pintu pembuka menuju Ziarah Akbar, yang akan digelar esok hari dengan kehadiran tokoh-tokoh nasional, termasuk Wakil Ketua MPR RI dan Menteri Agama RI.
Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Guntur Wahono, menyebut bahwa penyelenggaraan haul kali ini membawa nuansa yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Guntur, keterbukaan dan pelibatan masyarakat menjadi kekuatan utama yang membuat peringatan tahun ini terasa lebih hidup dan menyatu dengan denyut rakyat.
“Kita harus bangga punya Bung Karno. Beliau bukan hanya proklamator, tapi juga penggali Pancasila. Tugas kita adalah menjaga dan meneruskan nilai-nilai perjuangan itu agar tetap hidup di tengah masyarakat,” tegasnya.
Sekadar diketahui, puncak acara ditandai dengan Kenduren Rakyat, di mana ribuan warga duduk bersama menikmati tumpeng dan memanjatkan doa untuk Bung Karno.
Jalur dari Istana Gebang menuju makam Presiden Pertama RI disulap menjadi hamparan ribuan tumpeng berjajar. (arif/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










