oleh

Zakat dan Spirit Kesalehan Sosial

-Ruang Merah-61 kali dibaca

Satu dari sekian banyak kewajiban umat Islam yang harus ditunaikan adalah zakat. Secara harfiah zakat mengandung makna bersih, suci, berkat, dan berkembang. Dari makna ini orang sering mengilustrasikan bahwa berzakat hakikatnya adalah mebersihkan harta yang dimiliki. Ini senada dengan makna zakat secara “istilah”, yaitu berkaitan dengan harta yang harus dikeluarkan dan diberikan kepada orang yang berhak.

Dalam khazanah keislaman, zakat dibagi dalam dua klaster besar, yaitu zakat fitrah dan zakat maal atau harta. Zakat fitrah atau yang biasa disebut sebagai zakat badan/diri (nafs) merupakan zakat yang wajib ditunaikan oleh masing-masing individu (muslim), tepatnya pada bulan Ramadan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari-Muslim, Rasululah mewajibkan umat Islam untuk menunaikan zakat dari kurma, gandum, atau makanan pokok lainnya dengan tujuan untuk membersihkan diri.

Sementara zakat maal, menurut beberapa literatur klasik, adalah pemberian zakat dari pendapatan umat Islam, misalnya hasil pertanian, perdagangan, hasil ternak, hasil laut dan lain sebagainya. Masing-masing harta tersebut dihitung dengan tata cara tersendiri. Jika harta sudah mencapai nishob, maka seorang muslim wajib mengeluarkan sebagian hartanya tersebut untuk diberikan kepada yang berhak atau mustahik.

BACA JUGA: Bukber dengan Masyarakat, Ning Diyah Minta Perkuat Silaturrahim dan Gotong Royong

Baik zakat fitrah maupun zakat maal, dimensinya jelas bernilai ganda. Tak hanya mengandung makna ubudiyah antara hamba dan Tuhannya, melainkan juga mengandung dimensi sosial antara manusia dan manusia lainnya. Inilah yang membedakan zakat dengan beberapa ibadah lainnya: mengandung makna kesalehan sosial, karena bisa meringankan beban orang-orang yang membutuhkan atau yang lazim disebut penerima zakat.

Semangat berzakat sama dengan semangat membantu sesama. Dengan zakat secara tidak langsung kita berupaya untuk memastikan keberlangsungan hidup seseorang, yang berada dalam kondisi tidak nyaman karena dililit oleh kondisi ekonomi yang sangat buram, sedikit banyak bisa bernafas lega saat menerima uluran tangan dari kita dalam bentuk zakat. Iklim seperti ini yang biasa kita saksikan pada bulan Ramadan, khususnya, di mana banyak saudara kita yang dengan sukarela mengulurkan tangan memberikan zakat harta untuk meringankan beban para mustad’afin agar nantinya mereka juga bisa bergembira saat memasuki hari kemenangan.

Dorongan menunaikan kewajiban dalam membayar zakat tentu harus didahulukan, namun di balik itu semua, semangat untuk membangun kesalehaan sosial juga harus terbentuk dalam jiwa kita, agar hal ini bisa membangkitkan ghirah kita dalam berbagi, tidak setangah-setangah, bakan tidak karena ingin dipuji, tidak karena pamrih, atau mengharap sesuatu dari pemberian tersebut, selain pahala dan ridha Allah SWT. Statemen bahwa berbagi kebahagiaan adalah kebahagiaan perlu dijadikan cambuk dalam keseharian kita agar semangat melakukan kesalehan sosial tersebut terlaksana secara istiqomah.

Tepat Menyalurkan Zakat

Meski sudah menjadi kewajiban rutin tahunan, pembayaran zakat kadang masih menjadi bahan diskusi hangat di kalangan ilmuwan dan pemikir muda Islam. Bukan pada konteks kewajiban pembayaran zakatnya, melainkan lebih pada sasaran penerima zakat yang menjadi objek penyaluran zakat tersebut. Memang tak begitu ramai, terkadang ada riak-riak terjadinya kesalahan penyaluran zakat terutama zakat maal. Lalu bagaimana yang benar?

Islam sejatinya sudah mengatur tata cara pemberian atau penyaluran zakat oleh muzakki kepada mustahik. Dalam beberapa kitab fiqh klasik, banyak pendapat yang menegaskan, siapa saja mustahik atau orang-orang atau pihak yang tepat menjadi sasaran penerima zakat tersebut. Selanjutnya, tinggal kita mengatur bagaimana prosesnya dan tata caranya, sehingga zakat itu betul-betul sampai kepada yang berhak dan bisa dinikmati oleh mereka yang betul-betul layak.

BACA JUGA: Safari Ramadan di Ambunten, Bupati Fauzi Minta Masukan Ulama dalam Membangun Sumenep

Nahdlatul Ulama (NU), mulai dari PB hingga PW, sudah mengeluarkan edaran atau panduan terkait tata cara menyaluran zakat (fitrah atau maal), ini biasa dilakukan pada momentum Ramadan. Tujuannya, untuk memberikaan rambu-rambu seputar pembayaran zakat yang benar dan kepada siapa zakat itu harus diberikan. Tata cara ini dikeluarkan demi menjadikan zakat tak hanya sebagai ritualitas semata, namun juga mampu menjelma sebagai gerakan kesalehan sosial dengan membantu mereka yang betul-betul membutuhkan.

Dalam ajaran Islam, terdapat beberapa golongan yang dianggap sah sebagai penerima zakat, di antaranya, fakir, miskin, ‘amil, mu’alaf, gharimi, fisabililah, ibnu sabil, dan hamba sahaya. Kedelapan golongan itulah yang menurut Islam dibenarkan sebagai penerima zakat. Untuk itu, kita tinggal memilih salah satu dari delapan golongan tersebut. Meski demikian, kita tetap harus jeli melihat situasi dan kondisi saat ini, manakah yang paling relevan dan memunginkan untuk menjadi penerima zakat kita.

Kita tahu, fakir adalah kelompok masyarakat yang tidak memiliki apapun, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sementara miskin adalah kelompok masyarakat yang hartanya sedikit, namun masih mampu memenuhi kebutuhan hidup. Dalam perspektif sosial, dua kelompok ini jelas harus diprioritaskan, sehingga ketika kita mendapati dua kelompok atau salah satu dari kelompok ini, maka wajib kita menyerahkan zakat kita kepada mereka, agar domensi sosialnya lebih nampak, karena mereka jelas-jelas sangat menbutuhkan.

Di urutan ketiga, golongan yang berhak menerima zakat adalah amil zakat, atau panitia yang ditunjuk dan dibentuk oleh organisasi atau takmir masjid untuk menggalang pembayaran zakat. Keberadaan amil zakat sebenarnya hanya untuk mempermudah proses penyaluran dari para muzakki, karena endingya amil zakat akan menyerahkan zakat para muzakki tersebut kepada orang-orang yang masuk dalam golongan satu dan dua di atas. Artinya, fakir dan miskin tetaplah menjadi sasaran dari penyaluran zakat yang melalui amil tersebut, meskipun ada kelompok lain yang nantinya akan disasar oleh amil, seperti anak yatim dan lain sebagainya.

BACA JUGA: Lomba Video Cover Sholawat DPD Jatim Diikuti 77 Peserta, Ini Pemenangnya

Selain kepada tiga golongan di atas, kita bisa saja menyalurkan zakat kepada sisa golongan yang lain, meskipun dalam konteks kekinian rasanya agak sulit menemukan golongan–golongan tersebut, seperti hamba sahaya, bisa dipastikan saat ini sudah tidak ada terutama di Indonesia, sehingga secara gamblang kita bisa memutuskan untuk tidak mungkin memberikan zakat kepada hamba sahaya tersbut. Begitupun ibnu sabil atau orang yang dalam perjalanan, golongan ini nyaris tidak bisa ditemukan, karena orang dalam perjalanan yang dimaksud memerlukan kriteria-kriteria khusus yang dibenarkan syariat.

Begitu juga untuk golongan gharimi atau orang yang dililit hutag. Fakta sosial hari ini menunjukkan, meskipun kita sering mendapati orang yang sedang dililit hutang sana sini, rata-sata mereka tidak berkenan untuk menerima zakat. Mereka beranggapan masih mampu, cuma dalam situasi dan kondisi ekonomi kurang stabil. Mu’allaf juga begitu. Kendati menjadi salah satu golongan penerima zakat, rasanya sulit para mu’allaf kekinian yang mau untuk menerima zakat. Di Indonesia, mu’alaf justru berasal dari kelompok masyarakat menengah ke atas, yang ketika menjadi muslim justru mereka langsung mengeluarkan harta kekayaan mereka untuk dizakatkan.

Dari uraian di atas, kita sudah bisa merumuskan bagaimana pembayaran zakat yang tepat, dan kepada siapa zakat harus dibayarkan. Maka, golongan pertama dan kedua adalah prioritas dalam pembayaran zakat, selebihnya bisa melalui amil zakat yang sudah terbentuk di daerah kita. Dengan demikian semangat berzakat sebagai sprit kesalehan sosial akan betul-betul nampak dan manfaatnya langsung dirasakan.

Sekali lagi, zakat tak hanya sebatas ibadah kita kepada Tuhan, tapi juga sebagai wujud kepedulian sosial kita kepada sesama. Semoga zakat yang kita keluarkan betul-betul bisa mensucikan harta kita dan kita menjadi ftiri. Wallahu A’lam Bissowab.