oleh

Yang Lebih Penting dari Pekerjaan: Keselamatan

-Ruang Merah-44 kali dibaca

Setiap insan tercipta untuk memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan yang bersifat kewajiban maupun yang bersifat kesenangan. Dua-duanya tetap perlu diwujudkan, meskipun kadar kebutuhan yang bersifat wajib memiliki persentase yang lebih tinggi. Setidaknya kesenangan tetap perlu dipenuhi sebagai penyeimbang rasa bosan, penat, maupun lelah.

Untuk memenuhi dua jenis kebutuhan tersebut, setiap manusia harus bekerja. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘kerja’ berarti suatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah atau sebuah mata pencaharian. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, beberapa di antaranya juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti orang tua, anak, maupun pasangan.

Tak jarang seseorang rela menghabiskan waktu sejak pagi hingga kembali pagi lagi untuk memenuhi segala kebutuhan itu. Katanya, senyum orang-orang di rumahlah yang membuatnya tak pernah mengeluh tentang payah dan lelah. Ada juga yang harus rela berada di puncak-puncak tertinggi gedung pencakar langit untuk memastikan jendela-jendelanya tetap bersih, hingga mereka yang harus rela menyelam ke dalam lautan terdalam di kala malam yang semakin kelam.

Juga mereka yang berada di atas ketinggian ribuan kaki guna membawa beberapa penumpang antarpulau maupun antarnegara. Intinya, semuanya ingin mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan yang tidak bisa disebut ‘murah’. Namun tetap ada satu hal yang lebih penting dari mencari nafkah sebanyak-banyaknya, yakni kembali ke rumah dengan senyum yang tetap merekah.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pundi-pundi rupiah yang telah dicari tiada henti akan terasa hampa, saat seseorang kembali ke rumah dengan keadaan yang tidak sama seperti sedia kala. Sebab itu, setiap pekerja harus memperhatikan budaya K3 atau keselematan dan kesehatan kerja. Pemerintah benar-benar serius menangani masalah tersebut dengan pengadaan bulan K3 setiap tanggal 12 Januari hingga 12 Februari sebagai wujud kepedulian pemerintah terhadap keselamatan dan kesehatan para tenaga kerja.

Pada bulan tersebut, pihak provinsi dan kabupaten (juga kota) memberikan penghargaan kepada para pengusaha, jika lembaga yang dipimpinnya dinyatakan bebas dari kecelakaan kerja (zero accident).

Satu hal yang perlu diketahui, bahwa kecelakaan kerja tidak hanya menyebabkan kematian atau kerugian (secara materi), tetapi juga dapat mempengaruhi produktivitas dan kesejahteraan para pekerja di lingkungan kerja. Ditambah lagi, kebanyakan orang Indonesia, baik yang modern maupun tradisional, masih ada yang mengaitkan hal apapun dengan mistik, sehingga sedikit atau banyak akan mengurangi kehangatan lingkungan kerja.

Beberapa di antara pekerja lain mungkin saja mengalami rasa takut atau trauma setelah tragedi kecelakaan kerja yang menimpa temannya. Akibatnya, suasana kerja tak lagi kondusif dan bisa berpengaruh pada produktivitas kerja sekaligus kenyamanan lingkungan kerja. Atas dasar itulah, kecelakaan kerja juga memberikan dampak kepada kesejahteraan.

Di tengah badai pandemi yang tak kunjung berhenti seperti saat ini, budaya K3 menjadi hal yang mendesak untuk diperhatikan. Jangan sampai hanya karena mengejar pemenuhan kebutuhan, seseorang menjadi abai menjaga diri dari serangan virus Covid-19 yang membabi buta. Sebab itu, beberapa perusahaan menerapkan kebijakan swab test terlebih dahulu sebelum memasuki area kerja.

Tak lupa pula menerapkan protokol kesehatan, mulai dari mencuci tangan, memakai masker, hingga melakukan vaksinasi. Satu kabar baik di tengah badai pandemi adalah fase digitalisasi yang menaungi era saat ini. Digitalisasi membuat keselamatan dan kesehatan kerja terjamin di masa pandemi lewat program work from home (WFH). Dengan melakukan program bekerja dari rumah, setiap orang dapat meminimalisasi potensi terjangkit virus Covid-19.

Setiap pekerjaan dapat didiskusikan melalui ruang-ruang virtual, dipresentasikan lewat platform-platform digital, hingga proses belajar mengajar yang juga dilaksanakan melalui ruang-ruang kelas virtual. Fakta-fakta ini menyadarkan setiap manusia bahwa setiap musibah menyisakan hikmah di baliknya. Dengan kehadiran pandemi, setiap orang pada akhirnya berusaha untuk beradaptasi dengan kecanggihan digitalisasi.

Sebelum pandemi, banyak orang yang enggan beralih dari metode-metode konvensional, dan selama pandemi hampir setiap orang bersedia melek dengan sisi positif digitalisasi. Tak ketinggalan budaya keselamatan dan kesehatan kerja pun ikut beradaptasi dengan kemajuan itu. Sebut saja seperti aplikasi yang dikembangkan oleh Pelindo III untuk melaporkan kejadian kecelakaan kerja secara digital yang diberi nama My Pelindo. Di dalam aplikasi tersebut, terdapat fitur health, safety, security, dan environment yang digunakan untuk melaporkan setiap kejadian kecelakaan kerja di sekitar area kerja yang terhubung dalam sistem digitalisasi. Hal tersebut akan mempercepat respons dari Emergency Response Team (Tim Tanggap Darurat) dalam menangani kejadian kecelakaan kerja tersebut.

Akhir kata, budaya kerja yang memprioritaskan kesehatan dan keselamatan adalah tanda bekerja dalam konsep yang paling fundamental. Keselamatan dan kesehatan kerja di tengah arus digitalisasi yang kian deras seperti ini menjadi hal yang lebih mudah untuk dicari, karena kecanggihan teknologi tercipta untuk mempermudah hal yang terkesan sulit dan rumit. (*)