JOMBANG – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Wiwin Sumrambah, menegaskan program pemberdayaan masyarakat harus berujung pada kemandirian ekonomi. Menurutnya, bantuan tidak cukup jika tidak diikuti peningkatan keterampilan, penguatan kelompok, akses informasi, teknologi, dan pemasaran.
Wiwin menyampaikan hal itu dalam kegiatan Sosialisasi Penguatan Sinergi Sosial dan Organisasi dalam Mewujudkan Masyarakat yang Berdaya di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, pada Sabtu (29/8/2026).
“Yang paling penting dari pemberdayaan adalah bagaimana masyarakat memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Bantuan itu penting, tetapi jangan berhenti pada bantuan,” ungkap Wiwin.
Menurut dia, prinsip tersebut relevan dengan potensi pertanian dan peternakan Kesamben. Dua sektor tersebut memiliki aktivitas ekonomi yang dekat dengan masyarakat sehingga pengembangannya dapat langsung berdampak pada pendapatan warga.
Dia juga mengungkapkan, petani membutuhkan penguatan mulai dari sarana produksi, keterampilan, teknologi pertanian, kelembagaan, hingga pemasaran. Penguatan di setiap mata rantai tersebut akan menentukan kemampuan petani meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan.
“Petani tidak cukup hanya menghasilkan. Mereka juga harus punya kemampuan mengelola usaha, mendapatkan informasi, memanfaatkan teknologi, dan memiliki akses pasar. Di situlah pemberdayaan menjadi penting,” jelasnya.
Aspirasi masyarakat dalam kegiatan tersebut juga menyoroti kebutuhan penguatan sektor peternakan. Peternak mentok berharap mendapat dukungan untuk meningkatkan produktivitas, mengelola pakan, menjaga kesehatan ternak, memperluas pemasaran, serta membangun jaringan usaha.
Wiwin mengatakan,kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan peternakan harus melihat usaha secara utuh, bukan hanya dari jumlah ternak yang dipelihara.
“Peternak harus kita kuatkan dari sisi produktivitas sampai pemasaran. Kalau pakan bisa dikelola dengan baik, kesehatan ternak terjaga, produktivitas meningkat, kemudian pasarnya terbuka, maka usaha peternakan akan semakin kuat,” katanya.
Ia juga menekankan, peran organisasi masyarakat dan kelompok usaha dalam membangun kemandirian warga. Menurutnya, kelompok dapat menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, memperluas jaringan, sekaligus membuka akses terhadap berbagai program pemberdayaan.
“Organisasi harus menjadi ruang belajar dan membangun jejaring. Masyarakat bisa saling bertukar pengalaman dan bersama-sama mencari peluang untuk mengembangkan usahanya,” jelas Wiwin.
Data BPS Kabupaten Jombang menunjukkan sektor pertanian tetap menjadi bagian penting dalam struktur ekonomi daerah. Kondisi tersebut, kata Wiwin, harus menjadi pijakan untuk mengembangkan ekonomi masyarakat berdasarkan potensi lokal.
Ia menilai pemerintah perlu mengarahkan program secara berkelanjutan agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan.
“Jangan hanya memberikan bantuan sesaat. Kita harus membangun keterampilan dan kemampuan masyarakat supaya setelah program selesai mereka tetap bisa menjalankan dan mengembangkan usahanya,” terangnya.
Wiwin juga mengingatkan pentingnya melibatkan masyarakat dalam menentukan program. Menurutnya, masyarakat paling memahami persoalan sekaligus potensi yang ada di wilayahnya.
Karena itu, ia mendorong pendekatan pemberdayaan dengan prinsip “Dengar aspirasinya, libatkan masyarakat, kembangkan potensinya, bangun kemandirian, dan ciptakan manfaat berkelanjutan.”
“Petani dan peternak jangan hanya menjadi penerima manfaat. Mereka harus menjadi pelaku utama yang mengembangkan potensi ekonomi wilayahnya,” pungkas Wiwin. (yol/set)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










