TRENGGALEK — Semangat kebersamaan dan gotong royong yang tercermin dalam peringatan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek diyakini mampu menjadi energi positif untuk mendukung percepatan pembangunan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur VII, Novita Hardini, mengatakan momentum Hari Jadi Trenggalek tidak semestinya berhenti sebagai perayaan seremonial. Lebih dari itu, rangkaian tradisi yang digelar menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, menyatukan harapan dan membangun optimisme masyarakat menyongsong masa depan.
Menurut Novita, tema “Hambeging Bumi” yang diusung dalam Hari Jadi ke-832 memiliki pesan yang sangat relevan dengan kondisi saat ini. Filosofi tersebut tidak hanya mengajak manusia menjaga keharmonisan dengan alam, tetapi juga mengingatkan pentingnya ketulusan dalam menjalani kehidupan dan membangun hubungan dengan sesama.
“Tema yang diusung cocok dengan kondisi saat ini. Berkaitan lingkungan, mari jaga bersama dan lestarikan untuk kehidupan kelak juga,” kata Novita Hardini, Selasa (1/9/2026).
Novita menilai manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin berjalan sendiri. Kerja sama dan gotong royong menjadi kekuatan penting untuk menyelesaikan berbagai persoalan sekaligus membangun daerah.
Karena itu, ia berharap semangat tersebut terus dipelihara oleh masyarakat Trenggalek. Terlebih, menurutnya, budaya guyub dan tepo seliro telah menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan masyarakat setempat.
“Warga Trenggalek itu tepo seliro-nya tinggi. Dan ini menjadi ciri khasnya. Hari jadi harus dijadikan momen untuk memupuk gotong royong dan guyub,” harapnya.
Novita juga mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti kirab pusaka dan budaya daerah yang menjadi puncak rangkaian Hari Jadi ke-832 Trenggalek.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah dan masyarakat.
“Alhamdulillah, kali ini saya kembali bisa berkeliling menyapa masyarakat secara langsung. Antusiasme warga sangat luar biasa,” ujar Novita.
Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR RI, Novita menyempatkan diri mengikuti berbagai prosesi Hari Jadi. Ia bersama keluarga mengikuti rangkaian kegiatan hingga prosesi kirab dan menyapa warga yang berada di sepanjang jalur.
Dalam salah satu prosesi, Novita bahkan turut mengambil air dari bak besar yang bersumber dari sejumlah sumber air di Trenggalek untuk diberikan kepada warga. Air tersebut dipercaya masyarakat memiliki nilai simbolis dan keberkahan.
Kehadiran Novita di tengah warga berlangsung dalam suasana akrab. Ia tak segan menyalami masyarakat yang ditemuinya maupun melayani ajakan berfoto.
Dalam prosesi kirab, Novita juga menumpang kereta kencana menuju pendapa. Sementara Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin berjalan kaki tanpa alas kaki di sepanjang perjalanan.
Bagi Novita, kedekatan antara pemerintah, wakil rakyat dan masyarakat menjadi bagian penting dari semangat Hari Jadi. Tradisi yang diwariskan leluhur dapat menjadi ruang untuk memperkuat hubungan sosial sekaligus menumbuhkan optimisme bersama.
Ia berharap momentum Hari Jadi ke-832 mampu menjadi pengungkit semangat masyarakat untuk menyongsong masa depan Trenggalek yang lebih baik.

“Harapan saya, momentum ini membawa semangat bagi seluruh masyarakat Trenggalek untuk menyongsong masa depan yang lebih baik,” lanjutnya.
Novita juga menekankan bahwa Hari Jadi harus menjadi ruang refleksi dan ikhtiar spiritual. Berbagai doa dan tradisi yang menyertai peringatan tersebut menjadi sarana bersama untuk memohon keselamatan dan keberkahan bagi daerah.
Ia berharap Trenggalek senantiasa dijauhkan dari berbagai persoalan, mulai bencana alam, kekeringan hingga kemiskinan.
“Kami berharap Hari Jadi ke-832 ini membawa keberkahan dan kemudahan bagi Trenggalek untuk menjadi daerah yang semakin sentosa, sejahtera, dan berkelanjutan,” katanya.
Rangkaian Hari Jadi ke-832 diawali dengan prosesi jamasan atau pembersihan pusaka kabupaten dan pusaka bupati. Setelah menjalani prosesi tersebut, pusaka kemudian dikirab dari tempat persemayaman menuju Pendapa Manggala Praja Nugraha.
Kirab tersebut menjadi pertemuan antara sejarah, budaya, tradisi dan masyarakat. Tema “Hambeging Bumi” menjadi benang merah yang mengingatkan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang kemajuan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memberikan manfaat bagi sesama dan menjaga alam.
Bagi Novita, semangat kebersamaan yang tumbuh dalam peringatan Hari Jadi harus dibawa keluar dari rangkaian seremoni dan menjadi kekuatan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika masyarakat guyub, pemerintah hadir bersama rakyat, dan kepedulian terhadap alam tumbuh menjadi kesadaran bersama, Trenggalek memiliki modal sosial yang kuat untuk bergerak menuju daerah yang semakin sejahtera dan berkelanjutan. (azz/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













