oleh

Spirit Kebangkitan Surabaya

-Ruang Merah-12 kali dibaca

Hari Jadi Kota Surabaya Ke-729 menjadi momentum untuk menunjukkan spirit kebangkitan kota ini setelah dua tahun dirundung pandemi Covid-19. Spirit yang berasal dari keberanian, gotong royong, dan semangat arek-arek Suroboyo, yang hidup dan berakar pada sejarah peradaban kota ini yang sangat tua usianya.

Gereget dan denyut kebangkitan menguat, dari hari ke hari. Energi kehidupan serasa mekar dan mengalir, menggerakkan aktivitas masyarakat. Seiring dengan normalisasi di berbagai lini kehidupan. Optimisme tumbuh mewarnai. Energi kehidupan serasa mekar dan mengalir, menggerakkan aktivitas masyarakat.

Minggu, 22 Mei, pagi saya berada di Taman Bungkul, menghadiri undangan Festival Pustaka Baca. Bertepatan dibukanya car free day di Raya Darmo. Masyarakat tumpah ruah. Ada flash mob dari anak-anak taman baca, yang menunjukkan semangat dan kegembiraan. Ada festival menulis, melukis, dan parikan. Dua tahun taman yang menjadi ikon Surabaya ditutup. Sekarang dibuka lagi dan hidup sebagai ruang publik.

Suporter sepak bola pun sudah bisa kembali ke tribun, gegap gempita menonton tanding Persebaya vs Persis Solo. ’’Alhamdulillah, bisa nonton bola secara langsung,” tulis Dyah Katarina, anggota DPRD Surabaya, lewat pesan singkat dari tribun GBT. Di Kya-Kya Kembang Jepun, Pemkot Surabaya menggelar Festival Rujak Uleg. Pengunjung penuh berjejalan.

Ada juga Surabaya Vaganza, yang semarak dan ramai, diwarnai pawai bunga dan budaya, dari Siola Tunjungan menuju Alun-Alun Surabaya. Masyarakat menonton berbagai karya kreatif dan meriah dari peserta pawai. Pemkot Surabaya agaknya ingin memamerkan Alun-Alun Surabaya sebagai ruang publik baru.

Kebangkitan Surabaya sebenarnya terasa sejak menjelang bulan Ramadan dan saat Idul Fitri. Kota ini dinyatakan PPKM level 1. Karena itu, tempat-tempat ibadah dibuka dengan kapasitas 100 persen. Pelaku-pelaku UMKM kebanjiran order. Para PKL mendapat rezeki. ”Ekonomi wis mulai tangi. Orang wis wani keluar rumah,” ujar Amarudin, anak muda pelaku usaha katering dari Nginden.

Roda ekonomi bergerak kembali. Pasar-pasar rakyat, pusat-pusat perbelanjaan, mal, supermarket, warung, restoran, kafe, dan hotel ramai pengunjung. PKL menjamur. Sentra-sentra wisata kuliner kembali hidup. Kebun Binatang Surabaya dan tempat wisata lain dibanjiri pengunjung. Aktivitas olahraga pun kembali dimulai. Senam kembali digelar di berbagai kampung dan permukiman. Begitu pula bola basket, futsal, sepeda, temspat kebugaran, dan sebagainya.

Kita merasakan detak jantung Surabaya berdegup kencang. Hasil jerih payah, kerja keras, gotong royong, dan penuh keprihatinan bersama. Pada 2022 ini, pertumbuhan ekonomi Surabaya yang berbasis jasa dan perdagangan ditarget 7 persen. Pada 2021 sudah surplus 4,29 persen. Terparah 2020, awal pandemi Covid-19, ekonomi Surabaya terkontraksi minus 4,85 persen. Saat itu banyak unit ekonomi yang gulung tikar dan para pekerja kehilangan pekerjaan.

Saat membahas anggaran 2022, DPRD Surabaya mendorong penetapan APBD di atas 2 digit. Hari Pahlawan 10 November 2021, DPRD bersama Wali Kota Eri Cahyadi menetapkan APBD TA 2022 di angka Rp 10,4 T. Dengan kekuatan belanja Rp 10,3 T. Lebih tinggi daripada APBD sebelum pandemi Covid-19.

DPRD menginginkan APBD 2022 menjadi sinyal positif dan optimistis bahwa Surabaya bangkit. Pemkot dan DPRD sepakat meletakkan APBD 2022 sebagai pemicu pergerakan ekonomi masyarakat. Dengan begitu, belanja barang dan jasa diperbesar Rp 5,1 triliun. Sedangkan belanja modal di kisaran Rp 2 triliun.

Update, Wali Kota Eri Cahyadi mengeplot 40 persen dari belanja barang dan jasa untuk UMKM. Kini UMKM mendapat tempat penting. Seluruh unit kerja di bawah Pemkot Surabaya harus belanja di UMKM. Dibuat aplikasi e-peken. Produk UMKM bisa diunggah dan memudahkan transaksi. DPRD pun terus mengawal berbagai kebijakan pemulihan Surabaya agar berada di track yang benar.

Di tengah spirit kebangkitan, masih banyak PR yang harus dibenahi. Pemerintah Kota Surabaya harus fokus menangani pengangguran. Kebangkitan Surabaya lebih lengkap ketika anak-anak muda dan kekuatan kaum perempuan dirangkul dan diwadahi. Juga, kesenian, kebudayaan, dan pariwisata diperkuat dan difasilitasi agar tumbuh.

Dirgahayu Kota Surabaya! Selamat memasuki masa kehidupan baru. Masa yang lebih energik. Bangkit setelah pandemi Covid-19. (*)

sumber tulisan: jawapos.com