DPC PDI Perjuangan Trenggalek memperingati Haul Bung Karno ke-56 dengan semaan Alquran, doa bersama, dan tumpengan sebagai refleksi perjuangan Bung Karno serta penguatan komitmen membela wong cilik.
TRENGGALEK – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek memperingati Haul Bung Karno ke-56 dengan menggelar semaan Alquran, doa bersama, dan tumpengan di Kantor DPC PDI Perjuangan Trenggalek, Minggu (21/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno sekaligus momentum meneguhkan komitmen kader untuk terus memperjuangkan kepentingan wong cilik.
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek, Doding Rahmadi, mengatakan Bulan Bung Karno selalu memiliki makna khusus bagi seluruh kader partai. Pasalnya, bulan Juni memuat tiga momentum penting dalam sejarah bangsa, yakni Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, Hari Lahir Bung Karno pada 6 Juni, dan Hari Wafat Bung Karno pada 21 Juni.
“Kami memperingati Bulan Bung Karno dengan berbagai kegiatan, mulai upacara Hari Lahir Pancasila hingga doa bersama pada haul Bung Karno ke-56. Harapannya, kami sebagai kader bisa terus mewujudkan cita-cita Bung Karno untuk selalu berada di samping wong cilik,” kata Doding.
Semaan Alquran dimulai sejak Minggu pagi dan diikuti kader, pengurus partai, serta masyarakat sekitar. Kegiatan dipusatkan di Kantor DPC PDI Perjuangan Trenggalek, Jalan Mayjen Sungkono Nomor 31, Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek.
Secara bergantian peserta membaca Alquran hingga khatam. Tidak hanya kader laki-laki, kegiatan tersebut juga diikuti para kader perempuan yang turut larut dalam suasana khusyuk dan penuh kebersamaan.
Puncak acara berlangsung pada sore hari dengan doa bersama dan tumpengan yang dihadiri jajaran pengurus partai, kader, serta anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Trenggalek.
Menurut Doding, peringatan haul Bung Karno bukan sekadar mengenang sosok Proklamator RI, tetapi juga menjadi ruang refleksi terhadap nilai-nilai perjuangan yang diwariskannya, terutama semangat persatuan, gotong royong, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.
“Intinya, sebagai kader PDI Perjuangan kami harus tetap fokus kepada wong cilik. Semangat itu sejalan dengan ajaran marhaenisme yang diwariskan Bung Karno,” ujarnya.
Ketua DPRD Trenggalek itu menjelaskan, marhaenisme mengajarkan pentingnya kemandirian rakyat dalam menjalani kehidupan. Bung Karno, kata dia, menempatkan kaum marhaen sebagai simbol rakyat yang mampu berdiri di atas kaki sendiri melalui kerja keras dan produktivitas.
Menurut Doding, nilai-nilai tersebut tetap relevan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini, terutama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan kelompok ekonomi kecil.
“Semangat Bung Karno adalah membangun masyarakat yang mandiri dan berdaya. Itu yang terus kami jadikan pegangan dalam perjuangan politik maupun pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.
Rangkaian haul Bung Karno ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur sekaligus penguat kebersamaan antar kader dalam meneruskan semangat perjuangan sang Proklamator. (azz/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS









