BLITAR – Seni tradisi Tiban tidak semestinya berhenti sebagai tontonan budaya. Di balik pertarungan para jawara di arena, terdapat nilai sosial yang dapat mempertemukan masyarakat sekaligus merawat persaudaraan antardaerah.
Pandangan itu disampaikan Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur Guntur Wahono saat menghadiri pagelaran Tiban di Alun-Alun Kanigoro, Kabupaten Blitar, dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Blitar ke-702, Senin (10/8/2026).
Menurut Guntur, perbedaan gaya dan kemampuan para pelaku Tiban seharusnya hanya menjadi bagian dari persaingan di arena. Setelah pertandingan selesai, tidak boleh ada sekat yang memisahkan antarkomunitas.
“Komitmen yang kita bangun adalah beda gaya satu rasa. Di atas kita tarung, adu skill, adu keahlian, tetapi di bawah kita adalah sahabat dan saudara,” kata Guntur.
Prinsip tersebut, menurut dia, menjadi salah satu nilai penting yang harus terus dijaga dalam tradisi Tiban. Para jawara dari berbagai daerah bebas menunjukkan kemampuan terbaiknya, tetapi persaingan tidak dibawa ke dalam kehidupan sosial.
Dengan begitu, arena Tiban bukan hanya menjadi tempat mempertontonkan kemampuan, tetapi juga ruang bertemu bagi komunitas dari berbagai daerah.

Tradisi tersebut memang memiliki akar yang cukup kuat di kawasan selatan Jawa Timur. Selain Blitar, Tiban juga berkembang di Tulungagung, Trenggalek, Kediri dan sejumlah daerah di sekitarnya.
Karena itu, Guntur mendorong pemerintah daerah dan masyarakat tidak sekadar mempertahankan Tiban sebagai bentuk pertunjukan, tetapi juga menjaga ekosistem budaya yang membuat tradisi tersebut tetap hidup.
Pelestarian, kata dia, harus dilakukan dengan memberikan ruang pertunjukan sekaligus memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Tentu ini juga bagian daripada upaya pemerintah daerah beserta masyarakat melindungi, melestarikan, dan merawat seni tradisi Tiban yang ada di Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, dan sekitarnya,” ujarnya.
Guntur yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar itu berharap Tiban tetap menjadi bagian dari agenda kebudayaan daerah.
Ia bahkan mendorong agar pagelaran Tiban kembali digelar dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Blitar ke-703 pada 2027.

“Dan mudah-mudahan Pak Pembina, ini untuk berikutnya masih tetap diizinkan ikut serta meramaikan dalam rangka rangkaian Hari Jadi Kabupaten Blitar yang ke-703 di tahun 2027,” katanya.
Dalam pagelaran kali ini, jawara Tiban Blitar berhadapan dengan pelaku Tiban dari Tulungagung. Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi lokal tidak mengenal batas administratif ketika masyarakat memiliki akar budaya yang sama.
Para jawara boleh saling berhadapan di arena.
Namun setelahnya, mereka kembali menjadi saudara.
Di situlah Tiban menemukan makna yang lebih luas. Bukan sekadar pertunjukan atau adu kemampuan, tetapi tradisi yang mempertemukan manusia, menjaga hubungan antarkomunitas, sekaligus menjadi bagian dari kebudayaan yang masih hidup di tengah masyarakat.
Selama ruang pertunjukan dan regenerasi tetap tersedia, Tiban memiliki kesempatan untuk terus diwariskan tanpa kehilangan nilai paling penting yang menyertainya: berbeda gaya, tetapi tetap satu rasa dan bersaudara. (arif/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










