oleh

Rohimah Budidayakan Anggrek Saat Pandemi, Bupati Anas: Sangat Inspiratif!

BANYUWANGI – Bupati Abdullah Azwar Anas mengapresiasi warganya yang membuka usaha untuk mempertahankan ekonomi keluarganya di tengah pandemi Covid-19.

Seperti apresiasi yang dia berikan kepada Rohimah (45), warga Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, yang membudidayakan anggrek di rumahnya. Budidaya tanaman hias ini dilakukan setelah usaha travelnya terpuruk Covid-19 mewabah di seantero bumi.

Bupati Anas mengapresiasi Rohimah dan keluarganya keluarga yang tidak menyerah dengan keadaan. Justru mampu berinovasi melalui potensi yang dimilikinya hingga menjadi sumber ekonomi.

Malah, usaha budidaya anggrek milik Rohimah bersama keluarganya ini juga melibatkan warga sekitar.

“Bu Rohimah ini contoh pelaku usaha yang gigih dan mampu beradaptasi dengan keadaan. Sangat inspiratif untuk ditiru oleh pelaku usaha lainnya yang terdampak pandemi,” ujar Anas, saat berkesempatan menengok area pembudidayaan anggrek milik Rohimah.

Dia pun minta Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi untuk terus melakukan pendampingan.

“Dinas Pertanian tolong memfasilitasi apa yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha mereka. Terutama pemasaran produknya,” ujarnya.

Usaha travel yang selama ini digeluti Rohimah bersama keluarganya jatuh terpuruk saat pandemi tiba. Yang biasanya melayani orderan wisata manca negara, kini usahanya mandek.

“Kami sebenarnya yakin, bahwa jasa travel suatu saat akan pulih kembali, namun kan roda ekonomi keluarga harus terus berjalan. Maka, kami berputar otak mencari peluang lain,” jelas Rohimah kepada media, Minggu (11/10/2020).

Mereka pun lalu menjajal pembudidayaan anggrek. Selain karena penggemar anggrek, Rohimah melihat kondisi pandemi yang membuat orang harus banyak tinggal di rumah menjadikan berkebun sebagai salah satu cara orang untuk membunuh waktu luangnya.

“Membudidayakan anggrek jadi pilihan kami. Selain tanaman yang sedang dicari orang, saya pikir tanaman yang berbunga pasti akan lebih diminati orang. Berbekal hobi merawat anggrek, kami pun lalu bertekad mulai menekuni ini sejak Juni 2020 lalu,” ungkapnya.

Tinggal di lingkungan yang sejuk di kaki Gunung Raung, tepatnya di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, membudiyakan anggrek sangatlah tepat. Apalagi, Rohimah bersama keluarganya memiliki lahan yang luas di daerah tersebut.

Maka, sejak Juni 2020 mulailah mereka melakukan usaha pembudidayaan. Berbagai jenis Anggrek mulai dikembangkan, seperti dendro, catleya, bulan, tanah dan panda. Juga dikembangkan budidaya anggrek hutan endemis Raung yang jumlahnya mencapai 27 spesies.

Meskipun baru dimulai, namun sudah banyak konsumen yang tertarik dengan anggrek-anggreknya. Ada yang membeli bibit hingga yang sudah berbunga. Mereka juga datang dari Lombok, Surabaya dan Jakarta.

Ilustrasi tanaman anggrek dalam sebuah pameran

Dalam pembudidayaan ini, Rohimah memberdayakan warga sekitar lewat proses pembibitan. Warga dilibatkan untuk perawatan dan pembesaran bibit dalam pot, yang jumlahnya mencapai ribuan pot.

“Kami menitipkan ke warga sekitar untuk pembesaran bibit, nanti kami berikan upah pembesarannya. Mereka juga kami beri kesempatan untuk ikut menjual tanaman anggrek yang ada disini,” terangnya.

Saat ini, kata dia, mereka dibantu laboratorium dari Malang untuk pengembangan varietas anggrek.

Menurutnya, ini diperlukan, karena kedepan mereka tidak sekadar melakukan budidaya, namun tempat ini juga akan menjadi pusat edukasi anggrek yang bisa memberikan pengetahuan dan pelatihan budidaya.

“Harapan kami, di sini jadi tempat rehabilitasi tanaman anggrek hingga menjadi museum anggrek spesies Raung,” ujar dia.

Ke depan Rohimah memiliki impian untuk menjadikan desanya sebagai kampung anggrek. Dimana setiap rumah bisa menjadi pembudidaya anggrek dan menjualnya kepada konsumen.

“Harapan kami kampung kami ini bisa menjadi sentra anggrek yang menjadi jujugan orang dari manapun untuk mencari anggrek. Sehingga kami semua bisa maju dan sejahtera bersama,” harap Rohimah. (goek)