Minggu
19 Juli 2026 | 5 : 05

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Ponorogo Jadi Tuan Rumah Peringatan Hari Santri Nasional ke-X Tahun 2025

PDIP-Jatim-Sugiri-Sancoko-01102025

PONOROGO – Kabupaten Ponorogo ditunjuk sebagai tuan rumah peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-X tahun 2025 yang jatuh pada 22 Oktober mendatang.

Hal itu disampaikan langsung oleh Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, usai menerima sejumlah tokoh pesantren Jawa Timur di Rumah Dinas Bupati Ponorogo (Pringgitan), pada Senin (29/9/2025).

Hadir dalam pertemuan tersebut, Pengasuh Ponpes Termas Pacitan, KH. Luqman Harist Dimyathi, Pengasuh Ponpes Darul Ulum Jombang, KH. Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans, dan Pimpinan Ponpes Ploso Kediri, Ibu Nyai Munif Djazuli.

Bupati Sugiri menjelaskan, peringatan HSN tahun ini akan menjadi momentum deklarasi Gerakan Ayo Mondok (GAM), yaitu sebuah gerakan yang menekankan pentingnya pendidikan karakter di pesantren.

“Gerakan ini sangat bagus. Kurikulum pondok bukan hanya soal ilmu atau ngaji, tapi juga transfer karakter melalui keteladanan para kiai. Maka GAM ini menjadi gerakan serentak untuk membangun kesadaran pentingnya mondok,” ujar Sugiri.

Meski demikian, politisi PDI Perjuangan itu belum memastikan tanggal pasti pelaksanaan HSN yang akan digelar di Alun-Alun Ponorogo.

“Tanggal menyusul, akan kami rapatkan lagi termasuk rangkaian acaranya,” lanjutnya.

Sementara itu, KH. Luqman Harist Dimyathi mengungkapkan bahwa pemilihan Ponorogo sebagai pusat peringatan HSN bukan tanpa alasan. Bumi Reog memiliki akar peradaban pesantren yang kuat. Salah satunya Pesantren Tegalsari yang didirikan Kiai Ageng Muhammad Besari sekitar tahun 1675.

“Berangkat dari sejarah itu, kami ingin memboyong HSN ke Ponorogo. Selain perayaan, akan digelar Halaqoh Nasional di Ponpes Mayak. Reog Ponorogo juga akan tampil, karena sudah diakui Unesco,” ujar Kiai Luqman.

“Harapan kami, pesantren juga bisa menyusul diakui sebagai warisan budaya dunia,” lanjutnya.

Gus Hans juga menambahkan, pihaknya tengah menyusun roadmap agar pesantren bisa diakui sebagai kebudayaan intangible oleh Unesco.

“Pesantren bukan lembaga baru, sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Hubungan pesantren dan budaya sangat erat, dan itu akan kami tunjukkan lewat acara ini,” ujarnya.

Tak hanya itu, Gus Hans juga mengungkapkan akan melaunching Gramedia Network, jejaring media pesantren se-Indonesia yang akan menjadi garda terdepan publikasi kegiatan pesantren. (jrs/set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Banyuwangi Ethno Carnival, Kekuatan Budaya Lokal yang Mendunia

BANYUWANGI – Pagelaran parade kostum Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) sukses menyihir ribuan pasang mata penonton, ...
KRONIK

Bupati Fauzi Minta Inspektorat Perkuat Pengawasan, Dorong Pencegahan Penyimpangan Tata Kelola

SUMENEP – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, mengatakan bahwa inpspektorat memiliki peran strategis sebagai ...
KRONIK

Ketua DPRD Sumenep Minta Aspirasi Reses Menjadi Pijakan Utama dalam Penyusunan Kebijakan

SUMENEP – Ketua DPRD Sumenep, H. Zainal Arifin, meminta semua aspirasi masyarakat harus jadi pijakan utama dalam ...
KABAR CABANG

DPC Bojonegoro Latih Ratusan Petani Cara Bikin Pupuk Organik

BOJONEGORO — Upaya memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan terus digalakkan di tingkat daerah. Guna menekan ...
BERITA TERKINI

DPC Ngawi Gelar Rakor Bersama KSB PAC, Matangkan Persiapan Musran

NGAWI – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi menggelar rapat koordinasi (rakor) bersama jajaran Ketua, Sekretaris, ...
KABAR CABANG

Kawal Penjaringan Ketua Ranting dan Anak Ranting, PDI Perjuangan Trenggalek Kerahkan Anggota DPRD

PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek mengerahkan anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD untuk mengawal penjaringan ketua ...