oleh

Pidato Kebudayaan Presiden ke 5 RI Megawati Soekarnoputri di World Culture Forum

 

pdip-jatim-mega-world-culture-forum

 

Pidato Kebudayaan Presiden ke 5 RI Megawati Soekarnoputri di World Culture Forum

Denpasar, Bali 13 Oktober 2016

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam Damai Sejahtera bagi kita semua,

Syalom, Namo Buddhaya, Om Swastiastu.

 

Yang Mulia para Kepala Negara, para Kepala Pemerintahan, para Menteri Kebudayaan; Para Duta Besar, para tokoh dunia yang memberi sumbangsih besar dalam pembangunan kebudayaan; Budayawan dalam dan luar negeri, cendekiawan, Perwakilan Organisasi Non-Pemerintah, Perwakilan Organisasi Intra-Pemerintah, Pekerja Pers serta undangan sekalian yang berbahagia.

Selamat datang di Indonesia. Selamat datang di Pulau Bali. Selamat datang di Forum Kebudayaan Dunia. Terima kasih telah memilih Bali sebagai tempat kita berurun-rembuk dengan tema “Culture For an Inclusive Sustainable Planet”. Menurut saya, Bali adalah pilihan yang tepat. Bali memiliki spirit kehidupan yang berpegang teguh pada kebudayaan;  berakar kuat pada tradisi warisan leluhur. Nilai-nilai Trihita Karana sebagai contoh, keseimbangan manusia dengan Tuhan; manusia dengan alam raya; dan manusia dengan sesamanya. Trihita Karana merupakan cara pandang, pedoman hidup dan menjadi kehidupan masyarakat Bali. Dengan Trihita Karana, kebudayaan hadir sebagai pendulum-harmoni manusia untuk berinteraksi, bertumbuh kembang, bersinergi dengan semesta alam dan isinya, tanpa eksploitasi dan dominasi satu dengan lainnya.

Saudara-saudara,

Dalam pandangan saya, Trihita Karana, dan berbagai nilai budaya di Indonesia seperti Pela Gandong atau hidup saling bertoleransi, bergotong royong, yang hidup di Maluku; Mewayu Hayuning Bawono di Jawa, atau hidup untuk mempercantik dunia; Kesemuanya menjadi jalan kebudayaan yang mengilhami kerangka berpikir kita, dalam merumuskan konsepsi kebudayaan dunia. Konsepsi kebudayaan tersebut haruslah berkontribusi aktif terhadap upaya menciptakan perdamaian dunia, melestarikan lingkungan, menjaga ekosistem, sekaligus menerobos ruang-ruang beku dalam relasi global, yang saat ini lebih diwarnai oleh kepentingan modal dan hasrat kekuasaan semata. Kebudayaan, harus menjadi jalan bersama, agar bumi makin lestari, dan menjadi nafas kehidupan bagi semua.

Hadirin sekalian,

Pengalaman saya yang begitu lama di dunia politik telah mengajarkan, bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari politik. Politik sebagai jalan kebudayaan, telah diajarkan oleh Bapak Bangsa Indonesia, Bung Karno. Pada saat Beliau merumuskan dasar negara Republik Indonesia, Pancasila, pada tanggal 1 Juni 1945; Bung Karno menegaskan, bahwa dirinya bukanlah penemu Pancasila, tapi penggali Pancasila. Pancasila, yang mengandung lima prinsip sebagai dasar negara Indonesia, bersumber pada nilai dan praktek kebudayaan rakyat Indonesia, yang diwariskan turun temurun. Pancasila, lima prinsip dasar negara Indonesia, pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara Indonesia ialah negara yang setiap rakyatnya ber-Tuhan secara berkebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama. Indonesia adalah sebuah bangsa yang menjalankan agama dan kepercayaan dengan cara berkeadaban, yaitu saling hormat-menghormati satu sama lain.

Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.  Ketiga, Persatuan Indonesia (Nasionalisme). Keempat, Demokrasi yang berwatak Musyawarah Mufakat. Kelima, Keadilan Sosial. Lima Sila tersebut, jika diperas menjadi Trisila, Tiga Prinsip Dasar, yaitu: Ketuhanan, Sosio-Nasionalisme, dan Sosio-demokrasi.

Saudara-saudara,

Trisila, jika diperas lagi menjadi Ekasila, satu prinsip dasar. Inilah intisari dasar negara Indonesia, yaitu gotong royong (mutual co-operation). Gotong royong adalah sebuah paham yang sangat dinamis, yang menggambarkan suatu kerja kolektif, bahu membahu, saling membantu dalam menyelesaikan masalah dan menciptakan keadilan sosial. Inilah kepribadian Indonesia, Gotong Royong. Inilah hakekat kebudayaan sejati, yang menurut saya, juga diperlukan dalam relasi antar bangsa di era sekarang ini untuk masa depan dunia yang lebih baik!

Pancasila terbukti mampu menyatukan Indonesia yang terdiri dari  ratusan kelompok etnik dan lebih dari seribu suku. Pancasila adalah jalan kebudayaan kami, untuk bersatu menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Pancasila adalah jalan kebudayaan bagi bangsa Indonesia, untuk terlibat dalam politik luar negeri dengan prinsip bebas aktif. Bebas, artinya tidak menyatakan diri terikat dalam suatu kutub kekuatan manapun dalam geopolitik dan geo-ekonomi. Aktif artinya, melibatkan diri dalam membangun persaudaraan dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Prinsip inilah yang mendorong Indonesia terlibat penuh dalam kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah, seperti menjadi pelopor Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Konferensi tersebut membawa gelombang kemerdekaan bagi bangsa-bangsa di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin. Spirit yang sama membawa Indonesia dalam keputusan untuk menggalang kekuatan dunia, agar tidak terseret arus perang dingin Blok Barat dan Blok Timur, dengan mengadakan Konferensi Tingkat Tingi (KTT) Non Blok I di Belgrade, pada tahun 1961. Saya saat itu berusia 14 tahun. Saya hadir di KTT tersebut sebagai peserta termuda.

Dua peristiwa tersebut adalah bagian dari sejarah peradaban manusia yang tidak boleh dilupakan. Saya menaruh perhatian besar terhadap sejarah — kebenaran sejarah — karena kita tidak boleh menjadi kaum yang a historis. Sejarah adalah kekayaan kebudayaan manusia, yang menjadi modal sekaligus pisau analisa, untuk kehidupan yang lebih baik di masa sekarang dan yang akan datang. Indonesia bersama beberapa negara, telah berhasil memperjuangkan arsip Konferensi Asia Afrika ditetapkan sebagai Memory of The World. Demikian halnya terhadap Gerakan Non Blok. Saat ini juga, kami sedang memperjuangkan arsip KTT Non Blok pertama untuk ditetapkan sebagai Memory of The World oleh UNESCO pada tahun ini. Kami mengharapkan dukungan saudara semua. Kami berkeyakinan, dengan menjadikannya sebagai memori dunia, hal ini merupakan langkah penting untuk memberi keyakinan pada kita semua, bahwa cara damai dan diplomasi kebudayaan adalah jalan terbaik dalam menyelesaikan setiap konflik dalam hubungan antar bangsa.

Hadirin yang saya hormati,

Saya adalah saksi sejarah, bagaimana kebudayaan telah memecah kesunyian, keterasingan, dan ketertindasan. Jalan kebudayaan menjadi pondasi dalam politik pembangunan, yang membawa semangat pembebasan tidak hanya dalam konteks kemerdekaan terhadap imperialisme dan kolonialisme. Sesungguhnya, politik kebudayaan merupakan kunci terwujudnya demokrasi politik dan ekonomi. Kebudayaan merupakan alat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan-sejati setiap bangsa, yang benar-benar merdeka. Bangsa yang benar-benar merdeka, yaitu bangsa yang mencapai Trisakti: berdaulat di bidang politik, berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Melalui Forum Kebudayaan Dunia ini, saya mengajak anda semua untuk berurun-rembuk. Bergotong royong pikiran dan gagasan, bagaimana tradisi dan budaya setiap bangsa membentuk jati diri bangsa. Terlebih dalam arus deras modernitas, globalisasi dan pasar bebas, maka bangkitnya kebudayaan, dapat membawa pencerahan dan sekaligus gelombang perubahan yang berperikemanusiaan,  penuh solidaritas, serta berkeadilan sosial yang berbasis pada penghargaan terhadap alam dan ekosistem.

Saudara-saudara,

Mari kita sepakati definisi dan identifikasi masalah global yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Kita rumuskan langkah dan strategi dalam menghadapi masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial, dimulai dari pedesaan. Kita harus mencari jalan keluar bersama dari krisis air yang kini menjadi ancaman keberlangsungan hidup manusia. Krisis air  tidak dapat dipisahkan dari perubahan iklim, dan kedaulatan pangan. Tidak ada salahnya kita belajar dari masyarakat adat. Di berbagai pulau di Indonesia, banyak yang masih mempertahankan tradisi kearifan lokal untuk mempertahankan sumber mata air; juga tradisi bercocok tanam dengan mempelajari tanda-tanda alam dan membaca “bahasa buana”.

Mari kita cermati dan kaji perkembangan digital yang ada, agar tidak disalahgunakan untuk menyebarkan paham anti keberagaman, kejahatan keuangan, narkotika dan perdagangan manusia. Kesemuanya adalah persoalan yang mengikis derajat kebudayaan manusia. Perkembangan teknologi digital haruslah berwatak kebudayaan, semakin memanusiakan manusia. Teknologi digital seharusnya dapat memperkuat ikatan emosional antar bangsa, untuk menghargai perbedaan, dan menjadikan perbedaan bukan sebagai ancaman, namun kekuatan. Kekuatan digital harus menjadi sarana untuk melahirkan generasi muda yang tidak a-historis!

Hadirin yang saya hormati,

Saya kembali ke Pulau Dewata ini, tempat dimana kita berada saat ini, disini. Penduduk Bali pun sangatlah heterogen. Mereka terdiri dari berbagai suku, agama, dan ras.  Bahkan ada yang berwarga negara asing tinggal di Bali. Mayoritas rakyat Bali memeluk agama Hindu, dan salah satu hari besarnya adalah Nyepi. Nyepi adalah perayaan Tahun Baru Saka yang dirayakan tidak dengan pesta pora, tapi dengan penuh keheningan. Catur Brata Penyepian: amati geni (tidak menyalakan api), amati lelanguan (tidak berkegiatan), amati karya (tidak bekerja), dan amati lelungan (tidak bepergian). Bali adalah satu-satunya pulau di dunia, yang mampu “mengistirahatkan bumi” sehari penuh, secara total di setiap perayaan Nyepi. Sungguh indah, keheningan Nyepi di Pulau Bali. Alam pun melebur pada diri setiap manusia, manusia menyatu dengan semesta dalam “jeda setiap individu”. Hening, senyap, suci. Kesemuanya mengajak kita untuk melakukan introspeksi personal.

Menurut saya, andai saja kita dapat merekomendasikan dalam forum ini, suatu kesepakatan kebudayaan mendukung gerakan “Satu menit hening dalam Hari Bumi”. Makna Hari Bumi tersebut, dapatlah diperluas sebagaimana hari raya nyepi.

Dengan demikian, “Jeda individu”, menjadi “jeda kolektif”, dan selanjutnya, menjadi “jeda dunia”. Satu menit hening bagi seluruh umat manusia di dunia, setiap tahun. Hanya satu menit dalam satu tahun! Saya yakin kita bisa membuktikan, bahwa ternyata modernitas tidak akan mampu menenggelamkan manusia. Kemajuan tekhnologi tidak akan sanggup menjadikan manusia menjadi mahluk mekanik yang teralienasi dan teratomisasi. Coba kita bayangkan, “satu menit hening untuk bumi” yang dilakukan serentak di seluruh dunia, setahun sekali. Kita akan menemukan ruang introspeksi untuk kembali pada jati diri kita sebagai  manusia otentik. Inilah ruang untuk otokritik dari perjalanan hidup yang telah kita pilih. Akan terjadi satu menit perenungan dunia yang dilakukan seluruh warga bangsa. Dunia kembali pada pertanyaan yang sangat filosofis: “siapa kita”, ‘bagaimana bumi kita”, “hendak dibawa kemana planet bumi ini?”

Saya percaya, bukan hal yang mustahil dengan “satu menit hening untuk bumi”. Satu menit yang membawa harapan agar  semua konflik dan pertentangan, termasuk penindasan, pemiskinan, kekerasan dengan alasan apa pun, termasuk juga peperangan dapat menemukan solusi, yaitu berakhir dengan cara damai.

Saudara-saudara,

Semua hal-hal di atas saya yakin dapat kita wujudkan, jika kita bersepakat untuk membangkitkan kebudayaan, berupa kehidupan kebudayaan yang berkepribadian, serta kokohnya identitas dan jati diri budaya setiap bangsa.

Sekali lagi, saya tegaskan, jalan kebudayaan itulah yang harus kita pilih, untuk terciptanya sebuah tatanan dunia baru yang terbuka dan berkelanjutan: “suatu dunia yang sehat dan aman. Suatu dunia yang setiap orang dapat hidup dalam suasana damai. Suatu dunia, tempat keadilan dan kemakmuran dapat dirasakan setiap orang. Suatu dunia, tempat kemanusiaan mendapatkan kejayaan yang penuh, yaitu dunia sebagai taman sari kebudayaan bangsa-bangsa!”.

Tatanan dunia yang seperti itulah yang diusulkan oleh Bung Karno pada tanggal 30 September 1960, yang terkenal dengan judul pidato: “To Build The World A New”. Suatu pemikiran visioner yang disampaikan pada abad 20, kini semakin terasa relevansinya di abad 21 ini. Keseluruhan jalan untuk kehidupan planet bumi yang berkelanjutan, saya yakini, bisa bertitik tolak dari Pancasila sebagai sumber kebudayaan.

 

Terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Om Santi Santi Om

Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!

 

Megawati Soekarnoputri

PRESIDEN KELIMA REPUBLIK INDONESIA