oleh

Pidato Bung Karno Bekal Setiap Bangsa untuk Menata Kehidupan Lebih Baik

-Berita Terkini, Kronik-79 kali dibaca

JAKARTA – Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menyebut tiga pidato Presiden pertama RI Soekarno sebagai “Tiga Tinta Emas Abad 20”.

Tiga pidato itu berjudul “Unity in Diversity Asia Africa” saat Konferensi Asia Afrika (KAA) p18-24 April 1955 di Bandung, “To Build The World a New” pada Sidang Umum PBB 1960, dan   pidato “New Emerging Forces” pada KTT Non Blok di Beograd, Serbia, tahun 1961.

Menurut Megawati, ketiga pidato Soekarno adalah bekal setiap bangsa untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan.

“Saatnya kita harus menengok dan mau belajar dari sejarah. Jelas bukan hanya Indonesia, tapi dunia yang membutuhkan arsip pidato Bung Karno sebagai ingatan kolektif,” ujar Megawati, saat memberikan sambutan peluncuran buku ‘Pidato 29 Pemimpin Asia Afrika di Konferensi Asia Afrika 1955’ di Auditorium LIPI, Jakarta, Selasa (17/4/2018).

Megawati mengatakan, konferensi KAA di Bandung merupakan salah satu peristiwa penting abad 20. KAA diikuti 200 delegasi dari 29 negara. Saat itu, kata Megawati, Soekarno menekankan tidak ada tugas yang lebih penting daripada memelihara perdamaian.

“Tanpa perdamaian, kemerdekaan kita jadi tidak bermakna. Perbaikan dan pembangunan negara kita kehilangan makna,” kata Megawati, menirukan pidato Soekarno.

Pada pidatonya di Sidang Umum PBB, lanjut Megawati, Soekarno mengungkapkan, dirinya tidak menginginkan dunia dibelah dalam dua blok.

Bung Karno menginginkan adanya suatu tata dunia baru dan semangat “to build the world anew”. “Dunia yang kokoh, kuat dan sehat. Dunia tempat semua hidup dalam damai dan persaudaraan,” tuturnya.

Sementara itu, dalam KTT Non-Blok di Beograd, Soekarno menegaskan politik non-blok adalah pembaktian Indonesia secara aktif kepada perjuangan yang luhur untuk kemerdekaan, perdamaian, keadilan sosial dan kebebasan untuk merdeka.

Pada kesempatan itu, Megawati menceritakan pengalamannya saat menjadi delegasi termuda dalam KTT Gerakan Non Blok di Beograd.  Saat itu ia mendampingi ayahnya, Presiden pertama RI Soekarno.

Menurut Megawati, ketika hadir dalam konferensi umurnya masih berusia 14 tahun. “Saya adalah delegasi termuda. Masih terekam jelas dalam ingatan bagaimana peristiwa penting itu terjadi, yang juga membentuk karakter saya dalam berpolitik,” ungkapnya.

Megawati mengungkapkan bahwa dirinya rindu perdebatan argumentatif para pemimpin bangsa yang penuh martabat, saling menghormati sekaligus rasional dan penuh belarasa.

“Saya saksikan, saya ikuti dan saya catat langsung perdebatan antara tokoh tokoh pelopor Gerakan Non-Blok,” ungkapnya.

Selain Soekarno, dalam konferensi tersebut hadir Presiden Yugoslavia Joseph Broz Tito, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Presiden Mesir Gamal Abdul Naser dan Presiden Ghana Kwame Nkrumah.

Kelima tokoh tersebut memainkan peran penting pula dalam Sidang Umum PBB ke XV. “Saya jadi delegasi termuda waktu itu. Saya harus duduk dengan Nasser dan Nehru, rasanya usia saya tambah tua,” kata Megawati. (goek)