BANYUWANGI – Memperingati Hari Santri Nasional, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menggelar berbagai rangkaian kegitan. Salah satunya kegiatan Entrepeneur Santri yang memberi bekal wawasan mengenai peluang ekonomi digital bagi para santri.
Kegiatan itu diikuti oleh 100 santri dari 52 pondok pesantren se-Banyuwangi. Dalam kegiatan itu para santri mendapatkan pembekalan mulai dari pengelolaan konten media sosial, dan pemanfaatan program afiliasi (affiliate marketing) sebagai peluang usaha di era teknologi.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan penyelenggaraan Entrepreneur Santri untuk menyiapkan santri agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai yang diajarkan pesantren. Khususnya, setelah mereka selesai menimba ilmu di pondok pesantren.
“Santri hari ini harus memiliki bekal yang lengkap. Selain memperdalam ilmu agama, santri juga perlu memahami perkembangan dunia digital dan peluang ekonomi yang lahir darinya. Pengetahuan ini penting sebagai bekal ketika nanti mereka terjun di masyarakat,” ujar Ipuk.
Ipuk menegaskan, pendidikan pesantren memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang berkarakter, berakhlak, sekaligus produktif. Karena itu, santri perlu dikenalkan pada berbagai peluang usaha yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
“Perkembangan teknologi digital telah membuka ruang usaha yang semakin luas dan dapat diakses oleh siapa saja termasuk lulusan pesantren,” jelas Ipuk.
“Dengan memahami ekosistem digital sejak dini santri diharapkan mampu menciptakan peluan kerja, mengembagkan usaha mandiri hingga menjadi agen pemberdayaan ekonomi ditengan masyarakat,” lanjut politisi PDI Perjuangan itu.
Kegiatan Enterpreneur santri tersebut menghadirkan empat orang narasumber. Di antaranya, Muhammad Tristan Azaria, seorang content creator, pengajar public speaking dan mentor Masjid Affiliate Al-Kahfi Bandung.
Menurut Tristan, sapaan akrabnya, untuk memulai terjun ke dunia digital harus memiliki growth mindset; berani memulai meski dalam kondisi yang tidak ideal.
“Jangan bandingkan proses orang lain dengan diri sendiri yang sekarang jago dulunya juga amatir,” ujar Tristan.
Ia juga menyampaikan konten yang baik adalah konten yang memiliki value untuk menjadi alasan utama seseorang harus menonton, membaca atau membagikan konten, karena konten tanpa value hanya akan dilewati begitu saja.
“Value bisa memberikan informasi, wawasan, kerampilan, menyentuh emosi atau menjadi solusi,” ujarnya.
Selain Tristan, juga ada affiliator lokal Banyuwangi yang ikut menjadi pemateri. Yakni, Ade Apriansyah, affiliator Tiktok Level 6. Level ini menandakan kretaor tersebut memiliki omset atau volume penjualan yang cukup besar biasanya mencapai ratusan juta rupiah perbulan.
“Menjadi seorang affiliator menawarkan banyak keuntungan, terutama bagi pemula yang ingin terjun ke dunia digital. Kelebihan utamanya adalah modal minim dan resiko rendah. Pendaftaran program ini umumnya gratis dan tidak perlu menyetok barang ataupun mengurus proses pengiriman,” terangnya.
Saat ini Ade memiliki winning product atau produk terlaris yakni casing handphone, yang bisa terjual hingga ribuan buah setiap bulannya.
“Sebagai santri bisa menjadi affiliate dengan mulai menawarkan barang yang familiar yang ada di sekitar seperti hijab, sarung dan lainnya,” ujarnya.
Selain itu dua orang pemateri lainnya adalah Anggrita Putra Utama yang juga seorang praktisi digital sekaligus Pengelola Akun Masjid Affiliate Al Kahfi Bandung dan Vicky Hendri Kurniawan, affiliator Banyuwangi. (ars/set)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













