oleh

PDIP Saudi Terima Pengaduan TKI Korban Trafficking

pdip-jatim-ilustrasi-korban-traffickingJEDDAH – “Pak . . . tolong saya, saya ingin pulang. Saya tidak mau dibawa ke kantor Pak, saya takut,” ujar YA, TKI asal Lombok Tengah NTB sambil menangis saat sedang berbicara dengan Ketua Dewan Perwakilan Luar Negeri (DPLN) PDI Perjuangan Saudi Arabia Sharief Rachmat melalui sambungan telepon.

Pada Kamis (26/5/2016) dini hari, DPLN PDI Perjuangan Saudi Arabia melalui Sadiri Sadimun Paki, Wakil Ketua Bidang Hubungan Lembaga Perwakilan RI dan pemerintah setempat, menerima pengaduan dari salah satu TKI asal Lombok Tengah NTB, yang dipekerjakan PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga) di Kota Al Buraidah, Saudi Arabia.

Usai menerima pengaduan tersebut, Sadiri Sadimun langsung berkoordinasi dan melaporkan ke Sharief Rachmat selaku Ketua DPLN PDI Perjuangan Saudi Arabia. Dari hasil pembicaraan Sharief dengan YA, pihaknya mengarai TKI asal NTB tersebut korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) atau korban trafficking.

“Sebagaimana diketahui, pemerintah RI telah menghentikan penempatan TKI sektor rumah tangga ke negara – negara Timur Tengah yang di antaranya Saudi Arabia,” jelas Sadiri, sebagaimana siaran pers yang diterima media PDI Perjuangan Jatim, Kamis (26/5/2016).

YA diberangkatkan PT PTM ke Saudi Arabia dan direkrut perusahaan MHR pada 15 November 2015. “Perusahaan tersebut memperjualbelikan YA dari satu majikan ke majikan lain untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga,” sambungnya.

Sadiri pun melanjutkan, gaji yang diterima YA bervariasi, terkadang 900 riyal Saudi atau 1.100 riyal Saudi. YA mengaku bahwa sebelum diberangkatkan ke Saudi Arabia, dia telah minta kepada PT untuk dipekerjakan ke Singapura. Tetapi pihak PT mengatakan bahwa penempatan TKI ke Singapura telah ditutup, dan mengirim YA ke Saudi Arabia.

YA pun juga mengungkapkan bahwa masih banyak teman – temannya yang bernasib sama di perusahaan MHR kota Riyadh. “Mereka semua dalam kondisi tertekan dan minta bantuan agar dapat dipulangkan ke Indonesia,” ungkap Sadiri.

“Data YA sudah kami himpun, begitu juga telah kami ketahui lokasi keberadaannya. Kami akan segera melaporkan ke KBRI Riyadh, agar YA beserta rekan – rekannya dapat diselamatkan,” tambah dia.

DPLN PDI Perjuangan Saudi Arabia memutuskan untuk tidak mempublikasikan identitas lengkap YA maupun pihak PT dan perusahaan. Hal ini bagian dari upaya menghindari hal – hal yang tidak diinginkan termasuk agar tidak ada upaya penghilangan jejak.

Identitas lengkap YA hanya akan diberikan kepada DPP PDI Perjuangan, pemerintah pusat, dan Perwakilan RI di Saudi Arabia.

YA yang saat ini sedang berkabung atas meninggal anaknya, telah diminta oleh DPLN PDI Perjuangan Saudi Arabia agar berusaha untuk tenang, agar tidak diketahui pihak majikan atau perusahaan bahwa dia telah melaporkan kasusnya. (goek)