PACITAN – Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini mendorong Kabupaten Pacitan mengoptimalkan kekayaan wisata alam dan desa wisata agar tidak hanya menjadi tujuan kunjungan, tetapi berkembang menjadi destinasi incentive trip berkelas nasional.
Menurut Novita, Pacitan sebenarnya telah memiliki modal kuat berupa destinasi alam, desa wisata serta daya tarik budaya. Tantangannya kini adalah mengemas berbagai potensi tersebut menjadi pengalaman wisata yang terintegrasi sehingga mampu membuat wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang di daerah.
Dorongan tersebut disampaikan Novita dalam Workshop bertema Optimalisasi Potensi Pariwisata Daerah sebagai Daya Tarik Tujuan Wisata Perjalanan Insentif (Incentive Trip) di Pantai Ngiroboyo dan Desa Wisata Sendang, Pacitan, Rabu (26/8/2026).
“Pacitan sudah memiliki pasar dan magnet wisata yang nyata. Tetapi pekerjaan kita bukan sekadar mengejar jumlah pengunjung. Kita harus membuat orang punya alasan untuk datang kembali, tinggal lebih lama, dan membelanjakan lebih banyak uangnya di Pacitan,” ujar Novita.
Politisi PDI Perjuangan tersebut menilai konsep incentive trip memiliki karakter berbeda dengan wisata biasa. Wisatawan, khususnya rombongan perusahaan maupun komunitas, tidak cukup hanya mengunjungi satu objek wisata, berfoto kemudian pulang.
Menurutnya, yang perlu dijual adalah pengalaman wisata yang menyeluruh dengan menggabungkan destinasi, aktivitas, kuliner, budaya dan produk ekonomi lokal.
“Bayangkan sebuah perusahaan membawa tim terbaiknya ke Pacitan. Pagi menikmati pantai, siang melakukan kegiatan kebersamaan, sore menyusuri sungai atau menikmati gua, malam makan bersama dengan sajian UMKM lokal dan pertunjukan budaya,” jelasnya.
Dengan konsep tersebut, wisatawan tidak hanya menikmati destinasi, tetapi juga membawa pulang pengalaman, produk lokal, cerita dan kenangan dari Pacitan.
Dorong Lama Tinggal Wisatawan
Novita mengatakan pengembangan incentive trip dapat memperpanjang rantai ekonomi pariwisata. Pengeluaran wisatawan tidak hanya terkonsentrasi di objek wisata, tetapi juga mengalir ke hotel, transportasi, kuliner, UMKM, pemandu wisata hingga perajin produk lokal.
Data Dinas Pariwisata yang tercantum dalam Kabupaten Pacitan Dalam Angka menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan pada 2023 mencapai sekitar 1,3 juta kunjungan. Pada 2024, tercatat sekitar 1,14 juta kunjungan.
Salah satu magnet utama adalah Pantai Klayar yang mencatat sekitar 215 ribu kunjungan pada 2024.
Menurut Novita, tingginya angka kunjungan tersebut perlu diikuti strategi untuk mengarahkan wisatawan agar tidak berhenti di satu destinasi.
“Semakin lama wisatawan tinggal, semakin banyak pintu ekonomi yang terbuka,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong agar wisatawan yang datang ke Pacitan memiliki pilihan perjalanan yang menghubungkan berbagai destinasi. Pantai, gua, sungai, desa wisata, kuliner, budaya dan UMKM dapat dikemas menjadi satu pengalaman perjalanan.

Empat Langkah Pacitan Naik Kelas
Untuk memperkuat posisi Pacitan sebagai destinasi incentive trip, Novita menawarkan empat agenda.
Pertama, pemerintah dan pelaku pariwisata perlu menyiapkan paket wisata yang siap dijual. Paket tersebut dapat dibuat untuk perjalanan dua hari, tiga hari atau lebih dengan mengintegrasikan destinasi, hotel, transportasi, kuliner, aktivitas kebersamaan, budaya dan UMKM.
Kedua, meningkatkan kualitas pelayanan. Menurut Novita, pemandu wisata, pengelola destinasi, hotel, rumah makan, penyedia transportasi hingga pelaku usaha oleh-oleh merupakan bagian dari wajah pariwisata Pacitan.
Ketiga, memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, Kementerian Pariwisata, DPR RI, industri pariwisata, agen perjalanan, hotel, komunitas, desa wisata, UMKM dan generasi muda.
Keempat, mengubah strategi promosi. Promosi wisata, kata dia, jangan hanya menjual pemandangan, tetapi juga pengalaman.
“Anak-anak muda Pacitan punya kemampuan luar biasa membuat konten. Jangan hanya menjual foto pantai yang cantik. Mari kita jual pengalaman bagaimana rasanya menikmati sunrise, kuliner khas, menyusuri Maron, menikmati Goa Gong hingga merasakan kebersamaan dalam perjalanan yang tidak ditemukan di tempat lain,” katanya.
Pariwisata Harus Berdampak ke Ekonomi Warga
Novita menegaskan pariwisata pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai destinasi, tetapi juga manusia dan ekonomi masyarakat yang berada di sekitarnya.
Menurutnya, ketika wisatawan datang dalam jumlah besar dan tinggal lebih lama, manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih banyak pelaku usaha.
“Wisata bukan hanya tentang tempat. Ada bapak yang membuka warung, ibu yang menyiapkan makanan khas, pemuda yang menjadi pemandu, dan pengrajin yang membuat cendera mata,” tuturnya.
Ia berharap pengembangan pariwisata Pacitan tetap mempertahankan identitas lokal. Pacitan tidak perlu meniru daerah lain karena kekuatan utamanya justru terletak pada keaslian dan karakter masyarakatnya.
“Kita tidak perlu minder. Pacitan punya identitas yang kuat. Kita tidak harus menjadi seperti daerah lain. Justru kekuatan kita ada pada keaslian Pacitan,” ujarnya.
Novita juga mengapresiasi dukungan Kementerian Pariwisata serta komitmen Pemerintah Kabupaten Pacitan dalam mengembangkan sektor pariwisata.
Ia berharap workshop tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi ditindaklanjuti melalui paket wisata baru, kolaborasi konkret serta strategi promosi yang mampu meningkatkan lama tinggal dan belanja wisatawan.
“Saya percaya Pacitan tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengemas potensi, konsistensi meningkatkan kualitas, dan kemauan berjalan bersama. Mari kita jadikan Pacitan bukan sekadar tempat yang indah untuk dikunjungi, tetapi tempat yang dirindukan untuk didatangi kembali,” pungkas Novita. (goek)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












