MAGETAN – Penyerbuan sekelompok massa terorganisir ke kantor DPP PDI di Jakarta pada 27 Juli 1996 (kudatuli), berimbas ke daerah-daerah. Sejumlah pendukung PDI Pro Mega di berbagai daerah mendapatkan tekanan dan ancaman.
Intimidasi dialami keluarga almarhum Sihmadi, warga Desa dan Kecamatan Nguntoronadi pada saat itu seperti dituturkan kedua putranya, kakak dan adik, Iwan dan Rudi, saat ditemui Selasa (27/7/2021).
“Gara gara kasus kudatuli bapak saya yang waktu PNS (pegawai negeri sipil) itu diancam akan dipecat gara-gara teguh pada jiwa Marhaen-nya. Bapak tidak mau berpaling dari gerakan Pro Mega,” ujar Iwan, mantan caleg PDI Perjuangan 1999 ini.
Saat itu, menurut Iwan dan Rudi, hampir setiap hari keluarganya kedatangan tamu baik dari aparat keamanan maupun pengurus parpol pemenang pemilu era itu. Mereka meminta orang tua dan keluarganya untuk mendukung partai pemenang lantaran status PNS yang disandang almarhum Sihmadi. “Namun ajakan itu selalu ditolak bapak,” katanya.
“Namun apa jawab bapak saya? Saya hidup sampai mati tetap berjiwa Marhaen. Apabila apa yang saya yakini salah saya siap dipecat dari PNS sekarang juga,” kata Iwan menirukan ucapan bapaknya.
Tak hanya bapaknya, Iwan dan Rudi pun kerap mendapat tekanan.
“Suatu waktu kami memakai kaos bergambar Mega. Saat di jalan, kami dihentikan dan diminta untuk melepas kaos,” ungkapnya. “Bahkan dengan dikawal aparat, kami diminta melepas gambar-gambar yang ditempel di pohon dan diminta memusnahkannya,” imbuhnya.
Saat ini, Iwan dan Rudi hanya berharap kasus kudatuli dituntaskan untuk bisa diungkap aktor-aktor di balik peristiwa Sabtu kelabu tersebut.
Iwan dan Rudi mengatakan, keluarganya tetap mendukung PDI Perjuangan sebagai tranformasi dari PDI Pro Mega. (rud/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










